Rabu, 16 September 2026

Akan ada Pemimpin-pemimpin atas kalian, kalian mengenali (kebaikan) mereka dan mengingkari (kemungkaran) mereka."

https://www.facebook.com/share/v/1PnGLvoDf5/

Bagian 1: Pembacaan Hadis & Penjelasan Syekh
Pembaca Hadis:
> Musaddad menceritakan kepada kami, Sulaiman bin Daud menceritakan kepada kami (secara makna), ia berkata: Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami, dari Mu'alla bin Ziyad dan Hisham bin Hassan, dari Al-Hasan, dari Dhabba bin Mihsan, dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha—istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam—bahwa beliau bersabda:
> "Akan ada Pemimpin-pemimpin atas kalian, kalian mengenali (kebaikan) mereka dan mengingkari (kemungkaran) mereka. Barang siapa yang mengingkari..."
> Abu Daud berkata: Hisham berkata: "...dengan lisannya, maka sungguh ia telah bebas (bebas dari dosa/kesalahan). Dan barang siapa yang membenci dengan hatinya, maka sungguh ia telah selamat. Akan tetapi (dosa/celaka bagi) orang yang ridha dan mengikuti."
> Lalu ditanyakan: "Wahai Rasulullah, tidakkah kita membunuh mereka?"
> Ibn Daud berkata: "Tidakkah kita memerangi mereka?"
> Beliau menjawab: "Tidak, selama mereka masih mendirikan shalat."
Syekh (Memberikan Penjelasan):
> Kemudian Abu Daud membawakan hadis Ummu Salamah radhiyallahu 'anha bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda... Apa yang beliau katakan?
> "Akan ada Pemimpin-pemimpin atas kalian, kalian mengenali (kebaikan) mereka dan mengingkari (kemungkaran) mereka."
> Maksudnya, kalian akan melihat pada diri mereka hal-hal yang dikenal (baik/terpuji) dan hal-hal yang ingkar (buruk/mungkar). Kalian mengenali dan mengingkari. Artinya, pada diri mereka terdapat kebaikan dan terdapat keburukan; ada hal-hal yang terpuji dan ada hal-hal yang tercela; ada hal-hal yang ma'ruf dan ada hal-hal yang mungkar; ada kebenaran dan ada kebatilan. Kalian mengenali dan kalian mengingkari. Ya.
Pembaca Hadis:
> "Maka barang siapa yang mengingkari..."
> Abu Daud berkata: Hisham berkata: "...dengan lisannya, maka sungguh ia telah bebas."
Syekh (Melanjutkan Penjelasan):
> "Maka barang siapa yang mengingkari..."
> (Abu Daud berkata: Hisham berkata: "...dengan lisannya...")
> Maksudnya, mengingkari dengan lisannya terhadap perkara yang mungkar. Sebab, perkara yang terpuji (baik) tidak ada masalah padanya. Pembahasan di sini adalah mengenai kemungkaran yang terjadi dari mereka.
> Maka barang siapa yang mengingkari dengan lisannya, yaitu dengan cara yang disyariatkan, cara yang membawa maslahat dan tidak menimbulkan mudarat (kerusakan)—bukan dengan menyampaikannya di atas mimbar-mimbar, atau dengan membongkar aib/mencela (tasyhir), atau berbicara di perkumpulan-perkumpulan umum yang dapat memicu provokasi, memancing emosi massa, dan menimbulkan fitnah. Yang seperti itu bukanlah bentuk nasihat dan bukan tindakan yang benar.
> Seseorang sendiri tentu tidak ridha jika hal seperti itu terjadi pada dirinya apabila ia melakukan kesalahan; ia tidak suka jika kesalahannya diungkit di atas mimbar atau dibicarakan di majelis-majelis umum yang dapat membawa dampak buruk. Jika demikian halnya, maka hendaknya seseorang memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin diperlakukan.
> Sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadis riwayat Muslim dari Abdullah bin Amr bin al-'As radhiyallahu 'anhuma:
> "Barang siapa yang ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, hendaknya ajalnya mendataginya dalam keadaan ia beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hendaknya ia memperlakukan manusia sebagaimana ia suka untuk diperlakukan."
> Maksudnya, ia memperlakukan orang lain dengan cara yang ia sukai jika orang lain memperlakukannya demikian.
> Maka, ia mengingkari dengan lisannya:
> * Baik dengan secara rahasia/empat mata jika memungkinkan,
> * Atau melalui persuratan/tulisan,
> * Atau menghubungi orang yang memiliki akses kepadanya untuk mengingatkannya.
> Sebagaimana yang diriwayatkan dari Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu ketika beliau diajak bicara mengenai Utsman radhiyallahu 'anhu. Beliau berkata kepada mereka: "Apakah kalian mengira aku tidak bicara kepadanya melainkan kalian harus mendengarnya? Sungguh aku telah bicara kepadanya secara pribadi dengan cara yang tidak menimbulkan mudarat atau dampak yang tidak baik."
> Kesimpulannya, kemungkaran itu harus diingkari, tetapi dengan cara yang memberikan manfaat, bukan dengan cara yang memperkeruh suasana, memicu fitnah, kekacauan, serta memprovokasi massa.
Syekh (Melanjutkan):
> "Maka barang siapa yang mengingkari dengan lisannya, sungguh ia telah bebas." Maksudnya, ia telah menunaikan kewajibannya.
> "Dan barang siapa yang membenci dengan hatinya, maka sungguh ia telah selamat."
> Yaitu bagi orang yang tidak mampu mengubah atau mengingkari dengan lisannya, namun ia membenci kemungkaran tersebut di dalam hatinya, maka ia selamat (bebas dari dosa).
> "Akan tetapi (dosa/celaka bagi) orang yang ridha dan mengikuti."
> Inilah orang yang berdosa. Yaitu orang yang mengikuti kemungkaran, menyetujuinya, mendukungnya, atau menunjukkan keridhaan terhadap kemungkaran tersebut. Dialah yang berdosa dan menjadi sekutu bagi penguasa dalam dosa tersebut.
Bagian 2: Pesan Penutup (04:45 - 04:58)
Penceramah:
> "Pegang teguhlah jalan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Walaupun engkau menjadi asing di tengah-tengah mereka, bersabarlah atas keasingan tersebut. Tetaplah berada di atas jalan yang lurus, bersabarlah di atasnya, dan teguhlah hingga engkau sampai ke surga."