“Tidak setiap kenikmatan adalah kemuliaan, dan tidak setiap ujian adalah hukuman.”
Syekh Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:
“Rezeki dan pertolongan terkadang memiliki sebab-sebab lain. Sebab, orang-orang fasik dan orang-orang kafir juga diberi rezeki dan pertolongan.
Terkadang Allah memberikan kesulitan kepada orang-orang beriman dan membuat mereka takut kepada musuh mereka, agar mereka kembali kepada-Nya dan bertobat dari dosa-dosa mereka. Dengan demikian, Allah menghimpunkan bagi mereka antara pengampunan dosa dan penghilangan kesusahan.
Dan terkadang Allah memberikan tenggang waktu kepada orang-orang kafir, menurunkan hujan kepada mereka dengan deras, serta memberi mereka harta dan anak-anak, lalu Allah menarik mereka secara berangsur-angsur menuju kebinasaan tanpa mereka sadari.
Hal itu bisa jadi agar Allah menimpakan kepada mereka hukuman di dunia dengan kekuasaan-Nya yang dahsyat, atau agar Dia melipatgandakan azab bagi mereka di akhirat.
Maka, tidak setiap pemberian nikmat merupakan kemuliaan, dan tidak setiap ujian merupakan hukuman.
Allah Ta'ala berfirman:
‘Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia memuliakannya dan memberinya kenikmatan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku.” Namun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata: “Tuhanku telah menghinakanku.” Sekali-kali tidak!’
(QS. Al-Fajr: 15–17)Majmu' al-Fatawa, 11/442–443.