Tidak Boleh Sembarangan Menerapkan Hadits-Hadits Fitnah Akhir Zaman kepada Tokoh Tertentu atau Kejadian Kontemporer Tertentu
Di antara kaidah yang dijelaskan oleh para ulama’ mengenai hadits-hadits yang berisi tentang fitnah atau huru-hara akhir zaman adalah: Tidak boleh bagi kita untuk sembarangan menerapkan hadits-hadits tersebut kepada tokoh tertentu atau kejadian kontemporer tertentu yang sedang terjadi saat ini. Itu karena kita tidak memiliki hujjah yang benar-benar kuat bahwa yang dimaksudkan oleh hadits-hadits tersebut adalah tokoh tertentu atau kejadian tertentu tersebut.
Sebagian orang belakangan ini ada yang berbicara tentang sebuah riwayat hadits yang berisikan tentang akan munculnya seorang pemimpin dari keturunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di negeri Syam, di mana setelah itu dia akan digantikan oleh seorang al-Hasyimiy (seseorang dari keturunan Bani Hasyim), yang di zamannya Allah akan mengembalikan persatuan dan kenikmatan kepada manusia hingga Dajjal keluar. Orang tersebut berkata bahwa yang dimaksud dengan pemimpin di negeri Syam yang disebutkan dalam hadits tersebut adalah presiden Suriah saat ini, yaitu Ahmad asy-Syara’.
Sebenarnya ada banyak pembahasan tentang derajat keshahihan dari hadits tersebut. Tetapi, jika pun kita asumsikan haditsnya shahih, maka tidak boleh secara sembarangan dan tergesa-gesa menafsirkan bahwa yang dimaksud oleh hadits tersebut adalah tokoh tertentu atau kejadian kontemporer tertentu. Ini karena hadits tersebut tidak secara jelas atau sharih menunjukkan kepada tokoh tertentu, sehingga kita tidak memiliki hujjah yang kuat bahwa yang dimaksudkan oleh hadits tersebut adalah tokoh tertentu tersebut. Selain itu, seiring pergantian zaman, bisa jadi akan ada beberapa tokoh atau kejadian yang memiliki sifat yang mirip seperti yang disebutkan dalam hadits, tetapi itu bukanlah tokoh atau kejadian yang sebenarnya dimaksudkan oleh hadits tersebut.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا
“Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, pendengaran, dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” [1]
Selain itu, perbuatan sembarangan menafsirkan hadits-hadits yang berisi tentang fitnah akhir zaman kepada suatu tokoh tertentu atau kejadian kontemporer tertentu itu dapat mengakibatkan kemadharatan yang besar.
Bahkan ini adalah di antara sebab terbesar yang dapat membuat sebagian orang (terutama para pemuda) yang memiliki semangat beragama yang tinggi tetapi ilmu agamanya sedikit untuk kemudian berubah menjadi berpemahaman Khawarij dan bahkan menjadi teroris.
Ketika mereka mendengar pembahasan bahwa tokoh tertentu atau kejadian kontemporer tertentu itulah yang dimaksud dalam sebuah hadits yang berbicara tentang fitnah akhir zaman, maka mereka akan mudah diarahkan untuk bergabung dengan kelompok-kelompok Khawarij dan diarahkan untuk berjihad (padahal itu bukanlah jihad yang syar’iy).
Akan muncul dalam diri mereka perasaan urgensi bahwa inilah saatnya untuk bergerak dan berperang. Mereka akan mudah diarahkan sesuai keinginan orang yang hendak merekrut mereka menjadi teroris, dengan cara membenamkan dalam diri mereka perasaan urgensi seperti yang juga timbul pada diri seorang korban penipuan ketika pelaku penipuan menerapkan social engineering (yakni, penipuan) kepada korbannya.
Akan timbul dalam diri mereka rasa takut yang menghantui, karena mereka dicekoki dengan berbagai cocoklogi, bahwa yang dimaksud oleh hadits-hadits tersebut adalah tokoh tertentu atau kejadian kontemporer tertentu yang saat ini sudah terjadi di depan mata. Rasa takut akan menghantui mereka, dan mereka akan merasa tidak ada gunanya lagi untuk menggapai cita-cita mereka dan menempuh kehidupan mereka secara normal, karena kejadian-kejadian akhir zaman sudah begitu nyata muncul di hadapan mereka.
Bukankah beragama yang dilandasi dengan rasa takut saja itu memang sifat Khawarij? Mereka melandaskan agama mereka pada khauf (rasa takut) dan memiliki sedikit sekali raja’ (rasa harap), padahal dalam akidah ahlus-sunnah kita harus seimbang antara khauf dan raja’.
Makhul ad-Dimasyqiy rahimahullah berkata,
من عبد الله بالخوف وحده فهو حروري، ومن عبده بالرجاء وحده فهو مرجئ، ومن عبده بالحب وحده فهو زنديق، ومن عبده بالخوف والرجاء والحب فهو موحد.
“Barangsiapa yang beribadah kepada Allah dengan khauf (rasa takut) saja maka dia adalah haruriy (Khawarij). Barangsiapa yang beribadah kepada-Nya dengan raja’ (rasa harap) saja maka dia adalah murji’. Barangsiapa yang beribadah kepada-Nya dengan hubb (rasa cinta) saja maka dia adalah zindiq. Dan barangsiapa yang beribadah kepada-Nya dengan khauf, raja’, dan hubb, maka dia adalah muwahhid (orang yang mentauhidkan Allah).”
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melindungi kita dari berbagai fitnah akhir zaman, dan dari madharat yang ditimbulkan oleh orang-orang yang berbicara tanpa ilmu.
Ustadz Dr. Andy Octavian Latief
Artikel andylatief.com
https://andylatief.com/2025/12/28/tidak-boleh-sembarangan-menerapkan-hadits-hadits-fitnah-akhir-zaman-kepada-tokoh-tertentu-atau-kejadian-kontemporer-tertentu/
Footnotes:
1. Surat al-Isra’: 36.