Pelajaran dari nabi Yusuf
Masih ingat kisah nabi Yusuf yang menjaga kehormatan dirinya dari godaan permaisuri ? Ketika dia dibebaskan beliau memastikan hakikat isu yang tersebar dalam masalahnya, allah berfirman mengisahkan nabi Yusuf:
{ ذَٰلِكَ لِيَعۡلَمَ أَنِّي لَمۡ أَخُنۡهُ بِٱلۡغَيۡبِ وَأَنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي كَيۡدَ ٱلۡخَآئِنِينَ }
[Surat Yusuf: 52]
(Yūsuf berkata), Yang demikian itu agar dia ( Al-‘Azīz) mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya dan bahwasanya Allah tidak meridai tipu daya orang-orang yang berkhianat.
Dalam Taisir al-Karim ar-Rahman, beliau menjelaskan dengan ringkas:
Ini adalah bentuk kesempurnaan wara’ dan kejujuran Nabi Yusuf.
Beliau tidak hanya ingin bebas dari penjara, tapi ingin namanya bersih dari tuduhan.
Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang jujur dan sabar, Allah akan tampakkan kebenarannya.
📖 Referensi: Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, QS. Yusuf: 52.
✨ Faidah Tarbawiyah dari Ayat Ini
1. Pentingnya menjaga amanah meski tidak ada manusia yang melihat.
2. Orang beriman ingin bersih namanya, bukan sekadar bebas dari hukuman.
3. Allah tidak akan memenangkan makar orang yang berkhianat.
4. Sabar atas fitnah akan berujung pada pemuliaan dari Allah.
Semoga bermanfaat
Ustadz muhammad elvi syam