Td shalat di mushola Bandara yg jamaahnya terdiri dari banyak kaum muslimin dari beberapa negara.
Salah satu maju jd imam dan memerintahkan salah satu jama'ah untuk iqomah. Lalu seaeorang (yg saya tebak dia adalah berkebangsaan ubjekistan) iqomah dengan lafadz seperti adzan dengan ditambah lafadz qod qoomatish shalah 2x. Sontak beberapa jamaah indonesia dan negara lainnya pun langsung bengong. Beberapa ada yg mencelanya. Mungkin dalam benak mereka, ini iqomah kok aneh banget.
Saya langsung mbatin, ini orang pasti hanafy. Karena menurut mereka iqomah ya seperti adzan.
Hal ini sebenarnya dibahas di beberapa kitab seperti bulughul maram, bidayatul mujtahid dan beberapa kitab fiqih. Cm gegara kebanyakan orang tdk membaca kitab2 tersebut, maka tidak tahu klo ini adalah khilaf yg mu'tabar.
Disebutkan dalam situs islamqa
أن تكون ألفاظ الإقامة كألفاظ الأذان تماماً ، ويزيد عليها قد قامت الصلاة مرتين
فتكون كلماتها سبع عشرة كلمة ، وهذا مذهب الحنفية وقولٌ للشافعية .
انظر : "المبسوط" (1/219) .
Bahwa lafaz-lafaz iqamah sama persis dengan lafaz-lafaz azan persis, hanya ditambah dengan kalimat “qad qaamatish shalah” dua kali.
Dengan demikian, jumlah kalimatnya ada tujuh belas kalimat. Ini merupakan mazhab Hanafiyah dan salah satu pendapat dalam mazhab Syafi‘iyah. Lihat: Al-Mabsūṭ (1/219).
وهذه إقامة أبي محذورة رضي الله عنه ، التي علمه إياها رسول الله صلى الله عليه وسلم .
فعن أبي محذورة رضي الله عنه : (أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّمَهُ الْإِقَامَةَ سَبْعَ عَشْرَةَ كَلِمَةً
Ini adalah iqamah Abu Mahdzurah radhiyallahu ‘anhu, yang diajarkan kepadanya oleh Rasulullah.
Dari Abu Mahdzurah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ mengajarkan kepadaku iqamah yang terdiri dari tujuh belas kalimat:
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ ، قَدْ قَامَتْ الصَّلَاةُ ، قَدْ قَامَتْ الصَّلَاةُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
(HR. Abu Dawud no. 502 dan at-Tirmidzi no. 192, dan dinilai sahih oleh al-Albani).
وكل ما ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم فهو سنة ، ينبغي العمل به ، فلا حرج أن يقيم المؤذن بإقامة بلال أو إقامة أبي محذورة ، رضي الله عنهما كلها .
Segala sesuatu yang tetap (sahih) dari Nabi ﷺ adalah sunnah yang sepatutnya diamalkan. Oleh karena itu, tidak mengapa seorang muazin melakukan iqamah dengan iqamah Bilal atau iqamah Abu Mahdzurah, radhiyallahu ‘anhumaa
Ustadz kukuh abu yumna