Rabu, 04 Maret 2026

Begini caranya Ismail Safawi ubah Iran dari negara Sunni jadi Syiah:

Begini caranya Ismail Safawi ubah Iran dari negara Sunni jadi Syiah:

Iran tetap Sunni sepenuhnya selama hampir sembilan abad, sejak masa penaklukan di zaman Khulafaur Rasyidin, lalu Dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Saat itu cuma ada empat kota yang Syiah: Awah, Qashan, Sabzawar, dan Qom.

Setelah Ismail Safawi dinobatkan jadi raja Iran, dia langsung umumkan mazhab Syiah sebagai mazhab resmi negara—pakai kekerasan. Sejarawan Sunni Qutbuddin an-Nahrawali bilang tentang Ismail Safawi: "Dia bunuh banyak orang, tak terhitung, sekitar lebih dari satu juta jiwa."

Shah Ismail ini bukan orang Persia asli, tapi orang Kurdi dari Azerbaijan, dari keluarga sufi. Dia dirikan dinasti Safawiyah berdasarkan mazhab Syiah Itsna Asyariyah di selatan Azerbaijan, lalu serang Iran yang waktu itu lagi kacau balau. Tahun 1502 M, dia masuk kota Tabriz (ibu kota saat itu), umumkan diri jadi raja, dan paksa mazhab Syiah jadi resmi di negara barunya.

Orang-orang waktu itu gak terima keputusan ini, karena mayoritas Persia masih Sunni, dan banyak daerah di Iran bahkan gak tahu apa-apa soal Syiah. Sehari sebelum penobatan di Tabriz, para pendukungnya dari para amir Qizilbash bilang khawatir warga Tabriz yang Sunni bakal nolak dan gak mau ikut Syiah. Ismail langsung tarik pedangnya dari sarung dan jawab: "Aku gak takut siapa pun. Kalau rakyat berontak, aku bakal cabut pedang ini dan gak bakal ninggalin satu pun hidup."

Dan beneran dia laksanain ancamannya. Pagi harinya, dia datang ke masjid besar bareng tentaranya, suruh salah satu ulama Syiahnya, Maulana Ahmad Ardabili, khutbah ke orang-orang. Jemaah Sunni yang lagi shalat langsung mau bubar protes, tapi Ismail kasih isyarat ke tentara Qizilbash: suruh semua orang nyatakan "tabarru" (lepas diri dari tiga khalifah sebelum Ali) dan "mawalah" (setia ke Ali bin Abi Thalib). Siapa yang nurut selamat, siapa yang nolak kepalanya dipenggal.

Dengan cara begitu, Ismail Safawi terus perluas kekuasaannya dan sebarkan mazhab barunya ke seluruh wilayah Iran, satu per satu jatuh di bawah kekejamannya.

Penulis buku "Ahsan at-Tawarikh" cerita soal pembantaian Sunni di kota Shaki (barat Iran), pembantaian orang Shirwan, bakar mayat syekh mereka (Farrukh Yasar), dan bikin menara dari tengkorak korban di kota itu.

Tahun 914 H, Ismail serang wilayah Ahwaz, gulingkan dinasti Musha'sha'iyyah setelah pembantaian yang gak kalah kejam dari sebelumnya.

Tahun 915 H, sejarawan sebut pembantaian di Shiraz dan Mazandaran (korban lebih dari 10 ribu orang Persia Sunni), plus bunuh lebih dari 7 ribu Sunni di Yazd (tengah Iran), dan pembantaian besar di Isfahan yang kemudian jadi ibu kota Safawiyah.

Tahun 916 H, pembantaian Merv: lebih dari 11 ribu orang Persia Sunni dibunuh setelah perang lawan Shaybani Khan Turkmen. Tentara Qizilbash potong-potong tubuhnya dan makan di depan warga kota.

Dia serang hampir semua kota di Iran dan lakuin pembantaian mengerikan. Sejarawan bilang Ismail gak segan bunuh ulama Sunni dan siksa mereka. Dia suruh mereka bilang "Asyhadu anna Aliyan waliyullah", yang nurut dibebasin, yang nolak kepalanya dipotong atau dibakar hidup-hidup.

Contohnya: dua ulama besar Sunni Persia di Shiraz dan Isfahan, Al-Allamah Qadhi Mir Husain Maybudi dan Al-Allamah Amir Ghiyathuddin Muhammad al-Isfahani, dibunuh dengan kejam karena nolak cela tiga khalifah (radhiyallahu anhum).

Ismail juga lirik wilayah Jabal Amil di Lebanon, yang waktu itu jadi salah satu pusat Syiah dengan banyak ulamanya. Dia isi kekosongan dengan bawa ulama Syiah dari sana ke Iran—ada yang diundang, ada yang datang sendiri. Di masa Safawiyah, kebijakan utama pemerintah adalah tarik ulama Jabal Amil ke Iran, kasih jabatan tinggi. Jadi gak diragukan lagi, ulama Syiah Arab—khususnya dari Lebanon—punya pengaruh besar dalam proses penyebaran Syiah ke Persia.

Pembantaian-pembantaian ini dan kejahatan lain jadi alasan Dinasti Utsmaniyah di bawah Sultan Selim I serang negara Safawiyah, untuk selamatkan Ahlus Sunnah dari pemusnahan total di Irak dan Anatolia.

Diketahui Shah Ismail Safawi suka minum khamr sampai kecanduan, juga suka fujur dan boros dalam hal haram. Tapi kejahatan terbesar yang dia dan penerusnya lakukan adalah memecah belah umat, putuskan hubungan antar negara Khilafah Sunni, dan lemahkan Utsmaniyah dengan perang sampingan—sampai mereka sibuk dan gak bisa sebarkan Islam lebih luas.

Salah satu orientalis bilang: "Kalau bukan berkat Safawiyah di Iran, hari ini kita di Belgia dan Prancis bakal baca Al-Qur'an seperti orang Aljazair."

📚 Sumber:
1. Ahsan at-Tawarikh — Hasan Beg Rumlu
2. Habib as-Siyar — Khwandamir
3. Iran under the Safavids — Roger Savory
4. The Safavid Empire — Andrew J. Newman
5. The Cambridge History of Iran, Vol. 6 — (editor Universitas Cambridge)
Al akh zico pratama