Rabu, 31 Desember 2025

SEDIKIT MENGINGKARI

SEDIKIT MENGINGKARI

Syaikh Prof. Dr. Abdul Salam Asy-Syuwai‘ir hafizhahullāh berkata:

“Setiap kali ilmu seseorang bertambah, semakin berkurang sikap mengingkarinya. Bertambahnya ilmu adalah sebab berkurangnya pengingkaran.

Adapun orang yang hanya mengetahui satu pendapat saja, dan ilmunya hanya sebagian,
betapa sering ia mengingkari perkara-perkara
yang sebenarnya masih berada dalam ranah mubah,
bahkan masih berada dalam lingkup perbedaan pendapat (yang mu‘tabar).

Berikut teks asli yg kami ambil dari video beliau

كلما زاد علم المرء قل إنكاره، العلم زيادته سبب لقلة الإنكار، وأما الذي لا يعرف إلا قولا واحدا ، ويعرف من العلم بعضه، فما أكثر ما ينكر أشياء هي دائرة في دائرة المباح، بل بدائرة القول والقول الآخر

————-

Di antara buah dari mendalami ilmu adalah membuat Anda 'kecelik'. “oh ternyata begitu toh, tak kira begini"

sering²lah belajar lebih dalam, perbanyak referensi niscaya anda akan 'kecelik'. karena ilmu itu tidak jumud. Sering kali kita mengingkari sesuatu, bukan karena sesuatu itu salah, namun karena keterbatasan pengetahuan kita...

الناس أعداء ما جَهلوا

" Manusia adalah musuh dari apa yang tidak ia ketahui"

so, jika dia melihat sesuatu yang berbeda dari yang dia ketahui, Dia langsung tancap gas mudah mencelanya dan menganggapnya salah.

Simak nasihat Imam Syafii:

" العلم أربعة أرباع (أو أربعة مراحل) : من تعلَّم الأولى ظن أنه أعلم الناس، فيزيد إنكاره ولم يقبل إلا موافقًا له .فإذا تعلم الثانية علم أن ما فاته من العلم كثير .فإذا تعلم الثالثة علم أن ما فاته أكثر بكثير مما بلغه، فيظهر تواضعه، و يكثر توقفه، وقل إفتاؤه،ويعلم أنه لم يحط بعشر معشار معشار العلم .و كما أُثر واشتهر من القول:أن المرء كلما كثر علمهُ قلَّ كلامه .أما الرابعة فلا يصل إليها أحد ولا ينالها لإن العلمَ لا منتهى له ".

Imam asy-Syafi’i rahimahulllah berkata:

“Ilmu itu terbagi menjadi empat bagian tahapan:

1. Orang yang mempelajari tahap pertama, ia menyangka dirinya sebagai orang paling berilmu. Maka bertambahlah sikapnya dalam mengingkari, dan ia tidak mau menerima kecuali pendapat yang sesuai dengannya.

2. Ketika ia mempelajari tahap kedua, ia menyadari bahwa ilmu yang luput darinya masih sangat banyak.

3. Ketika ia mempelajari tahap ketiga, ia mengetahui bahwa ilmu yang terlewat darinya jauh lebih banyak lagi dibandingkan yang telah ia capai. Maka tampaklah kerendahan hatinya, ia semakin sering berhenti (tidak tergesa-gesa), semakin sedikit berfatwa, dan ia sadar bahwa ia belum menguasai sepersepuluh dari sepersepuluh dari sepersepuluh ilmu.

Dan sebagaimana telah diriwayatkan dan masyhur dalam ungkapan para ulama: semakin banyak ilmu seseorang, semakin sedikit ucapannya.

3. Adapun tahap keempat, maka tidak ada seorang pun yang dapat mencapainya dan meraihnya, karena ilmu itu tidak memiliki batas akhir.”

——/

Yuk, kita terus belajar….
Ustadz fadlan fahamsyah