Kamis, 04 Juni 2026

Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah (Al-Hafiz Zainuddin Abdul Rahman bin Ahmad bin Rajab) adalah seorang imam dan ulama besar, namun beliau merupakan sosok yang sangat zuhud, warak, dan rendah hati

Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah (Al-Hafiz Zainuddin Abdul Rahman bin Ahmad bin Rajab) adalah seorang imam dan ulama besar, namun beliau merupakan sosok yang sangat zuhud, warak, dan rendah hati 

​Salah seorang muridnya menceritakan sebuah kisah:

Suatu hari, ketika kami sedang berada di salah satu majelis ilmu bersama syekh kami (Ibnu Rajab), beliau menjelaskan sebuah permasalahan agama secara mendalam dengan penjelasan yang sangat luar biasa menakjubkan 

​Kemudian di hari yang sama, kami diundang bersamanya untuk menghadiri majelis salah seorang hakim agung (pembesar qadhi) . Di majelis tersebut, orang-orang yang hadir mulai membahas permasalahan agama yang sama dengan yang dibahas oleh Syekh Ibnu Rajab sebelumnya .Namun, penjelasan mereka sama sekali tidak ada apa-apanya dan tidak mendekati keindahan penjelasan yang disampaikan oleh syekh kami di majelisnya .

​Kami pun memandangi syekh kami, berharap beliau akan angkat bicara, menjelaskan kepada mereka, dan memberikan faedah agar keutamaan ilmu beliau tampak di hadapan mereka . Sebagai murid, tentu kami ingin keutamaan guru kami terlihat dan kami merasa bangga dengannya. Akan tetapi, beliau memilih untuk diam saja .

​Ketika kami beranjak pergi, saya dan beberapa teman mendekati beliau dan berkata, "Semoga Allah membalas kebaikan Anda dan menambah keutamaan Anda. Anda telah menjelaskan permasalahan ini kepada kami dengan begitu rinci di masjid, namun ketika masalah ini dibahas di majelis tadi, Anda sama sekali tidak menyampaikan apa pun kepada mereka. Mengapa Anda tidak memberi tahu mereka?" .

​Mendengar hal itu, beliau mengucapkan sebuah kalimat yang mencerminkan jiwa yang bersih dari kesombongan ilmu .Beliau berkata:

"Majelis bersama kalian (di masjid) adalah karena Allah, sedangkan majelis tadi adalah majelis yang diinginkan untuk urusan dunia." 

https://youtu.be/yDj6--4bqoc?si=TqN0yiytaItspzyM

Disibukkan dengan Dunia Melemahkan Tauhid

Disibukkan dengan Dunia Melemahkan Tauhid

[00:00] Tidak diragukan lagi bahwa kesibukan dengan urusan dunia dapat melemahkan tauhid. Sebab, tauhid bukanlah sekadar perkara logika atau akal saja; tauhid adalah ilmu dan amal, serta ketundukan kepada Allah Azza wa Jalla.

[00:12] Semakin kuat dunia masuk ke dalam hati dan seseorang semakin disibukkan dengan syahwat—baik yang mubah (diperbolehkan), apalagi yang diharamkan—maka perhatian terhadap tauhid akan semakin melemah.

[00:27] Ambil contoh, berapa persentase orang yang peduli dan mempelajari buku-buku para ulama dakwah? Setiap orang mungkin berkata, "Kami tahu Kitab Tauhid dan kami tahu kitab-kitab penjelasannya." Namun, ketika Anda bertanya kepada mereka tentang rincian masalah di dalamnya, mereka tidak tahu. Bahkan terkadang orang tersebut dinisbatkan sebagai ahli ilmu atau penuntut ilmu. Hal ini tentu menunjukkan adanya kekurangan dalam banyak masalah.

[00:44] Banyak masalah yang dibahas oleh para ulama dakwah di dalam kitab-kitab mereka, seperti dalam kitab Ad-Durar As-Saniyyah atau kitab-kitab risalah lainnya, yang belum pernah dilihat atau dibaca oleh sebagian orang. Padahal, hubungan dengan kitab-kitab ini adalah hubungan dengan dakwah itu sendiri, karena hubungan dengan dakwah adalah hubungan dengan tauhid.

[01:04] Hubungan ini dapat dibangun melalui beberapa cara utama:

  1. ​Generasi muda dan para penuntut ilmu harus menaruh perhatian besar pada kitab-kitab para ulama dakwah.
  2. [01:16] Mereka harus terhubung dengan para ulama yang dapat menjelaskan makna dari perkataan para ulama dakwah tersebut, karena membaca sendiri saja tidaklah cukup.

Penyebaran Praktik Syirik dan Sihir

[01:27] Ada banyak masalah yang wajib disebarluaskan dan dijelaskan di tengah masyarakat. Ambil contoh, masalah sihir. Saat ini, para wanita kerap didatangi oleh orang-orang tertentu yang mempermudah mereka untuk pergi ke tukang sihir atau dukun. Terkadang para suami tidak menyadarinya. Sang istri mungkin beralasan, "Saya mau pergi ke pak kiai/ustaz untuk dirukyah," tanpa memberi tahu kenyataan sebenarnya tentang apa yang ia lihat atau apa yang dilakukan oleh orang tersebut.

[01:50] Banyak orang yang mempraktikkan perdukunan, baik secara terang-terangan maupun tersembunyi. Sihir kini semakin tersebar, dan cara membantahnya hanyalah dengan tauhid.

[02:02] Sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: "Setiap kali pengamalan terhadap peninggalan para nabi (yaitu tauhid dan keimanan) melemah di suatu negeri, maka para penyihir akan semakin kuat di sana." Hal ini karena para penyihir bekerja sama dengan setan untuk menimbulkan penyakit atau ikatan sihir. Hukuman bagi penyihir adalah hukuman bagi seorang murtad, karena ia memang telah murtad dan kafir. [02:35] Seorang penyihir adalah kafir, karena tidak mungkin seseorang bisa menyihir kecuali dengan melakukan kesyirikan.

[02:44] Memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai hal ini termasuk memberikan pemahaman tentang pokok agama (usuluddin). Banyak orang meremehkan urusan penyihir dan dukun dengan dalih "dia hanya mengobati atau meramal". Padahal ketika kita melihat apa yang ada di tempat mereka, kita mendapati kemenyan dan ritual seperti yang dilakukan para dukun.

Bentuk-Bentuk Syirik yang Diremehkan

[02:55] Contoh lain dari meremehkan bentuk kesyirikan adalah masalah zodiak/ramalan bintang. Seseorang membawa majalah yang berisi ramalan zodiak ke rumahnya. Kemudian anak muda, wanita, atau bahkan kepala rumah tangga membaca ramalan tersebut: "Zodiak Gemini: Anda akan mendapatkan uang, kebahagiaan, atau Anda akan bepergian."

[03:13] Ketahuilah, ini adalah perdukunan (keperamalan)! Barangsiapa yang membacanya, maka ia sama saja telah mendatangi dukun. Ketika Anda mendatangi dukun, pilihannya adalah Anda sekadar bertanya atau Anda memercayainya. [03:36] Barangsiapa yang membaca ramalan tersebut, hukumnya sama dengan orang yang mendatangi dukun. Jika ia memercayainya, maka ia dihukumi telah memercayai dukun. Dan barangsiapa memercayai apa yang dikatakan dukun, maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Ini adalah bentuk syirik asghar (syirik kecil) atau perdukunan yang masuk ke dalam rumah-rumah. Di manakah para ahli tauhid untuk mengingkari hal ini?

[03:52] Masalah lainnya adalah ucapan syirik yang sering digunakan oleh anak-anak maupun orang dewasa (syirik asghar). Banyak orang yang menyandarkan nikmat atau keselamatan kepada manusia. Misalnya ucapan: "Kalaulah bukan karena pilot, pasti akan terjadi begini," atau "Kalaulah bukan karena si fulan, pasti akan begini." Ini tidak diragukan lagi termasuk jenis kesyirikan yang ditolak oleh dakwah tauhid.

[04:15] Saya sendiri pernah melihat di sebuah tempat di Riyadh, seekor domba disembelih di depan pintu sebuah rumah oleh pemiliknya yang termasuk orang awam atau jahil. Saya meminta pemilik rumah untuk keluar, namun ia tidak keluar, dan kemudian terjadi hal-hal lainnya. Intinya, bagaimana kejahilan (kebodohan terhadap agama) ini bisa sampai ke tingkat ini?

[04:36] Seseorang datang kepadanya dan berkata, "Kita harus menyembelih sesuatu di sini." Sebagian kontraktor atau pekerja bangunan juga melakukan hal serupa; ketika mereka menuangkan semen pertama untuk tiang atau atap rumah, mereka berkata, "Kita harus menyembelih hewan." [04:51] Apa ini? Ini semua adalah penyembelihan yang ditujukan untuk menolak gangguan atau kejahatan jin.

​Ada banyak masalah tauhid yang tidak diketahui oleh penduduk negeri ini, padahal mereka berada di atas fitrah, tetapi mereka tidak mengetahuinya karena kebodohan.

Pentingnya Al-Wala' wal Bara' dan Menjaga Tauhid Tetap Hidup

[05:02] Yang lebih besar dari itu adalah masalah Al-Wala' wal Bara' (loyalitas dan berlepas diri). Ada orang yang mencintai pelaku syirik, atau hatinya tidak merasa benci dan asing terhadap orang musyrik. Ia melihat kesyirikan, namun hatinya tidak merasa marah atau cemburu karena Allah. Bagaimana orang seperti ini bisa menjadi seorang muwahhid (ahli tauhid) yang jujur, yang mengerti dan paham tentang tauhid?

[05:22] Mengapa demikian? Karena syirik adalah bentuk penghinaan dan celaan terhadap Allah Jalal wa Ala. Seseorang jika ayahnya atau dirinya sendiri dihina, ia pasti akan marah dan bertindak. Lalu bagaimana bisa hatinya tidak merasa marah ketika Allah Jalal wa Ala yang dicela dan dihina? Ia melihat peribadatan kepada selain Allah, namun ia biasa saja.

[05:37] Sebagian orang juga menonton berbagai saluran televisi yang menayangkan hal-hal yang bertentangan dengan tauhid, seperti sihir, perdukunan, penyembahan, atau kisah-kisah karomah wali yang menyimpang, urusan sufi, dan sejenisnya. Ia melihatnya seolah-olah itu adalah hal yang biasa. Sebagian orang juga meremehkan kehadiran di acara-acara maulid (yang menyimpang).

[05:54] Intinya, ada banyak hal yang masuk ke dalam kehidupan kita yang membutuhkan edukasi. Tauhid itu jika tidak disuarakan dan dijelaskan secara terus-menerus terang-terangan, maka ia akan dilupakan.

[06:03] Ingatlah hadis Ibnu Abbas di dalam Shahih Al-Bukhari tentang sebab awal mula penyembahan berhala di zaman Nabi Nuh 'alaihis salam (seperti berhala Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr). Berhala-berhala itu awalnya dibuat berupa patung-patung orang saleh untuk menghormati mereka. [06:19] Namun, ketika ilmu agama telah sirna (terhapus), patung-patung tersebut akhirnya disembah. Ketika ilmu telah hilang, manusia akan mewarisi sesuatu tanpa ada lagi yang melarangnya.

​Generasi berikutnya akan berkata, "Orang tua kami tidak pernah melarang kami, kami tidak tahu apa-apa." Anda dapati orang-orang tua saat ini masih memiliki pemahaman tauhid yang istimewa, tetapi pertanyaannya, apakah tauhid ini sudah diwariskan kepada anak-anak kecil mereka?

Kewajiban Para Pendakwah dan Keutamaan Tauhid

[06:34] Harus ada keberlanjutan dalam mengajarkan tauhid. Perkara terbesar yang harus ditanamkan di dalam hati generasi muda dan manusia adalah tauhid. Karena barangsiapa yang menghadap Allah dalam keadaan bertauhid dan tidak berbuat syirik sedikit pun, maka dosa-dosanya akan diampuni.

[06:44] Allah berfirman (dalam hadis qudsi): "Wahai anak Adam, seandainya engkau mendatangi-Ku dengan membawa dosa seisi bumi, kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku akan mendatangi-mu dengan ampunan seisi bumi pula."

​Maka sarana terbesar untuk mendapatkan ampunan dosa dan kebaikan yang paling agung adalah tauhid. Dan pembahasan mengenai hal ini sangatlah panjang.

[07:08] Oleh karena itu, wajib bagi para khatib untuk menelusuri fenomena-fenomena kesyirikan ini, menyampaikannya kepada masyarakat, serta memperingatkan mereka darinya. Wajib bagi para khatib dan dai untuk menyampaikan masalah tauhid. Tauhid itu didakwahkan secara global maupun secara teperinci dalam setiap permasalahannya.

[07:20] Jelaskan tentang tauhidul qulub (tauhidnya hati), ketundukan kepada Allah, rasa cinta (mahabbah), harap (raja'), kembali bertaubat (inabah), tawakal, dan rasa takut (khauf) kepada Allah Jalal wa Ala. Banyak orang saat ini yang kehilangan rasa takut kepada Allah. Jenazah lewat di hadapannya, namun tidak ada rasa takut. Musibah terjadi, tidak ada rasa takut. Ayat-ayat Al-Qur'an diperdengarkan, tidak ada rasa takut. Rasa takut telah melemah, padahal takut adalah salah satu bab dan ibadah yang agung dalam tauhid.

[07:45] Para malaikat yang bertauhid pun takut kepada Rabb mereka yang berada di atas mereka. Allah berfirman: "Hingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata: 'Apakah yang telah difirmankan oleh Rabbmu?'" Maka menumbuhkan rasa takut kepada Allah Jalal wa Ala adalah ibadah yang agung. Masyarakat harus dididik di atas masalah tauhid ini.

[08:05] Namun, barangsiapa yang hidupnya tidak bersama tauhid, ia tidak akan mampu berdakwah kepadanya dengan baik, baik secara global maupun secara teperinci. Oleh karena itu, kita harus hidup bersama tauhid agar kita bisa mendakwahkannya dengan cara yang terbaik.

​Ya, demikian.

Tautan Video: Https://youtu.be/jfopd3t_O24?si=t_v3JJaNKXBpQ3jZ

Dan sunah yang datang (tuntunannya) mengenai mengeraskan suara (jahr) dalam berzikir setelah salat fardu, manusia di zaman sekarang ini telah terbagi menjadi tiga golongan dalam menyikapinya

Sunnah mengenai membaca zikir dengan suara keras setelah salat wajib telah membagi manusia di zaman sekarang menjadi tiga kategori: dua kelompok ekstrem dan satu kelompok tengah.
Adapun kategori pertama: mereka mewajibkan orang untuk mematuhinya dan bersikap keras dalam hal itu, dan mereka menunjukkan permusuhan dan kesetiaan berdasarkan hal itu, dan siapa pun yang meninggalkannya tidak dianggap oleh mereka sebagai bagian dari orang-orang yang mengikuti Sunnah. Salah seorang dari mereka berkata: Orang-orang ini meninggalkan Sunnah dan menolaknya, dan mereka tidak menganggap orang yang meninggalkannya sebagai saudara.
Kategori kedua dari kedua pihak: mereka yang tidak menganggapnya sebagai Sunnah, dan sebagian dari mereka mengatakan bahwa itu adalah bid'ah dan mereka melihat bahwa orang yang melakukannya membingungkan orang, dan sebagian dari mereka memasukkan publikasi ini atas nama kemunafikan dan berkata kepada orang-orang yang mempublikasikan (2) zikir: orang-orang ini pamer kepada orang lain.
Adapun kelompok ketiga, kelompok tengah, mereka berkata: Ini telah terbukti dari Nabi.
Dari perbuatan dan persetujuannya, para Sahabat, semoga Allah meridai mereka, biasa melakukan hal ini pada masa Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam, setelah beliau mengajarkannya kepada mereka dan menyetujuinya. Maka mereka mempelajarinya dari ajaran Rasulullah dan mengamalkannya, dan beliau menyetujui perbuatan ini setelah mempelajarinya dan tidak menolaknya. Kemudian beliau meninggalkan pengamalan tersebut, sebagaimana beliau meninggalkan banyak sunnah perkataan dan perbuatan, sebagaimana akan kami jelaskan, insya Allah. Jenis orang seperti ini mengatakan: Barangsiapa yang melakukannya telah berbuat baik dan melaksanakan sunnah yang akan diberi pahala, dan barangsiapa yang tidak melakukannya, tidak ada celaan baginya, tidak ada dosa, dan tidak ada hukuman karena meninggalkannya, karena tidak ada kewajiban kecuali yang telah diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya, tidak ada larangan kecuali yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, dan tidak ada yang diperbolehkan kecuali yang telah diperbolehkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Mereka tidak menyetujui siapa pun yang mengingkarinya dan memberitahukan bahwa itu adalah Sunnah dan tidak memperdebatkannya, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad, semoga Allah merahmatinya: Beritahukanlah tentang Sunnah dan janganlah memperdebatkannya (3).
طمر بن طمر


Dan sunah yang datang (tuntunannya) mengenai mengeraskan suara (jahr) dalam berzikir setelah salat fardu, manusia di zaman sekarang ini telah terbagi menjadi tiga golongan dalam menyikapinya: dua golongan yang berada di ujung (ekstrem/berlebihan) dan satu golongan yang berada di tengah-tengah (moderat).
1. Golongan Pertama
Adapun golongan pertama: mereka mewajibkan manusia untuk melakukannya, bersikap keras dalam hal tersebut, serta membangun loyalitas dan permusuhan di atasnya. Siapa saja yang meninggalkannya, maka menurut mereka orang tersebut bukan termasuk penganut sunah (Ahli Sunah). Juru bicara mereka berkata: "Mereka itu meninggalkan sunah dan menolaknya," serta tidak menganggap orang yang meninggalkannya sebagai bagian dari persaudaraan (sesama muslim).
 2. Golongan Kedua
Dan golongan kedua dari dua kubu ekstrem tersebut adalah: orang yang tidak memandang hal itu sebagai sunah. Sebagian dari mereka bahkan mengatakan bahwa hal tersebut termasuk bidah, dan berpendapat bahwa orang yang melakukannya telah membuat kegaduhan bagi manusia. Sebagian yang lain memasukkan tindakan mengeraskan suara ini ke dalam kategori riya, lalu berkata tentang orang yang mengeraskan suaranya dalam berzikir: "Mereka itu adalah orang-orang yang riya kepada manusia."
 3. Golongan Ketiga (Pertengahan)
Adapun golongan ketiga: mereka adalah golongan yang berada di tengah-tengah (wasath). Mereka berkata: "Hal itu telah sahih dari Nabi ﷺ, baik dari perbuatan beliau maupun ketetapan (taqrir) beliau. Dahulu para sahabat —semoga Allah meridai mereka— melakukannya pada masa Rasulullah ﷺ setelah beliau mengajarkannya kepada mereka dan menetapkannya atas mereka. Maka mereka pun mengetahuinya karena diajarkan oleh Rasulullah ﷺ lalu mengamalkannya. Beliau menetapkan amalan tersebut atas mereka setelah mengetahuinya dan tidak mengingkarinya. Kemudian, ditinggalkannya amalan tersebut (di kemudian hari) adalah sebagaimana ditinggalkannya banyak sunah dari perkataan dan perbuatan lainnya, seperti yang akan kami jelaskan nanti insya Allah Ta'ala."
Golongan manusia yang ini berkata: "Siapa yang melakukannya, maka dia telah berbuat baik dan telah mengamalkan sunah yang akan diberi pahala atasnya. Dan siapa yang tidak melakukannya, maka tidak ada dosa maupun celaan atasnya, serta tidak ada hukuman bagi orang yang meninggalkannya. Karena tidak ada yang wajib kecuali apa yang diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya, tidak ada yang haram kecuali apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, dan tidak ada yang halal kecuali apa yang dihalalkan oleh Allah dan Rasul-Nya."
Mereka mengingkari orang yang mengingkarinya (zikir jahr), dan mengabarkan bahwa hal itu adalah sunah, namun mereka tidak bertengkar/berdebat kusir karena urusan tersebut, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad —semoga Allah merahmatinya—: "Kabarkanlah tentang sunah, dan janganlah kamu bertengkar karenanya."

Rabu, 03 Juni 2026

JENIS-JENIS TAUHID MENURUT AHLI KALAM DAN KEBENARAN SERTA KEKELIRUAN DI DALAMNYA

JENIS-JENIS TAUHID MENURUT AHLI KALAM DAN KEBENARAN SERTA KEKELIRUAN DI DALAMNYA

Syaikhul islam Ibnu Taimiyah memberikan kritikan terhadap sebagian konsep ahli kalam dalam perkara tauhid yang dianggap terlalu memusatkan tauhid pada Rububiyah (ketunggalan Allah dalam penciptaan dan pengaturan alam).

Beliau berkata di dalam Risalah At-Tadmuriyyah:

Dengan penjelasan ini dan selainnya, dapat diketahui letak kesalahan dalam pengertian "tauhid". 

Sebab mayoritas ahli kalam yang membahas "tauhid" dalam kitab-kitab kalam dan nazhar (filsafat teologi), tujuan mereka adalah menjadikan tauhid terbagi menjadi tiga jenis. Mereka berkata:
"Allah itu satu dalam Dzat-Nya, tidak terbagi; satu dalam sifat-Nya, tidak ada yang serupa dengan-Nya; dan satu dalam perbuatan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya."

Jenis yang paling masyhur dari ketiga jenis tersebut menurut mereka adalah yang ketiga, yaitu "tauhid af'al (perbuatan)", yakni:
"Bahwa pencipta alam semesta hanya satu."

Mereka berhujah untuk itu dengan dalil yang mereka sebut sebagai dalil tamānu' (dalil kemustahilan adanya dua pencipta yang berkuasa mutlak) dan selainnya. 

Mereka mengira bahwa inilah tauhid yang dituntut oleh syariat, dan bahwa inilah makna ucapan:
"Lā ilāha illallāh" (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah).

Sampai-sampai mereka menjadikan makna ilahiah (ketuhanan) sebagai:
"Yang memiliki kemampuan untuk menciptakan (mengadakan dari ketiadaan)."

Padahal telah diketahui bahwa kaum musyrikin Arab yang pertama kali diutus kepada mereka Nabi Muhammad ﷺ tidaklah menyelisihi perkara ini. 

Bahkan mereka mengakui bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Mereka juga mengakui takdir. Namun meskipun demikian, mereka tetap orang-orang musyrik.

===========
At-Tadmuriyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Ust abu musa al mizzi

Syaikh Abdussalam bin Barjas rahimahullah dahulu sering dijadikan rujukan oleh teman-teman yang kaku dan keras karena bantahan dan catatan ilmiah beliau

Syaikh Abdussalam bin Barjas rahimahullah dahulu sering dijadikan rujukan oleh teman-teman yang kaku dan keras karena bantahan dan catatan ilmiah beliau terhadap beberapa pembahasan dalam kitab Tashnif An-Nas Baina Adz-Dzann Wal-Yaqin karya Syaikh Bakr Abu Zaid, yang mana kitab itu menjelaskan praktik mudah mentabdi' (membid'ahkan orang lain).

Namun, setelah itu nama Syaikh Abdussalam bin Barjas tidak begitu banyak dikutip oleh mereka. Salah satu sebabnya adalah pernyataan beliau berikut tentang orang-orang yang berlebihan dalam mencela dan mentabdi' sesama Muslim, beliau berkata:

"Pada masa-masa ini, kita diuji dengan sebagian orang yang mengaku mengikuti manhaj Salaf, tetapi melampaui batas dalam menjatuhkan vonis bid'ah kepada orang lain. Bahkan ada yang sampai mentabdi' masyarakat secara umum, dan menganggap bahwa hukum asal setiap orang selain kelompok mereka adalah ahli bid'ah sampai terbukti sebaliknya.

Mereka adalah orang-orang yang tidak memahami syariat dan tidak memahami dengan benar ucapan para ulama tentang bid'ah dan pelakunya. Karena itu, perkataan mereka tidak patut dijadikan pegangan. Bahkan capan mereka tidak memiliki nilai maupun bobot ilmiah.

Syaikh Abdul Muhsin Al-'Abbad hafizhahullah telah memberikan nasihat yang sangat baik kepada mereka dan memperingatkan bahaya manhaj semacam ini dalam kitab beliau Rifqan Ahlas Sunnah Biahlis Sunnah (Bersikap Lembutlah Wahai Ahlus Sunnah terhadap Sesama Ahlus Sunnah).

Kita memohon kepada Allah agar diselamatkan dari segala bentuk sikap berlebihan (ghuluw)."

(Referensi : Mazhahir Al-Ghuluw Fil-'Aqidah Wal-'Amal Wal-Hukm 'Alan-Nas, hlm. 27)
Ushs

Selasa, 02 Juni 2026

Hanbali Fiqh – Dzikir, Doa, dan Pujian Keras di Menara Masjid

Hanbali Fiqh – Dzikir, Doa, dan Pujian Keras di Menara Masjid

Dalam Kasyaf al-Qinā‘ disebutkan:

Adapun perbuatan selain azan sebelum Subuh dan azan pada hari Jumat, berupa bacaan tasbih, lantunan syair atau pujian, mengeraskan suara dengan doa, dan semisalnya di menara masjid atau tempat lainnya, maka hal itu bukan amalan yang disunnahkan.

Tidak seorang pun dari kalangan ulama yang mengatakan bahwa hal itu dianjurkan. Bahkan, hal itu termasuk bidah tercela yang dimakruhkan, karena tidak pernah ada pada masa Rasulullah ﷺ maupun pada masa para sahabat beliau, serta tidak memiliki landasan dari amalan yang ada pada zaman mereka yang dapat dijadikan rujukan.

Karena itu, tidak boleh bagi siapa pun memerintahkannya, tidak boleh mencela orang yang meninggalkannya, dan tidak boleh menggantungkan hak memperoleh tunjangan atau gaji pada pelaksanaannya, karena hal tersebut merupakan bantuan terhadap suatu bidah.

Perbuatan itu juga tidak wajib dilakukan meskipun disyaratkan oleh pewakaf, karena syarat tersebut menyelisihi sunnah.

Ibnul Jauzi berkata dalam kitab Talbīs Iblīs:
"Aku pernah melihat seseorang berdiri lama di atas menara pada malam hari untuk memberi nasihat dan peringatan, atau membaca suatu surah dari Al-Qur'an dengan suara keras. Akibatnya, ia menghalangi manusia dari tidur malam mereka dan mengacaukan bacaan orang-orang yang sedang bertahajud. Semua itu termasuk kemungkaran."

(Kasyaf al-Qinā‘, 1/242)
ibn nashrullah 

pertengahan antara keduanya

Anjuran meninggalkan pakaian mewah bukan berarti kita memakai pakaian jelek. Atau pakai mobil jelek dsb. 
Namun pertengahan antara keduanya. 
Imam Assarokhsi dalam kitab Al Mabsuth (30/268) ketika menjelaskan makna hadits yang artinya, "Siapa yang memakai pakaian syuhroh di dunia maka Allah akan memakaikan kepadanya pakaian kehinaan pada hari kiamat." (HR Abu Dawud)
Beliau berkata:

" والمراد أن لا يلبس نهاية ما يكون من الحسن والجودة في الثياب على وجه يشار إليه بالأصابع ، أو يلبس نهاية ما يكون من الثياب الخَلِقِ – القديم البالي - على وجه يشار إليه بالأصابع , فإن أحدهما يرجع إلى الإسراف والآخر يرجع إلى التقتير ، وخير الأمور أوسطها " انتهى .

"Yang di maksud pakaian syuhroh adalah pakaian yang sangat bagus sehingga dikagumi orang. Atau pakaian sangat jelek sehingga membuat orang merasa aneh. Karena yang pertama berlebih lebihan dan yang kedua terlalu pelit. Dan sebaik baik perkara adalah yang tengah tengah."
ustadz badrusalam