Senin, 14 September 2026

Keindahan Wanita Arab

Keindahan Wanita Arab

Di salah satu majelis Raja Kisra, Abarwiz berbicara tentang keindahan wanita Arab. Di majelis itu hadir seorang pria Arab bernama Zaid bin Adi yang menyimpan dendam lama, sebab Raja An-Nu'man bin al-Mundzir pernah mengkhianati dan membunuh ayahnya, Adi bin Zaid, secara zalim.

Zaid memanfaatkan kesempatan itu dan berkata kepada Kisra: "Wahai Raja, An-Nu'man memiliki lebih dari 20 wanita—terdiri dari putri-putri, saudara-saudara perempuan, dan sepupu-sepupunya—yang semuanya merupakan wanita Arab dengan paras paling mempesona."

Perkataan ini membangkitkan keserakahan Kisra, sehingga ia mengutus utusan kepada An-Nu'man untuk meminta salah satu putrinya dijadikan selir. Namun, An-Nu'man menolaknya dengan keras; ia lebih memilih mati daripada menyerahkan seorang wanita Arab merdeka kepada raja asing (a'jam)!

Kisra pun murka dan memanggilnya ke istana. An-Nu'man yang menyadari bahwa ajalnya telah dekat, menitipkan putrinya kepada Hani bin Mas'ud asy-Syaibani, pemimpin suku Bani Syaiban, sebelum berangkat menghadap Kisra hingga akhirnya ia dihukum mati.

Setelah itu, Kisra mengirim utusan kepada Hani untuk menuntut penyerahan gadis tersebut. Namun, Hani menolak mentah-mentah dan mengucapkan kalimatnya yang abadi: "Harga diri kami menolaknya, dan cemburu pembelaan kami mencegah kami untuk menyerahkan wanita Arab merdeka kepada bangsa asing!"

Kemurkaan Kisra semakin memuncak, lalu ia memerintahkan pengiriman pasukan besar di bawah pimpinan al-Hamarz at-Tustari, sang Marzban Agung, untuk menundukkan orang-orang Arab dan merebut gadis itu.

Di sinilah momen penentu terjadi.

Suku-suku Arab berkumpul dari segala penjuru: Bakr, Rabi'ah, 'Abs, Dzubyan, Ghatafan, Hawazin, dan Tamim. Mereka melupakan perselisihan lama demi disatukan oleh kehormatan dan rasa cemburu membela harga diri. Di antara para ksatria yang menyambut panggilan martabat ini adalah: 'Urwah bin al-Ward, Sakhr bin 'Amr, Duraid bin ash-Shimmah, 'Amr bin Wudd, serta para pemberani Arab lainnya.

Bertempurlah mereka dalam perang dahsyat di tanah Dzi Qar, salah satu pertempuran paling sengit dalam sejarah Arab sebelum Islam. Meskipun bangsa Persia unggul dalam jumlah dan persenjataan, orang-orang Arab bertempur dengan keberanian langka dan keteguhan hati, hingga pertempuran berakhir dengan kemenangan mutlak di pihak Arab serta terbunuhnya panglima Persia, al-Hamarz at-Tustari.

Dzi Qar menjadi kemenangan pertama bangsa Arab atas Persia, yang meletus bukan karena tamak akan harta rampasan perang atau wilayah, melainkan demi membela kehormatan seorang wanita Arab yang membangkitkan jiwa ksatria di dada para pria.

Di Dzi Qar, darah menetes dan panji-panji berkibar demi sebuah martabat.

(Sumber: Tarikh at-Thabari / Al-Kamil fi at-Tarikh karya Ibn al-Atsir)