*Misteri Lantai Dasar*
Oleh: Mohammad Affan Basyaib
_(Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan King Saud University Riyadh dan Direktur ABAT Academy)_
Malam itu Riyadh terasa beda.
Kami berenam –para mahasiswa pascasarjana King Saud University– bertamu ke kediaman _Syaikh Dr. Ashim bin Muhammad Al-Luhaidan_. Sosok ini bukan sekadar ulama. Beliau adalah Qadhi (Hakim) di Kota Riyadh. Juga Imam dan Khatib di Masjid Jami' Asy-Syaikh Abdurrahman Al-Awwad.
Beliau tipe pendidik ulung. Tahu betul cara mengikat leher audiensnya agar tidak menoleh ke mana-mana.
Begitu kami duduk, tidak ada ceramah pembuka yang bertele-tele. Beliau langsung melempar teka-teki.
"_Ada satu ibadah_," ujar Syaikh Ashim, matanya menatap kami satu per satu, "_yang kalau kamu pegang, Allah jamin 20 ibadah lainnya ikut beres._"
Kami terdiam. Berpikir keras. Otak kami memutar memori tentang ratusan jenis ibadah. Suasana hening sejenak.
Salah seorang teman memecah keheningan. "_Takwa?_" Syaikh menggeleng. "_Bukan. Takwa itu melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya_."
"_Dzikir?"_ tebak yang lain. Masih salah.
"_Tilawah Al-Qur'an?"_ Beliau tetap menggeleng.
Saya memberanikan diri setelah melihat teman-teman buntu.
"_Ikhlas?_" tanya saya.
Syaikh menatap saya. "_Bukan. Tapi jawabanmu sudah dekat,_" kata beliau.
Kami makin penasaran. Apa yang lebih dekat dari ikhlas?
Syekh Asim lantas membuat perumpamaan yang telak secara logika. Bayangkan sebuah gedung pencakar langit. Dua puluh lantai. Mungkinkah kita masuk ke lantai dua atau tiga tanpa melewati lantai dasar?
Mustahil. Sepakat? Sepakat.
Satu ibadah misterius ini adalah lantai dasarnya. _Ground floor-nya_. Kalau lantai dasar ini keropos, jangan harap bisa naik ke lantai atas. Kalau shalat Anda bermasalah, kalau Anda pelit bersedekah, kalau Anda sering gelisah dan depresi, jangan obati gejalanya di lantai atas. Perbaiki lantai dasarnya.
Apa itu?
Jawabannya mengejutkan: *As-Sidq. Kejujuran.*
Syekh Asim tidak sedang berteori kosong. Beliau menyodorkan dalil yang kuat. Hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang masyhur:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
_"Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran itu menuntun kepada kebaikan (Al-Birr), dan kebaikan itu menuntun kepada surga."_
Kuncinya ada pada kata *Al-Birr (kebajikan)*. Syekh Asim mengajak kami menghitung matematika iman lewat Surah Al-Baqarah ayat 177. Di sana, Allah mendefinisikan apa itu Al-Birr.
Mari kita bedah ayatnya:
لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ
Ayat ini merangkum rukun iman. Merangkum sedekah. Merangkum shalat. Merangkum zakat. Menepati janji. Merangkum kesabaran saat miskin maupun sakit. Totalnya ada belasan item ibadah berat.
Lantas, apa kesimpulan akhir ayat tersebut? Siapa orang yang sanggup melakukan semua itu?
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
"_Mereka itulah orang-orang yang jujur, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa."_
Terjawab sudah. Jujur adalah induknya. Pantas saja tebakan saya *Ikhlas* tadi dibilang dekat. Karena ikhlas tidak mungkin ada tanpa kejujuran niat di dalam hati.
Syekh Asim bahkan menyebut kejujuran sebagai obat anti-depresi paling ampuh. Orang yang jujur imannya, tidak akan ragu. Tidak akan overthinking. Tidak akan was-was.
Dalilnya? Surah Al-Hujurat ayat 15:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
"_Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu... Mereka itulah orang-orang yang benar/jujur."_
Ragu adalah penyakit. Obatnya adalah Sidq.
Maka ngeri sekali lawan katanya: *Dusta*. Syekh mengingatkan, dusta bukan sekadar dosa lisan. Ia adalah gerbang menuju kehancuran.
Syekh mengutip peringatan keras dalam Surah Al-Hajj ayat 30, di mana Allah menyandingkan dosa menyembah berhala dengan dosa berkata dusta dalam satu tarikan napas:
فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ
_"Maka jauhilah kekejian berhala-berhala dan jauhilah perkataan dusta."_
Bayangkan. Syirik dan dusta. Disebut beriringan.
Seorang penuntut ilmu, seorang profesional, atau siapa saja, jika ia pembohong, habislah sudah. Sifat munafik akan melekat. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:
وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ
_"Dan apabila ia bertengkar (berdebat), ia berbuat kejahatan (fujur)."_
Dan fujur asalnya dari dusta.
Lalu bagaimana kalau kita sudah terlanjur sering bohong? Adakah jalan putar balik?
Syekh Asim memberikan resep praktis sebelum kami pulang: Tobat. Menyesal. Mengakui. Bersedekah. Shalat dua rakaat. Dan buat perjanjian dengan diri sendiri: Stop bohong. Tidak ada istilah bohong putih. Bohong ya bohong.
Kejujuran bukan sekadar _tidak menipu orang_. Ia adalah ketulusan tauhid kepada Allah. Tidak bergantung pada makhluk. Tidak cari muka.
Jika Lantai Dasar ini kokoh, bangunannya akan menjulang tinggi. Wajah akan bercahaya. Hidup akan tenang. Mimpi buruk akan hilang.
Sederhana. Tapi beratnya luar biasa.
Siap membangun lantai dasar kamu?
Dalam perjalanan dari Riyadh menuju Jakarta
King Khalid International Airport 5 Rajab 1447H