....Wahai Syaikh kami, semoga Allah memberkati Anda. Mengenai hadits:
«يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ»
(Yang mengimami suatu kaum adalah yang paling aqra' terhadap Kitabullah di antara mereka).
Apakah yang dimaksud adalah yang paling hafal, atau yang paling itqan? Saya bertanya, ataukah yang paling faqih itu lebih baik?
Baik, yang mengimami kaum adalah yang paling aqra. Orang yang paling aqra di antara manusia adalah Ubay (bin Ka'ab). Dan terdapat hadits mengenai hal ini, namun yang rajih (kuat) adalah bahwa hadits tersebut mudraj (tambahan dari perawi) menurut Imam At-Tirmidzi:
«أَقْرَأُهُمْ أُبَيٌّ»
(Yang paling aqra di antara mereka adalah Ubay).
Banyak ahli hadits menjelaskan tentang hadits:
«أَقْرَأُ أُمَّتِي أُبَيٌّ»
(Yang paling aqra di umatku adalah Ubay).
Namun, ketika Nabi shallallahu alaihi Wasallam ditimpa musibah kematian dan beliau sedang dalam sakit menjelang wafatnya, siapakah yang beliau majukan untuk mengimami shalat? Abu Bakar. Abu Bakar-lah orangnya.
Maka kita harus memahami makna "orang yang paling aqra" (اقرأ الناس) pada hadits tersebut berdasarkan perbuatan Nabi shallallahu alaihi Wasallam. Artinya, kita tidak boleh memahami hadits itu secara independen (terpisah) dari tindakan Nabi shallallahu alaihi Wasallam. Sepatutnya kita menggabungkan perkataan beliau dengan perbuatan beliau shallallahu alaihi Wasallam.
Apa kelebihan Abu Bakar?
Abu Bakar adalah orang yang paling faqih (paham agama) di antara sahabat Muhammad shallallahu alaihi Wasallam. Tentu saja, Aisyah sempat mencoba membujuk Nabi shallallahu alaihi Wasallam agar mengalihkan tugas imam dari ayahnya, lalu Nabi shallallahu alaihi Wasallam bersabda kepadanya:
«إِنَّكُنَّ صَوَاحِبُ يُوسُفَ»
(Sesungguhnya kalian adalah seperti wanita-wanita di sekitar Yusuf).
Beliau juga bersabda:
«مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ»
(Aku tidak melihat orang yang kurang akal dan agamanya yang lebih bisa meluluhkan hati laki-laki yang teguh selain dari salah seorang di antara kalian).
Pemilik akal dan kecerdasan, di depan wanita, akalnya bisa hilang.
Aisyah berkata: "Aku khawatir orang-orang akan merasa sial (tasyayyum) dengan ayahku karena ketika melihat Abu Bakar menempati posisi Nabi shallallahu alaihi Wasallam saat beliau shalat, apa yang akan mereka lakukan? Mereka akan merasa sial." (yakni maksudnya seakan-akan Nabi shalallahu'alaihi wasallam akan meninggal dunia karena Abu Bakar menjadi Imam, dan Aisyah khawatir sebab meninggalnya Nabi akan dikait kaitkan dengan Abu Bakar yang menjadi Imam_pent)
Maka aku berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Bakar adalah laki-laki yang 'asif' (رجل أسيف)."
Makna 'asif' adalah jika ia membaca Al-Qur'an, tangisannya bercampur dengan bacaannya. Hatinya sangat lembut dan mudah tersentuh oleh Al-Qur'an. Jika ia membaca Al-Qur'an, tangisannya meledak dan orang-orang tidak akan paham bacaannya. "Carilah orang lain selain ayahku."
Dalam Shahih Muslim, Aisyah berkata: "Aku khawatir manusia akan merasa sial dengan Abu Bakar," maka Nabi shallallahu alaihi Wasallam bersabda:
«يَأْبَى اللَّهُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَّا أَبَا بَكْرٍ»
(Allah dan orang-orang beriman enggan kecuali kepada Abu Bakar).
Dalam hal ini terdapat isyarat yang jelas bahwa Abu Bakar adalah khalifah (pengganti) Nabi shallallahu alaihi Wasallam.
Oleh karena itu, datang seorang wanita kepada Nabi shallallahu alaihi Wasallam dan bertanya sesuatu, lalu beliau bersabda: "Jika terjadi sesuatu padamu, bertanyalah." Wanita itu berkata: "Bagaimana jika aku tidak menjumpaimu?" Beliau bersabda kepada wanita itu:
«فَأْتِي أَبَا بَكْرٍ»
(Maka datanglah kepada Abu Bakar).
Beliau adalah yang paling faqih di antara sahabat Muhammad shallallahu alaihi Wasallam.
Saudara-saudaraku, saya selalu mengingatkan poin penting ini: Para penuntut ilmu saat ini, ketika mereka mencari pendapat para sahabat dan mengumpulkannya, mereka jarang menemukan pendapat Abu Bakar disebutkan dalam masalah fikih. Mereka justru banyak menemukan pendapat Abdullah bin Az-Zubair, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, dan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhum. Namun, mereka tidak menemukan banyak riwayat pendapat dari Abu Bakar.
Dari mana datangnya fikih Abu Bakar? Dan juga Umar?
Mengenai Umar, orang-orang justru menemukan gaya kepemimpinan administratifnya. Bahkan sampai hari ini di Amerika, sistem administrasi Umar dipelajari di universitas-universitas ternama. Sebagaimana disebutkan oleh Al-Fasawi dalam Al-Ma'rifah wa At-Tarikh, Umar dahulu mengangkat seorang pejabat selama empat tahun kemudian mencopotnya. Ini bukan sistem Amerika, ini adalah sistem Umar bin Al-Khattab.
Pernah ada tesis yang diajukan oleh seorang warga Yordania dari Dar Al-Muhtasib, Al-Khalil, berjudul "إِدَارَةُ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ" (Manajemen Umar bin Al-Khattab) di salah satu universitas di Amerika. Tesis itu diterbitkan dan ia menyidangkannya saat krisis Teluk. Ketika sidang, para penguji berkata: "Kami tidak ingin semua data yang kamu kumpulkan ini. Kami ingin tahu apa posisi Umar dalam krisis Teluk jika dia ada saat ini? Apa pendapatmu setelah studi ini?" Maka dia menjawab dengan jawaban yang sangat cerdas: "Jika Umar ada, maka tidak akan pernah ada krisis Teluk sama sekali. Pertanyaan Anda salah."
Lalu, di mana fikih Abu Bakar dan Umar? Fikih mereka berdua terletak pada sistem kehidupan yang tetap berjalan di atas manhaj Rasulullah. Di zaman mereka, sistem kehidupan tetap sama dengan sistem Nabi shallallahu alaihi Wasallam. Syiar Abu Bakar adalah melaksanakan pengiriman pasukan Usamah, padahal saat itu terjadi kemurtadan dan kekacauan setelah wafatnya Nabi shallallahu alaihi Wasallam. Namun beliau tetap bersikeras mengirim pasukan Usamah.
Para ulama berkata: Perkataan beliau "Kecuali pasukan Usamah" adalah dalil atas ittiba' (ketaatan mengikuti Sunnah), dan bahwa keberkahan itu sepenuhnya ada dalam ittiba'. Akal bisa menipu dan membahayakan jika ia menghiasi sesuatu yang menyelisihi syariat.
Kembali ke pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan "orang yang paling aqra"? Maknanya adalah: Membaca disertai kemahiran (itqan) dan pemahaman (fikih).
Jika ada imam yang membaca seperti kaset (hanya menghafal suara) tapi tidak paham apa-apa, dan jika shalatnya rusak dia tidak tahu apa yang harus dilakukan, sementara ada orang lain yang bacaannya bagus namun dia seorang yang faqih, maka siapa yang didahulukan? Yang faqih yang didahulukan.
Kita melihat pada Ubay (yang paling aqra) dan Abu Bakar. Abu Bakar memiliki kemahiran membaca sekaligus fikih yang dalam, maka Nabi shallallahu alaihi Wasallam memajukan Abu Bakar. Jadi harus melihat pada dua sisi tersebut.
Namun, perlu diperhatikan bahwa orang-orang di masa lalu, orang yang paling aqra biasanya adalah yang paling faqih. Keterpisahan (antara hafal tapi tidak paham) yang ada di zaman sekarang tidak ada pada pendahulu kita. Orang yang faqih adalah orang yang membaca Al-Qur'an dan memahaminya. Umar bin Al-Khattab saja menghafal surah Al-Baqarah selama delapan tahun, dan beliau menyembelih unta sebagai bentuk syukur saat menyelesaikannya. Mengapa delapan tahun? Karena beliau memahami Al-Baqarah dengan pemahaman yang mendalam. Tujuannya bukan sekadar hafal lafadz, melainkan fikih, perenungan (taammul), dan tadabbur.
Termasuk hal menarik yang ditetapkan para ulama adalah bahwa fikih Ibnu Mas'ud diambil dari Umar. Ibnu Mas'ud sangat melazimi Umar. Barangsiapa yang ingin mengambil fikih Umar, lihatlah fikih Ibnu Mas'ud. Ibnu Mas'ud-lah yang memunculkan fikih tersebut ketika ia ditanya, terutama saat ia pindah ke Kufah dan munculnya banyak permasalahan baru seiring meluasnya wilayah Islam. Maka Ibnu Mas'ud memberikan jawaban berdasarkan apa yang ia dengar dari Umar radhiyallahu 'anhu.
Ustadz abu hilya asri
https://www.facebook.com/share/v/1C2u2whqap/