Sulitnya menggabungkan antara ilmu dunia dan akhirat
Imam Al-Ghazali Rahimahullah menjelaskan bahwa akal seseorang itu tidak bisa menguasai ilmu-ilmu dunia dan akhirat sekaligus. Keduanya adalah ilmu yang saling bertentangan. Jika seseorang mencurahkan perhatian dan pikirannya untuk salah satunya, berkuranglah kadar ilmu satunya lebih banyak. Oleh karena itu, Ali Radhiyallahu Anhu membuat tiga permisalan untuk dunia dan akhirat. Keduanya seperti dua daun timbangan dan seperti timur dan barat juga seperti dua perempuan yang dimadu yang jika engkau senangkan salah satunya, engkau membuat tidak suka yang satunya. Oleh karena itu, jika engkau mendapati orang yang mendalam ilmu dunianya seperti ilmu kedokteran dan teknik misalnya, dia tidak begitu paham perkara-perkara akhirat. Demikian pula, jika engkau dapati orang yang mendalam ilmu agama, umumnya tidak mengerti ilmu dunia. Ini semua karena akal tidak bisa memenuhi kebutuhan ilmu agama dan dunia secara bersamaan, sehingga salah satu menjadi penghalang kesempurnaan ilmu satunya.
( diringkas dari Faidhul Qadir II/79)
Hukum di atas berlaku secara umum, artinya ada juga orang yang bisa menggabungkan ilmu dunia secara mendalam sekaligus paham ilmu agama. Namun, yang seperti ini jarang dijumpai sehingga tidak bisa dijadikan acuan hukum karena hukum diambil dari keumuman. Dengan demikian, jika seseorang ingin mendalami salah satu ilmu baik itu ilmu dunia atau akhirat, maka harus ada yang dimenangkan salah satunya. Menggabungkan memang memungkinkan akan tetapi sulit untuk bisa mendalam. Disamping itu, waktu dan pikiran yang dicurahkan untuk ilmu dunia -misalnya- tentu akan mengurangi kesempatan untuk menambah ilmu akhirat. Satu jam yang dicurahkan untuk mempelajari ilmu dunia, menyebabkan terluputnya ilmu akhirat dalam kadar waktu tersebut. Ini juga berlaku untuk sebaliknya.
Allahu a'lam
Semoga Allah beri kita taufik.
Baarakallahu fiikum
Ustadz agus waluyo
Mudir ma'had darusalam yogyakarta