Kamis, 05 Maret 2026

KEWAJIBAN MEMBAYAR PAJAK DAN KERJA DI PERPAJAKAN

KEWAJIBAN MEMBAYAR PAJAK DAN KERJA DI PERPAJAKAN

Penanya: Agus Sukana - Jakarta

Islam sudah memiliki aturan pajak baku yang bernama zakat maal, sehingga harta yang diambil dari kaum muslimin yang diluar aturan zakat maal maka hukum asal nya adalah bukan bagian dari syariat. 

Dan perkara pajak diluar zakat maal adalah perkara yang sifatnya dinamis tergantung kondisi negara, jika negara membutuhkan dana yang maslahatnya kembali Ummat, sedangkan kas negara sedang kosong maka saat itu diperbolehkan mengambil pajak dari sebagian rakyat yang memiliki kelebihan harta alias orang kaya. 

Hal hal yang bermanfaat di sini contohnya untuk pembangunan masjid, madrasah, rumah sakit, jalan raya dll. 

Maka dalam kasus ini pihak yang dimintai pajak wajib berpartisipasi. 

Namun jika pemakaian pajak tersebut hanya untuk perkara yang tidak bermanfaat untuk ummat, hanya dibuat hura hura, foya-foya, kerusakan atau hal hal yang haram maka saat itu pajak sifat nya haram diberlakukan. 

Penggunaan pajak untuk perkara yang tidak bermanfaat contoh nya untuk acara acara seremonial, pesta pesta, kepentingan pribadi, perlombaan perlombaan, jalan jalan rekreasi atau manfaat nya tidak kembali kepada fakir miskin maupun kelompok kelompok yang berhak menerima zakat yang telah ditentukan dalam islam. 

Maka siapapun dalam hal ini boleh tidak ikut serta dalam pembayaran pajak. 

Syeikh Jibrin rahimahullah berkata:

وإن كانت تجمع ضرائب زائدة عن الزكاة، ولكن بيت المال بحاجة إلى تموين للمصالح الضرورية كالمدارس، والقناطر، والمساجد، وخدام الدولة جاز دفعها

Jika pajaknya melebihi kadar wajib zakat dan kas negara sedang butuh untuk maslahat darurat seperti pembangunan sekolah, jembatan, masjid, pembantu/pegawai negara, maka boleh membayar pajak. 

أما إن كانت الدولة تأخذ ضرائب على المواطنين غير الزكاة، وتعبث بها في إسراف وفساد، ولهو وسهو وحرام، ولا تصرفها في مصارفها الشرعية كأهل الزكاة، 

Adapun jika negara mengambil pajak diluar zakat, dan dipakai untuk hal-hal yang mubadzir, hal yang sia-sia, dan perkara yang haram dan tidak disalurkan kepada yang seharusnya seperti yang berhak menerima zakat

فإنه يجوز كتمان المال، أو الأرباح حتى لا يدفع لهم مالا حرامًا فيساعدهم على فعل المحرمات

Maka boleh menyembunyikan harta atau keuntungan supaya tidak membantu mereka dalam  perbuatan yang haram. Lihat  fatawa Ibnu Jibrin. 

Kemudian pajak yang diperbolehkan dalam islam tersebut yang diperlukan untuk kebutuhan mendesak sifatnya hanya sementara bukan sebuah peraturan maupun undang undang yang baku. 

Kapan kebutuhan nya sudah berakhir maka pajak tersebut wajib berhenti. 

Syeikh Albany rahimahullah berkata:

ليس هناك ضرائب تُتخذ قوانين في الإسلام ، وإنما يمكن للدولة المسلمة أن تفرض ضرائب معينة لظروف خاصة ، فإذا زالت زالت .

Tidak ada pajak yang dijadikan undang undang dalam islam. 

Akan tetapi mungkin bagi negara muslimah menerapkan pajak dalam kondisi tertentu, dan jika kondisi tertentu tersebut sudah selesai maka pajak juga selesai. Lihat fatawa Imarotiyah kaset 1.

Adapun menjadikan pajak sebagai aturan baku dalam bernegara adalah budaya negara negara barat kafir. 

Dan sudah barang tentu meniru budaya orang kafir hanya menghasilkan kerusakan dan berbagai mudhorot yang menimpa kaum muslimin. 

Syeikh Albany rahimahullah berkata:

فهؤلاء الحكام مع الأسف صدق فيهم قول الله عز وجل الموجه إلى اليهود : (( أستبدلون الذي هو أدنى بالذي هو خير )) فهم استبدلوا الضرائب بالشريعة

Mereka para penguasa itu sangat disayangkan sekali masuk kategori firman Allah yang ditujukan kepada orang-orang Yahudi (apakah kalian mengganti yang lebih baik dengan yang paling rendah?)

Maka mereka mengganti syariat dengan pajak. 

وهذا بلا شك سيكون عاقبة الأمر ، مش سيكون ، كان عاقبة الأمر كما ترون مما أصاب المسلمين من الذل والهوان حتى على أذل الأمم وهم اليهود

Dan ini tidak diragukan lagi akibatnya apa yang akan terjadi? 

Akibatnya sebagaimana yang menimpa kaum muslimin dari kehinaan dan kerendahan sampai lebih hina dari pada ummat manusia yang paling hina yaitu orang orang Yahudi. Lihat silsilah huda wa Nur kaset 495.

Lantas bagaimana dengan pegawai pajak? 

Hal ini kembali kepada kaidah mengambil mudhorot yang paling ringan. 

ارتكاب أخف الضررين

Syeikh Utsaimin rahimahullah berkata:

وأمّا الوظيفة في هذه الأعمال فإذا كان الإنسان يريد أن يتوظف من أجل أن يقلّل الظّلم فهذا لا بأس به ويؤجر على ذلك

Dan adapun bekerja di perpajakan ini, jika seseorang kerja di bidang ini ingin berperan meringankan kedzaliman ini maka ini tidak mengapa dan dia mendapatkan pahala. 

وأما إذا كان يتوظّف فيها ... من هذا الظّلم ولا يخفّفه فإنّه لا يجوز لأنّه لا تجوز إعانة الظّالم على ظلمه

Dan adapun jika dia kerja di situ di kedzaliman ini dan tidak meringankan atau menekan angka kedzaliman nya maka itu tidak boleh, tidak boleh membantu orang dzalim atas kedzaliman nya. Lihat syarh bulugul marom kitab Thoharoh Syeikh Utsaimin 03.

Muhammad Yusuf Rustam

Sidayu, 18 Shofar 1447 H/11 Agustus 2025 M
https://www.facebook.com/share/1bNzbtU9gz/

Hingga 31 Agustus, Pendapatan Negara Tahun 2025 Catatkan Rp1.638,7 T https://share.google/Vk7LwgWz9AkJnIK5V

’Klasemen Liga Korupsi Indonesia’ Ramai, Berikut Urutannya! - UMJ https://share.google/sjonxGYkCAAPDvzqs