Sabtu, 06 Juni 2026

gara gara ujub

Sekarang semua dianggap ustadz, kiyai atau ulama' atau ahli ilmu.Sedangkan dulu, dibedakan antara ulama' dan qusshos (pendongeng) .

Sekarang semua dianggap ustadz, kiyai atau ulama' atau ahli ilmu.

Sedangkan dulu, dibedakan antara ulama' dan qusshos (pendongeng) .

Ulama' itu mengajarkan ilmu secara sistematis, dimulai dari yang kecil alias paling mendasar berlanjut ke evel berikutnya.

Sedangkan qusshos adalah penceramah yang fokusnya  memainkan  atau mengguncang perasaan audiens walaupun menggunakan hadits hadits atau riwayat riwayat lemah bahkan palsu, yang penting dapat menjadikan perasaan audiena tersentuh lalu mereka terbawa emosi sesaat.

Adapun ulama' selalu membangun keilmuan dengan mengedepankan dalil yang sahih baik dalil aqli maupun naqli, dwngan berpikir kritis, dan selalu metodologi berpikir yang dapat dipertanggung jawabkan. 

Fokus mereka hanya menyimpulkan kesimpulan hukum berdasarkan data dan analisa yang ilmiah alias rasional, selaras dengan prinsip-prinsip penalaran,

Adapun pendongeng atau qusshos maka bagi mereka yang penting adalah menarik perrhatian publik dan menyentuh perasaan orang banyak sehingga mendapatkan simpati dari masyarakat luas.

Eh, bagaimana dengan facebooker atau youtuber atau sejenis, seperti saya ini, malu dibilang ulama' namun gengsi dibilang qusshos.... ya sudahlah monggo apa saja yang nyaman bagi anda untuk saya. ...saya insyaAllah legowo lan narimo.

Semoga bermanfaat,
Ustadz Dr muhammad arifin badri Ma

Waspadalah wahai saudaraku, termasuk penyakit kesyirikan yang sangat mematikan, menular, dan tidak disadari adalah: menjadi hamba dunia

Waspadalah wahai saudaraku, termasuk penyakit kesyirikan yang sangat mematikan, menular, dan tidak disadari adalah: menjadi hamba dunia

Seluruh perhatiannya utk urusan dunia, mengumpulkan harta, siang malam mengamati ekonomi, senang sedihnya tergntung dunia dan harta, bahkan lebih parah tidak peduli walau rusak aqidah dan manhaj nya dikarenakan syahwatnya kpd harta, seperti menyalahkan takdir, khuruj kepada pemerintah, mengutamakan dan memuji n negri2 kafir lbh afdhal krn makmur daripada negri muslim beriman tapi kismin, bahkan menolak hadits yang jelas2 hanya krn bertentangan dengan nafsu syahwat dunia nya

penyakit syirik ini yang sudah diwanti2 Nabi kita shallallahu alaihi wa sallam yang akan menjadi cobaan dan fitnah terberat bagi umat ini

Rasulullah ﷺ bersabda:
إنَّ لكلِّ أُمَّةٍ فتنةً
"Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah (ujian) tersendiri"
وإنَّ فتنةَ أُمَّتي المالُ
"Dan sesungguhnya fitnah (ujian) umatku adalah harta"
(Riwayat tirmidzi)

Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberikan ancaman yang keras bagi budak dan hamba dunia

Rasulullah ﷺ bersabda:

تعِس عبدُ الدينارِ
Celakalah budak dinar.

تعِس عبدُ الدرهمِ
Celakalah budak dirham.

تعس عبدُ الخميصةِ
Celakalah budak pakaian mewah.

تعس عبدُ الخميلةِ
Celakalah budak permadani yang indah.

تعِس وانتكَس
Celakalah dia dan terjungkallah dia.

وإذا شيكَ فلا انتقشَ
Dan apabila ia tertusuk duri, semoga ia tidak mendapatkan orang yang mencabutnya.
(HR. Al-Bukhari)

Bagaimana bisa seseorang jadi budak dan hamba harta?

Dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah beliau berkata:

صار عبدًا لها
Ia telah menjadi budak bagi harta-harta tersebut.

لأنَّ هذه الأشياء ملكته
Karena perkara-perkara itu telah menguasainya.

يرضى بحصولها، ويغضب بفواتها
Ia ridha ketika mendapatkannya dan marah ketika kehilangannya.

فصار عبدًا ذليلًا لها، هذا من وجهٍ
Maka ia menjadi seorang budak yang hina di hadapan harta tersebut. Ini dari satu sisi.

ومن وجهٍ آخر
Dari sisi yang lain,

أن هذه الأشياء الثلاثة - وقد جاء في لفظ أوسع من هذا أنها أربعة - ملكت قلبه واستولت عليه
bahwa tiga perkara ini — dan dalam riwayat lain yang lebih luas disebutkan empat perkara — telah menguasai hatinya dan mengendalikan dirinya.

حتى كانت هي فكره وعقله وإرادته
Sampai-sampai itulah yang menjadi pikiran, akal, dan kehendaknya.

وهذا هو حقيقة العبودية
Dan inilah hakikat perbudakan yang sebenarnya.

فصارت العبودية من وجهين
Maka perbudakan itu terjadi dari dua sisi.

الوجه الأول: أنه قد ذَلَّ لها بحيث يكون رضاه وغضبه تبعًا لحصولها أو عدمه
Sisi pertama: ia telah tunduk dan hina di hadapannya, sehingga rasa ridha dan marahnya bergantung pada ada atau tidaknya harta tersebut.

الوجه الثاني: أنها ملكت قلبه، بحيث تكون هي فكره وتفكيره وعقله وحركاته
Sisi kedua: harta itu telah menguasai hatinya, sehingga seluruh pikiran, renungan, akal, dan gerak-geriknya berkisar padanya.

لا يسعى إلا لها ولا يتوقف عن السعي إلا لها
Ia tidak berusaha kecuali untuk mendapatkannya, dan tidak berhenti berusaha kecuali karenanya.

وليس المعنى: أن الرجل ينصب الدينار ويسجد له، أو يركع له
Bukanlah maksudnya seseorang menegakkan dinar lalu sujud kepadanya atau rukuk untuknya.

فإن النبي صلى الله عليه وسلم لم يُردْ هذا
Karena Nabi ﷺ tidak menghendaki makna seperti itu.

(Lihat: Fath Dzi al-Jalali wal Ikram 15/162–163)

Itulah bisikan2 SETAN

"Indonesia gelap, ekonomi makin hancur, rakyat makin terpuruk"
"Sudah tidak ada lagi harapan di negeri ini"
"Saya bakal susah hidup, ga bisa makan, susah csri uang"
"Lebih baik m*ti saja dari pada jadi warga +62"

Itulah bisikan2 SETAN yang sering antm2 baca di medsos sehingga membuat antm2 takut akan kemiskinan dan kefakiran dikarenakan bisikan2 dan komentar2 SETAN dari golongan jin dan manusia

Seseorang mukmin yang seharusnya beriman dg takdir Allah, husnudhon kepada Allah, dan bertawakkal kepada Nya, harusnya hatinya jadi tenang, tidak takut m*ti, tidak takut ancaman, apalagi takut kemiskinan dan kefakiran

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: 

إنَّ للشَّيطانِ لمَّةً بابنِ آدمَ وللملَكِ لمَّةً : فأمَّا لمَّةُ الشَّيطانِ ، فإيعادٌ بالشَّرِّ ، وتَكْذيبٌ بالحقِّ ، وأمَّا لمَّةُ الملَكِ ، فإيعادٌ بالخيرِ ، وتصديقٌ بالحقِّ ، فمن وجدَ ذلِكَ فليعلَم أنَّهُ منَ اللَّهِ فليحمَدِ اللَّهَ ، ومن وجدَ الأخرى ، فليتعوَّذ باللَّهِ منَ الشَّيطانِ الرَّجيمِ ، ثمَّ قرأَ : الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ الآيةَ

"Sesungguhnya setan memiliki bisikan pada diri anak Adam, dan malaikat juga memiliki bisikan.

Adapun bisikan setan adalah menjanjikan keburukan dan mendustakan kebenaran.

Sedangkan bisikan malaikat adalah menjanjikan kebaikan dan membenarkan kebenaran.

Barang siapa mendapati bisikan yang demikian (yaitu bisikan malaikat), hendaklah ia mengetahui bahwa itu berasal dari Allah, maka hendaklah ia memuji Allah.

Dan barang siapa mendapati yang lainnya (yaitu bisikan setan), hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.

Kemudian beliau membaca firman Allah:
"Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat keji..." (QS. Al-Baqarah: 268)"
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi 

‐-----------

Sehingga waspadalah antm2 akan bisikan2, postingan, dan komentar2 setan dari golongan jin dan manusia, yang selalu menghembuskan ketakutan, kekhawatiran, kefakiran dan kemiskinan 

Hendaknya kita tawakkal kpd Allah dan husnudzon kepada Nya, tingkatkan lagi iman dan takwa kita, selama ini mngkin antm sdh serimg dengar khutbah dan kajian ttg iman dan takwa, nah inilah saatnya antm2 diuji imannya

Termasuk bisikan dan makar setan yang akan antm dengar akhir2 ini adalah syubhat2 Khowarij kontemporer yang selalu berusaha menakut2i antm dg bayang2 kemiskinan dan mengajak antm2 utk melakukan maksiat dan bidah khuruj kepada hukkam, dengan menyalahkan pemerintah, menjelek2kannya, bahkan ngajak keluar dari ketaatan dan mengajak utk revolusi 
Yang ujung2 nya antm akan digiring utk mengkafirkan pemerintah kita dan sesama kaum muslimin tanpa sadar,
Yang akhirnya terjadi fitnah antar kaum muslimin

Waspadalah wahai orang-orang beriman
Ustadz lutfi setiawan 
https://www.facebook.com/share/p/1Djpapn4xo/

Jumat, 05 Juni 2026

manhaj sururiyah garis kanan

25. Dia akan menampilkan diri sebagai salafi (outfitnya) tapi hakikat keyakinan dan manhajnya (tralala trilili) "disini senang disana senang"

26. Mauqif dia akan antm lihat abu2 apalagi terkait pemerintah, tapi pasti ada kelihatan sedikit naz'ah khuruj dalam statmen nya (pemikiran haroki yang bocor halus), dan ini bisa antm dapati di akhir2 ini tatkala bnyk kalangan dan kelompok ramai2 anti pemerintah maka dia akan ikut2an dg cara yg halus, biar bisa aman seakan menampakkan pro rakyat, plus biar bisa ngeles ke jamaah salafi

27. Suka modifikasi ucapan ulama salafi entah dengan melintir, motong, atau bahkan nambah2i ucapan ulama salafi dg pemikiran menyimpang (yang sering ana dapati adalah menyuspksn pemikiran harokinya ke ke dlm ucapan2 ulama salafi)

28. Memiliki misi "tashih bermanhaj" jadi akan sering membuat statmen2 yg membuat antm ragu akan prinsip2 aqidah dan manhaj yang selama ini telah sukses didakwahkan oleh para ulama, dan dia seakan menyajikan ke antm moderasi dalam bermanhaj, dan tampil seakan sebagai pembaharu dan penyempurna manhaj atau bahkan pengganti metode bermanhaj yang jadul
Ustadz lutfi setiawan 
https://www.facebook.com/share/p/1BjTRkdfbB/



Fitnah Takfir

Fitnah Takfir –
> ### [ HUKUM BAGI TAKFIR ]
Syaikh yang mulia, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin ditanya:
  Belakangan ini muncul sikap bermudah-mudahan dalam perkara yang sangat berbahaya, yaitu takfir* (mengafirkan orang lain). Maka, apa nasihat Anda mengenai hal tersebut? (1)
Jawaban:
Telah diketahui bersama bahwa menghukumi seseorang dengan kekafiran membutuhkan dua hal penting:
 *Pertama:** Petunjuk dalil (*dalalatun nash*) bahwa perbuatan tersebut merupakan kekafiran dan pembatal keislaman (*kufr mukhrij minal millah*). Sebab, di dalam teks-teks dalil ada hal yang disebut kekafiran namun tidak sampai mengeluarkan seseorang dari agama. Oleh karena itu, wajib untuk diketahui terlebih dahulu apakah dalil tersebut menunjukkan bahwa perbuatan ini adalah kekafiran yang mengeluarkan seseorang dari Islam atau bukan.
 *Kedua:** Penerapan dalil tersebut kepada orang tertentu yang melakukan perbuatan yang ditunjukkan oleh dalil sebagai kekafiran. Sebab, tidak serta-merta setiap orang yang melakukan kekafiran langsung menjadi kafir, sebagaimana yang ditunjukkan oleh dalil-dalil dari Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Adapun Al-Qur'an:
Allah Azza wa Jalla berfirman:
> "Barangsiapa kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa melakukan kekafiran padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan (dia tidak berdosa), tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan mereka akan mendapat azab yang besar." (Surah An-Nahl: 106) (2)
(1) Soal jawab ini dimuat untuk Syaikh Ibnu Utsaimin di surat kabar Al-Muslimun, No. 593, tanggal 28/1/1417 H, bertepatan dengan 14/6/1996 M.
(2) Surah An-Nahl, Ayat: 106.
### Halaman 42
– Fitnah Takfir –
Jika seseorang dipaksa untuk kafir, baik melalui ucapan maupun perbuatan, lalu ia melakukan apa yang dipaksakan kepadanya, maka Kitabullah yang mulia telah menunjukkan bahwa ia tidak dikafirkan, meskipun perbuatan tersebut adalah kekafiran.
Contohnya: Seseorang dipaksa untuk sujud kepada berhala, lalu ia sujud. Maka bersujud kepada berhala adalah kekafiran yang tidak diragukan lagi, namun karena ia dipaksa sementara hatinya tetap tenang dalam keimanan, serta meyakini bahwa berhala ini tidak berhak disembah dan sujud kepadanya adalah kekafiran, maka tidak ada dosa/sanksi baginya.
Begitu pula jika seseorang dipaksa untuk mengucapkan kalimat kekafiran, lalu ia mengucapkan: "Sesungguhnya Allah adalah salah satu dari yang tiga (Trinitas)". Apakah ia dikafirkan padahal hatinya tenang dengan keimanan? Jawabannya: Tidak kafir.
Adapun As-Sunnah:
Nabi \rho (Shallallahu 'alaihi wa sallam) telah menceritakan tentang kegembiraan Allah Ta'ala terhadap tobat hamba-Nya. Beliau mengabarkan bahwa Allah jauh lebih gembira dengan tobat hamba-Nya daripada seorang lelaki yang kehilangan untanya di padang pasir yang tandus. Untung tersebut membawa makanan dan minumannya. Ia mencarinya namun tidak menemukannya, lalu ia berbaring di bawah sebuah pohon menanti kematiannya. Ketika ia berada dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba untanya sudah berdiri di hadapannya. Ia pun segera memegang tali kekangnya, lalu berkata karena saking gembiranya: "Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhan-Mu." Ia salah berucap karena saking gembiranya. (1)
Apakah orang ini kafir? Jawabannya: Tidak.
Begitu pula kisah seorang lelaki yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri (banyak berbuat dosa) dan takut akan siksaan Allah. Ia berkata kepada keluarganya: "Jika aku mati, bakarlah aku, kemudian tumbuklah aku hingga halus, lalu tebarkanlah (debu)ku di lautan. Demi Allah, jika Tuhanku mampu membangkitkanku, niscaya Dia akan mengazabku dengan azab yang belum pernah Dia timpakan kepada seorang pun di alam semesta." Maka keluarganya pun melaksanakan wasiat itu. Lalu Allah Azza wa Jalla mengumpulkannya kembali dan bertanya kepadanya (mengapa ia melakukan itu). Ia menjawab bahwa ia melakukannya karena rasa takutnya kepada Allah.
(1) Diriwayatkan oleh Muslim, No. (2747) dari hadis Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
### Halaman 43
– Fitnah Takfir –
Maka Allah pun mengampuninya (2). Padahal, keraguan terhadap kemampuan Allah adalah kekafiran, karena tidak boleh menyifati Allah dengan kelemahan. Akan tetapi, karena hal itu muncul dari rasa takutnya kepada Allah Azza wa Jalla, ia menyangka bahwa pelarian dari Allah ini dapat menyelamatkannya dari siksa-Nya.
Oleh karena itu, wahai saudara-saudaraku, harus diperhatikan dua perkara penting dalam takfir:
 *Perkara Pertama:** Petunjuk dalil bahwa perbuatan ini adalah kekafiran yang mengeluarkan seseorang dari agama.
 *Perkara Kedua:** Penerapan hukum ini kepada orang tertentu (*asy-syakhshul mu'ayyan*). Karena bisa jadi ada penghalang-penghalang (*mawani'*) yang mencegah ia dikafirkan, meskipun ucapan atau perbuatan tersebut merupakan kekafiran. Penghalang-penghalang ini telah makruf (diketahui) dalam syariat, walhamdulillah.
Jika kedua syarat tersebut belum terpenuhi, maka barangsiapa yang mengafirkan saudaranya, dialah yang kembali menjadi kafir. Karena Nabi \rho telah mengabarkan bahwa barangsiapa yang memanggil seseorang dengan kekafiran, atau berkata: "Wahai musuh Allah," padahal kenyataannya tidak demikian, maka tuduhan itu akan kembali kepada dirinya sendiri, dan dialah yang menjadi kafir, dialah musuh Allah (1).
Jika ada orang bertanya: Bagaimana bisa ia menjadi kafir, padahal ia mengafirkan orang ini semata-mata karena kecemburuannya terhadap agama Allah Azza wa Jalla?
Kami jawab: Karena ia telah kafir dari sisi lain; yaitu ia telah menjadikan dirinya sebagai pembuat syariat bersama Allah, dengan menghukumi orang ini dengan kekafiran padahal Allah Ta'ala tidak mengafirkannya. Ia telah menjadikan dirinya sebagai tandingan bagi Allah Azza wa Jalla dalam hal takfir. Ini dari satu sisi. Dari sisi lain: hatinya bisa jadi akan dikunci (dari kebenaran)—kita berlindung kepada Allah dari hal itu—sehingga...
(1) Diriwayatkan oleh Al-Bukhari No. (6480) dan Muslim No. (2756) dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
(2) Lihat pembahasan sebagian hadis-hadis ini di pengantar kitab ini.
### Halaman 44
– Fitnah Takfir –
...akhirnya ia benar-benar kafir kepada Allah dengan kekafiran yang nyata dan jelas. Maka perkara ini sangatlah berbahaya.
Kita tidak berhak mengafirkan orang yang tidak dikafirkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Sebagaimana kita juga tidak berhak mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Dan kita tidak berhak menghalalkan sesuatu yang tidak dihalalkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Serta kita tidak berhak mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Apakah ajakan untuk mengikuti manhaj Salafush Shalih dan menjauhi hizbiyyah (fanatisme golongan/kelompok) merupakan tugas setiap orang atau hanya tugas para ulama saja? Jika itu tugas setiap orang, bagaimana cara melakukannya?

Pertanyaan:

Apakah ajakan untuk mengikuti manhaj Salafush Shalih dan menjauhi hizbiyyah (fanatisme golongan/kelompok) merupakan tugas setiap orang atau hanya tugas para ulama saja? Jika itu tugas setiap orang, bagaimana cara melakukannya? 

Jawaban Syekh Shalih al-Syaikh:

  • Tuntutan untuk Semua Orang: Ajakan kepada manhaj Salafush Shalih dan menjauhi hizbiyyah adalah tuntutan bagi semua orang (masyarakat umum dan ulama). Hal ini karena realitas menunjukkan bahwa sempitnya ruang gerak dakwah Islam dan dakwah ilallah justru bersumber dari adanya hizbiyyah 
  • Dampak Negatif Hizbiyyah: Hizbiyyah membuat seseorang bergerak di lingkaran yang sangat sempit. Syekh menceritakan bahwa sekitar 20 tahun lalu di negeri tersebut (Arab Saudi), ada masa di mana seorang pemuda tidak mau bergaul kecuali dengan pemuda dari kelompoknya saja. Mereka bahkan tidak tahu cara berdakwah kepada keluarga sendiri, dan jika ada teman yang ingin berkumpul untuk membaca buku, pintunya sering kali ditutup. Ini adalah pemahaman dakwah yang salah akibat pengaruh hizbiyyah yang menutup diri  Meskipun dalam 10–12 tahun terakhir kondisi ini sudah lebih terbuka, sisa-sisa pengaruh hizbiyyah yang membuat hati sempit dan kaku masih ada di sebagian jiwa orang  Oleh karena itu, bagi orang-orang yang berakal dan objektif, menjauhi hizbiyyah adalah tuntutan umum bagi semua orang 
  • Kondisi Mayoritas Masyarakat: Ada persepsi keliru di benak sebagian saudara kita yang mengira bahwa mayoritas pemuda, orang tua, maupun wanita yang sedang semangat menuju kebaikan saat ini (fenomena kebangkitan Islam/sahwah) terafiliasi ke dalam kelompok atau partai tertentu  Syekh menegaskan bahwa hal tersebut tidak benar. Orang-orang yang memiliki afiliasi kelompok (hizb) di tengah gelombang antusiasme agama yang besar ini mungkin tidak sampai 20% Mayoritas masyarakat umum sebenarnya hanya terpengaruh oleh lingkungan sekitar mereka. Siapa pun yang menyampaikan kebaikan kepada mereka dengan cara yang benar ataupun kurang benar, mereka akan mengikutinya karena mereka belum memiliki bekal ilmu yang cukup untuk membedakan secara mendalam antara yang haq dan yang batil Mereka hanya melihat kemungkaran lalu datang seseorang yang membangkitkan rasa cemburu (ghirah) mereka terhadap agama, sehingga mereka menyambutnya, tanpa peduli orang tersebut dari kelompok mana

  • Sikap yang Bijak dalam Berdakwah:
    • Jangan Mudah Menuduh: Kita tidak boleh sembarangan memastikan atau menuduh seseorang secara personal sebagai anggota kelompok tertentu (hizbiyyah) kecuali dengan syarat-syarat khusus yang pasti .Kebanyakan hal itu hanyalah prasangka (zhun), sedangkan hukum syariat tidak boleh dibangun di atas prasangka, melainkan harus di atas fakta yang nyata 
    • Pemberian Peringatan yang Tepat Sasaran: Peringatan terhadap bahaya hizbiyyah harus diarahkan kepada orang yang memang nyata-nyata terjebak di dalamnya, seperti orang yang fanatik buta pada kelompoknya, berlebih-lebihan (ghuluw), atau memaksa orang lain untuk bergabung ke kelompoknya 
    • Jangan Membingungkan Masyarakat Awam: Jika kita membicarakan masalah kelompok/hizbiyyah ini di hadapan masyarakat awam yang sama sekali tidak tahu-menahu tentang adanya kelompok-kelompok tersebut, hal itu justru bisa menimbulkan keraguan di dalam hati mereka untuk berkomitmen dalam agama (iltizam) 
    • Menggunakan Ilmu dan Hikmah: Masalah ini tidak boleh dibicarakan secara mutlak (serampangan) dan tidak boleh pula ditinggalkan sama sekali. Pembahasannya harus diletakkan dalam batasan syariat dengan ilmu, hikmah, dan bashirah (pandangan yang jernih) . Berdasarkan kaidah syariat, dakwah bertujuan untuk meraih maslahat dan menolak mafsadat (kerusakan)  Sangat tidak bijak jika kita mendatangi orang awam yang baru mau belajar agama, lalu kita mencekoki mereka dengan kritikan terhadap kelompok A atau kelompok B, karena akal mereka belum tentu bisa menerimanya dan hal itu justru bisa membuat mereka lari dari kebaikan 
    • https://youtu.be/eP6cN4O_PBM?si=l5fG3JYBM8izvf6i