Nihayatul 'Uqul fi Dirayatil Ushul karya Imam Fakhruddin Ar-Razi:
[Sampul Kitab]
Nihayatul 'Uqul fi Dirayatil Ushul Karya: Al-Imam Fakhruddin Muhammad bin 'Umar Ar-Razi (543 - 606 H) Tahqiq: Dr. Sa'id 'Abdul Latif Foudeh Jilid Empat - Dar Al-Dzakha'ir
[Halaman 272 (Sebelah Kanan)]
Adapun mengenai konsekuensi (At-Thard): Para sahabat (ulama) kami berselisih pendapat mengenai banyak sifat Allah Ta'ala. Dan tidak diragukan lagi bahwa kebenaran pada setiap masalah tersebut hanya satu. Orang yang menyelisihi kebenaran tersebut berarti tidak mengetahui (jaahil) sifat Allah Ta'ala, sehingga mewajibkan kita untuk mengkafirkan ulama kami.
Dan kami katakan: Sesungguhnya ulama kami berselisih pendapat tentang banyak sifat Allah Ta'ala; karena Abu Al-Hasan (Al-Asy'ari) rahimahullah menetapkan Al-Baqā’ (kekekalan) sebagai sifat tambahan, sedangkan Al-Qadhi rahimahullah menafikannya.
Juga, Abu Al-Hasan dan Al-Qadhi serta banyak ulama menetapkan bagi Allah Ta'ala:
- Persepsi (idrāk) yang berkaitan dengan hal-hal yang dicium,
- Persepsi kedua yang berkaitan dengan hal-hal yang dirasa/dikecap,
- Dan persepsi ketiga yang berkaitan dengan hal-hal yang disentuh. Sementara Al-Ustadz Abu Ishaq cenderung menafikannya.
Dan 'Abdullah bin Sa'id menetapkan sifat Al-Qidam (kuno/tanpa permulaan) […], sedangkan mayoritas ulama menafikannya.
'Abdullah bin Sa'id juga berpendapat bahwa […] jenis ini memiliki banyak sifat lain, sementara yang lain berpendapat bahwa itu adalah bagian dari sifat-sifat perbuatan.
[Halaman 273 (Sebelah Kiri)]
Prinsip Kesembilan Belas: Mengenai Nama-Nama dan Hukum-Hukum
Imam Al-Haramain meriwayatkan dari Abu Sahl Ash-Shu'luki — salah seorang ulama kami — bahwa ia menetapkan bagi Allah Ta'ala ilmu-ilmu yang tidak ada batas akhirnya, sedangkan mayoritas ulama lain menafikannya.
Abu Al-Qasim Al-Isfarrayini meriwayatkan dari banyak ulama terdahulu kami bahwa mereka menetapkan lima kalimat bagi Allah Ta'ala: perintah, larangan, berita, pertanyaan, dan panggilan. Sementara mayoritas ulama berpendapat bahwa semua itu adalah satu Kalam saja.
Al-Ustadz Abu Ishaq mengklaim bahwa Allah Ta'ala tidak menempati suatu tempat (hayyiz) bukan karena suatu alasan/makna tertentu, sebagaimana substansi (al-jauhar) berada di suatu tempat karena suatu alasan. Para ulama sepakat menolak hal tersebut.
Para ulama juga berselisih pendapat mengenai sifat-sifat khabariyyah seperti Tangan dan Wajah. Abu Al-Hasan berpendapat bahwa itu adalah sifat-sifat yang berdiri pada Dzat Allah Ta'ala selain dari sifat-sifat yang delapan, sedangkan Al-Qadhi cenderung menafikannya.
Abu Al-Hasan juga mengklaim bahwa Al-Istiwa' adalah sifat yang berdiri pada Dzat Allah Ta'ala, sedangkan yang lainnya menafikannya.
Penolak konsep Al-Ahwal (keadaan) dari kalangan ulama kami sepakat bahwa keadaan Allah Ta'ala Maha Mengetahui ('Aalimiyyah) adalah ilmu-Nya itu sendiri, Maha Kuasa (Qadiriyyah) adalah kekuasaan-Nya itu sendiri, dan Maha Menghendaki (Muridiyyah) adalah kehendak-Nya itu sendiri. Sedangkan mereka yang menetapkan Al-Ahwal sepakat bahwa keadaan Allah Maha Mengetahui disebabkan (ma'lullah) oleh ilmu-Nya, dan keadaan-Nya Maha Kuasa disebabkan oleh kekuasaan-Nya.
Maka atas dasar ini, mereka yang menetapkan Al-Ahwal telah menetapkan bagi-Nya tujuh keadaan beserta tujuh sifat.