Rabu, 31 Desember 2025

Asyairah: Allah Tidak Berbuat;Bukhari: Keyakinan Allah Tidak Berbuat Adalah Keyakinan Jahmiyah

Asyairah: Allah Tidak Berbuat;
Bukhari: Keyakinan Allah Tidak Berbuat Adalah Keyakinan Jahmiyah

Kelompok Asya'irah mutaakhkhirin (zaman belakangan ini) meyakini bahwa Allah itu tidak memiliki perbuatan. Bagi mereka, menyandangkan perbuatan pada dzat Allah merupakan sesuatu yang mustahil bagi Allah. Oleh karena itu, segala perbuatan Allah itu bagi mereka merupakan makhluk, atau sesuatu yang Allah ciptakan. 

Syaikh Sa'id Faudah sebagai ulama Asya'irah saat ini menyebutkannya dalam kitab bantahannya terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang berjudul "Naqdhu ar-Risalah at-Tudmuriyyah." Dalam kitab tersebut, ia berkata:

والفعل يستحيل كونه قائما بذات الله تعالى لأنه يلزم على ذلك قيام الحادث بالله تعالى

"Dan perbuatan bagi Allah mustahil ia berdiri sendiri pada dzat Allah -Ta'ala-, karena hal itu akan berakibat pada adanya sesuatu yang baru (hadits) pada Allah." (Naqdhu ar-Risalah at-Tudmuriyah: 25) 

Keyakinan ini jauh hari sudah dijelaskan oleh imam Bukhari -rahimahullah- bahwa ia merupakan keyakinan Jahmiyah. 

Imam Bukhari -rahimahullah- berkata:

وقالت الجهمية: الفعل والمفعول واحد لذلك قالوا لـ"كن" مخلوق

"Kelompok Jahmiyah berkata bahwa fi'il (perbuatan) dan maf'ul (objek yang dikerjakan) adalah satu (sama) .' Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa kata 'Kun' (Jadilah) adalah makhluk." (Khalqu Af'al al-Ibad: 817) 

Ahlussunnah berkeyakinan bahwa perbuatan Allah itu adalah perbuatan yang dilakukan sendiri oleh Allah sesuai kehendaknya, bukan perbuatan makhluk yang kemudian dinisbatkan pada Allah. 

Imam Bukhari -rahimahullah- menjelaskan bahwa orang Arab tidak mengetahui yang hidup kecuali dia memiliki perbuatan. 

Imam al-Bukhari -rahimahullah- berkata:

ولقد بين نعيم بن حماد رحمه الله تعالى أن كلام الرب ليس بمخلوق وأن العرب لا تعرف الحي من الميت إلا بالفعل

"Imam Nu'aim bin Hammad telah menjelaskan bahwa kalam Allah bukanlah makhluk, dan orang Arab tidak dapat membedakan sesuatu yang hidup dengan sesuatu yang mati kecuali dengan adanya perbuatan. " (Khalqu Af'al al-Ibad: 705) 

Terkait klaim Syaikh Sa'id Faudah bahwa jika perbuatan ada pada Allah maka itu mengakibatkan adanya sesuatu yang baru pada Allah dan sesuatu yang baru itu adalah makhluk, maka ini adalah sesuatu yang batil.  Bahkan, keyakinan inilah yang dibantah oleh para ahli hadits zaman dahulu dan sebagian ahli kalam. 

Imam Ibnu Katsir -rahimahullah- ketika menjelaskan keyakinan Makmun yang berakidah Muktazilah, dimana ia meyakini bahwa setiap yang baru adalah makhluk, maka beliau berkata:

وهذا الأمر لا يوافقه عليه كثير من المتكلمين ولا المحدثين فإن القائلين بأن الله تعالى تقوم به الأفعال الاختيارية لا يقولون بأن فعله تعالى القائم بذاته المقدسة -بعد أن لم يكن- مخلوق بل يقولون محدث وليس لمخلوق 

"Dan perkara ini tidak disepakati oleh banyak kalangan ahli kalam maupun ahli hadits. Karena sesungguhnya, mereka yang berpendapat bahwa pada dzat Allah -Ta’ala- terdapat perbuatan-perbuatan ikhtiari (Yang Allah lakukan sesuai keinginanNya sendiri) tidak mengatakan bahwa perbuatan Allah yang ada pada dzatNya yang suci itu—setelah sebelumnya tidak ada—sebagai 'makhluk'. Melainkan, mereka menyebutnya sebagai 'muhdats' (sesuatu yang baru terjadi), namun bukan 'makhluk. " (Al-Bidayah Wa an-Nihayah: 5/308) 

Jadi, keyakinan Asya'irah zaman ini sesungguhnya berseberangan dengan keyakinan ahli hadits bahkan kelompok Ahli kalam zaman dahulu. Bahkan, mereka yang saat ini berkeyakinan bahwa perbuatan Allah itu adalah makhluk, sesungguhnya telah menghidupkan keyakinan Jahmiyah yang batil. 

Wallahu a'lam.
ustadz abu said al munawi