Rabu, 04 Maret 2026

Atsari, Asy‘ari, dan Konflik Almoravid (Almurabithun)–Almohad (Almuwahhidun): Sebuah Catatan Sejarah

Atsari, Asy‘ari, dan Konflik Almoravid (Almurabithun)–Almohad (Almuwahhidun): Sebuah Catatan Sejarah

Dalam sejarah Islam Barat (Maghrib dan Andalusia), pernah terjadi konflik besar antara dua kekuatan Sunni, yaitu Dinasti Almoravid dan Dinasti Almohad pada abad ke-12. Konflik ini sering dijadikan contoh bagaimana perbedaan pendekatan teologi dapat beririsan dengan dinamika politik dan kekuasaan.

Dinasti Almoravid dikenal sebagai kerajaan Sunni yang kuat berpegang pada fiqh Maliki dengan pendekatan aqidah Atsari. Pendekatan ini menekankan penerimaan terhadap ayat-ayat sifat sebagaimana datang dalam Al-Qur’an dan hadits, tanpa menanyakan “bagaimana” dan tanpa melakukan penafsiran metaforis yang luas. Ulama pada masa itu lebih fokus pada hadits, fiqh, serta pembinaan moral masyarakat, dan relatif berhati-hati terhadap spekulasi teologis atau filsafat.

Situasi berubah ketika muncul seorang ulama dari Maghrib bernama Ibn Tumart yang membawa gagasan reformasi keagamaan. Setelah belajar di Timur Islam dan terpengaruh oleh tradisi teologi kalam, ia mengkritik keras pendekatan keagamaan Almoravid. Menurutnya, pemahaman literal terhadap ayat-ayat sifat dapat berpotensi menimbulkan kesan penyerupaan Tuhan dengan makhluk (tajsim). Kritik teologis ini kemudian berkembang menjadi gerakan politik yang melahirkan Dinasti Almohad.

Gerakan Almohad akhirnya menggulingkan kekuasaan Almoravid pada tahun 1147 M. Peristiwa ini menandai perubahan besar dalam lanskap intelektual Maghrib. Diskursus teologi rasional dan filsafat berkembang lebih luas, sementara pengaruh teologi Asy‘ari semakin menguat di kawasan Afrika Utara dan Andalusia.

Dari peristiwa ini kita dapat mengambil pelajaran penting: perbedaan pendekatan teologis dalam Islam tidak selalu berdiri sendiri sebagai diskusi ilmiah, tetapi sering kali berkelindan dengan faktor sosial, politik, dan kekuasaan. Sejarah menunjukkan bahwa perdebatan aqidah yang awalnya bersifat intelektual dapat berubah menjadi konflik besar ketika masuk ke ranah politik.
Ustadz noor akhmad setiawan