KETIKA AR-RAZI MENYEBUT PLATO DENGAN GELAR "AL-IMAM" DAN MEMBELA TESISNYA
Dalam kajian ilmu kalam dan turots falsafi, pergeseran pemikiran Imam Fakhruddin ar-Razi (w. 606 H) pada fase akhir hidupnya menarik untuk dicermati. Salah satu yang paling menonjol di kitab pamungkasnya, "Al-Mathalib al-'Aliyyah", adalah pembelaan dan adopsi terbukanya terhadap metafisika Plato (Aflatun) dalam menghadapi dominasi filsafat Peripatetik Aristotelian.
Bukan sekadar mengutip, Ar-Razi bahkan menyematkan gelar "Al-Imam" dan "Al-Ilahi" kepada Plato, serta memenangkan tesis-tesisnya terkait entitas abstrak dan hakikat zaman.
Berikut beberapa nukilan otentik dari karya beliau:
1. Kitab Al-Mathalib al-'Aliyyah min al-'Ilm al-Ilahi
Jilid 7, Halaman 29 (Penetapan entitas immateriil / Al-Muthul):
«فَثَبَتَ بِهَذَا الْبُرْهَانِ: وُجُودُ مَوْجُودَاتٍ مُجَرَّدَةٍ فِي الْأَعْيَانِ، وَهِيَ الَّتِي كَانَ يَقُولُ بِهَا الإِمَامُ أَفْلَاطُونُ، وَكَانَ يُسَمِّيهَا بِالْمُثُلِ الْمُجَرَّدَةِ، وَاللهُ أَعْلَمُ»
"Maka terbukti secara pasti dengan burhan (argumen rasional) ini: adanya entitas-entitas immateriil (al-maujūdāt al-mujarradah) dalam realitas objektif eksternal (fī al-a'yān). Inilah pendapat yang dipegang oleh al-Imam Plato, dan ia menamakannya dengan ide-ide immateriil (al-muthul al-mujarradah). Wallāhu a'lam."
Jilid 5, Halaman 52 (Hakikat zaman/waktu & pembelaan atas mazhab Plato):
«بَلْ عِنْدِي: أَنَّ هَذَا الْقَوْلَ أَقْرَبُ الْأَقْوَالِ الْمَذْكُورَةِ فِي مَاهِيَّةِ الزَّمَانِ وَفِي حَقِيقَتِهِ، وَهُوَ مَذْهَبُ الإِمَامِ أَفْلَاطُونَ... وَأَمَّا مَذْهَبُ الإِمَامِ أَفْلَاطُونَ فَهُوَ إِلَى الْعُلُومِ الْبُرْهَانِيَّةِ أَقْرَبُ، وَعَنْ ظُلُمَاتِ الشُّبُهَاتِ أَبْعَدُ»
"...Bahkan menurut pandanganku: pendapat inilah yang paling mendekati kebenaran di antara seluruh pendapat yang disebutkan mengenai esensi dan hakikat waktu, dan ini merupakan mazhab al-Imam Plato... Adapun mazhab al-Imam Plato itu lebih dekat kepada disiplin ilmu yang berbasis burhan (demonstratif-pasti) dan paling jauh dari kegelapan kerancuan berpikir (syubhat)."
Jilid 5, Halaman 77 (Memenangkan tesis Plato atas Aristoteles):
«...أَنَّ الْحَقَّ فِي حَقِيقَةِ الْمَكَانِ وَالزَّمَانِ مَا قَالَهُ أَفْلَاطُونُ الإِلَهِيُّ، لَا مَا اخْتَارَهُ أَرِسْطُوطَالِيسُ»
"...bahwa kebenaran mengenai hakikat ruang dan waktu adalah apa yang dikemukakan oleh Plato sang Teolog/Metafisikus (Aflatun al-Ilahi), bukan pandangan yang dipilih oleh Aristoteles."
2. Kitab Al-Mabahits al-Masyriqiyyah
Jilid 1, Halaman 658–660 (Hakikat zaman dan durasi murni):
«وَهَذَا هُوَ قَوْلُ الإِمَامِ أَفْلَاطُونَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَقُولُ: الْمُدَّةُ إِنْ لَمْ يَقَعْ فِيهَا شَيْءٌ مِنَ الْحَوَادِثِ كَانَتْ دَهْرًا، فَإِذَا وَقَعَتْ فِيهَا الْحَوَادِثُ صَارَتْ زَمَانًا...»
"Dan inilah pendapat al-Imam Plato, sebab ia menyatakan: rentang durasi (al-muddah) apabila belum terjadi padanya sesuatu dari peristiwa-peristiwa temporal (al-hawādits), maka ia merupakan masa murni (dahr); namun manakala telah berlangsung padanya peristiwa-peristiwa temporal, barulah ia menjadi waktu (zamān)..."
----
Demikian
La ode abu hanifa