Rabu, 16 September 2026

Setiap sesuatu yang baru memiliki kelezatan tersendiri

JENUH DAN MENCOBA HAL-HAL BARU

Jiwa manusia mudah jenuh terhadap yang berulang, dan mudah terpikat oleh yang baru. Di situlah ujian bermula: apakah ia mencari pembaruan dalam kebaikan, atau mencari kebaikan dalam setiap hal yang baru.

Awalnya, jenuh mengkaji hal yang itu-itu saja: tauhid, akidah, dan manhaj. Lalu jiwa mulai mencari sesuatu yang baru, karena kebaruan memiliki kelezatan yang menggoda. Hingga tanpa disadari, pencarian itu menyeretnya kepada bid‘ah.

Imam Asy-Syatibi -rahimahullah- berkata: “ Dan (alasan lain manusia berbuat bid'ah, pent.) Juga, sesungguhnya jiwa-jiwa manusia terkadang merasa bosan dan jenuh jika terus-menerus melakukan ibadah yang telah tersusun dan rutin. Maka, apabila diperbarui baginya suatu perkara yang belum pernah dikenalnya, muncul semangat baru yang sebelumnya tidak ada ketika terus berada pada perkara yang pertama. Oleh karena itu, mereka mengatakan:

لِكُلِّ جَدِيدٍ لَذَّةٌ

‘Setiap sesuatu yang baru memiliki kelezatan tersendiri.’

Berdasarkan makna ini, ada yang mengatakan: sebagaimana manusia mendapatkan hukuman-hukuman baru sesuai dengan banyaknya kadar kemaksiatan yang mereka lakukan, demikian pula mereka mendapatkan berbagai hal yang mendorong mereka kepada kebaikan sesuai dengan kadar futur (kelesuan) yang menimpa mereka.

Dan dalam hadis Mu‘adz bin Jabal رضي الله عنه disebutkan:

‘Hampir saja ada seseorang yang berkata: “Mereka tidak akan mengikutiku.” Maka ia pun membuat sesuatu yang baru bagi mereka selain Al-Qur’an yang telah aku ajarkan kepada mereka. Maka mereka pun mengikutinya. Karena itu, jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang diada-adakan, sebab apa yang diada-adakan itu adalah kesesatan.’”

[Al-I'tisham, (I/49) Tahqiq: Syaikh Masyhur Alu Salman, cet Ad-Dar Al-Atsariyah]

Dika Wahyudi 
16 September 2026
4 Rabiul Akhir 1448 H