Tisue dan tisue basah.
Munculnya keraguan pada sebagian orang, klo bersuci setelah buang air kecil dan buang air besar itu wajib pakai air.
Sekedar mengingatkan saja, bahwa bersuci setelah buang hajat itu ada istinja' (yaitu membasuh kemaluan tempat keluarnya najis dengan air) dan istijmar (yaitu mengusap kemaluan tempat keluarnya najis dengan batu dan semisalnya).
Catatan
1. Istijmar dengan batu, dqun kering atau tisu toliet, lalu lanjut istinja' dengan air, maka ini yg paling afdhol. Dan juga sepertinya jarang kita lakukan.
2. Istinja' dengan air saja, maka ini juga afdhol (setelah nomer 1)
3. Istijmar saja tanpa istinja' maka ini boleh dan sah. Sesuai dengan konsesus ulama' semua madzhab. Bahkan ia adalah kesepakatan para sahabat.
قال الموفق ابن قدامة رحمه الله تعالى: "الاقتصار على الاستجمار جائزٌ بغير خلافٍ بين أهل العلم، وهو إجماع الصحابة "، انتهى كلامه رحمه الله تعالى
Al-Muwaffaq Ibnu Qudāmah rahimahullāh berkata: “Mencukupkan diri dengan istijmar hukumnya boleh tanpa ada perselisihan di antara para ulama. Itu merupakan ijma' (kesepakatan) para sahabat radhiyallāhu ‘anhum.”
Selesai ucapan beliau rahimahullāh.
Maka bersuci dr najis dengan hanya mengandalkan tisu toilet saja itu sah. Apalagi jika stock air di toilet bis, kereta, atau pesawat menipis. Maka selain sah, juga dekat dengan maslahat.
Lalu muncul pertanyaan, apa saja syarat sah istijmar dengan tisu
1. Dengan 3 kali tisue atau lebih jika dirasa bekas najisnya blm hilang. Sebagian ulama mengatakan dengan 3 kali usapan walaupun dr satu tisu.
2. Sebaiknya Tisu tersebut tidak basah. Kenapa? Karena jika basah malah menyebarkan najis yg diusap.
يُشتَرَطُ فيما يُستجمَرُ به ألَّا يكونَ مائعًا؛ وهذا مَذهَبُ الجُمهورِ: المالكيَّة ، والشافعيَّة ، والحنابلة ؛ وذلك لأنَّ المُستجمَرَ به إنْ كان مائعًا، فالنجاسةُ قد تنتشِرُ أكثَرَ؛ ولأنَّه سوف يتنجَّسُ بمجرَّد الملاقاةِ، فيكون ما يُصيبُ البَدَنَ منه نجسًا، والنَّجِسُ لا يُطهِّرُ
Disyaratkan bahwa benda yang digunakan untuk istijmar tidak berupa cairan. Ini merupakan mazhab jumhur ulama: Malikiyyah, Syafi‘iyyah, dan Hanabilah. Sebab apabila benda yang digunakan itu berupa cairan, maka najis justru akan semakin menyebar. Selain itu, cairan tersebut akan langsung menjadi najis hanya dengan bersentuhan, sehingga apa yang mengenainya pada tubuh akan menjadi najis. Sedangkan sesuatu yang najis tidak dapat menyucikan.
من شروط الاستجمار أن يكون الشيء المستعمل جافاً غير مبتل كحجر وقطن وصوف، أما إذا كان مبتلاً فلا يجوز الاستجمار به لأنه ينشر النجاسة.
Di antara syarat istijmar adalah bahwa benda yang digunakan harus kering dan tidak basah, seperti batu, kapas, dan kain wol. Adapun jika benda tersebut basah, maka tidak boleh digunakan untuk istijmar karena justru akan menyebarkan najis.
Materi2 ringan seperti ini seringkali kami sampaikan ke jamaah umrah, terkait fiqih safar dan fiqih umrah.
Yuk umrah bersama Batik Travel
Ustadz kukuh abu yumna