Bumi yang Menyempit
Oleh: Mohammad Affan Basyaib
(Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan King Saud University dan Direktur ABAT Academy)
Pernahkah Anda merasa bumi ini sempit? Padahal luas.
Pernahkah dada Anda terasa sesak, seperti terhimpit tembok beton? Padahal oksigen berlimpah.
Itu bukan asma. Itu bukan sakit paru-paru. Itu adalah sumpek. Galau tingkat dewa. Atau dalam bahasa medis hari ini: Depresi.
Di majelis malam itu, Syekh Dr. Ashim Al-Luhaidan menyentuh topik sensitif ini. Beliau tidak bicara soal serotonin atau dopamin. Beliau bicara soal resep langit untuk jiwa yang terguncang.
_"Bagi yang mengonsumsi obat penenang," kata Syekh, "coba resep ini."
Resepnya ada di Surah At-Taubah. Kisah tentang tiga orang sahabat Nabi yang diboikot. Ka'ab bin Malik dan dua temannya.
Mereka melakukan kesalahan fatal: tidak ikut perang Tabuk tanpa alasan syar'i. Tapi mereka punya satu modal: Jujur. Mereka tidak mengarang alasan bohong seperti orang-orang munafik. Mereka mengaku salah.
Akibat kejujuran itu, mereka dihukum. Diboikot satu Madinah. Tidak ada yang mengajak bicara. Istri pun disuruh menjauh. Selama 50 hari.
Bagaimana rasanya?
Syekh Ashim mengutip ayat yang menggambarkan kondisi mental mereka saat itu. Gambaran yang sangat presisi tentang apa itu depresi berat:
وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّىٰ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَن لَّا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ
"Dan terhadap tiga orang yang ditinggalkan. Hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas. Dan jiwa mereka pun telah sempit (terasa sesak) bagi mereka, dan mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja..."_ (QS. At-Taubah: 118).
Perhatikan kalimatnya: (Bumi terasa sempit). (Jiwa mereka terasa sesak).
Itulah definisi depresi yang paling akurat dalam Al-Qur'an. Rasa terisolasi. Rasa tertekan. Rasa tidak ada jalan keluar.
Lalu, apa solusinya? Apa happy ending-nya?
Allah menerima tobat mereka. Tapi perhatikan resep penutup yang Allah berikan di ayat berikutnya (ayat 119). Ini kuncinya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
"_Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama *orang-orang yang benar (jujur)*."
Syekh Ashim menekankan poin ini habis-habisan.
Obat dari kesempitan jiwa itu adalah Ash-Shidq. Kejujuran.
Mengapa?
Karena kebohongan itu membebani. Orang yang berbohong harus membangun kebohongan baru untuk menutupi kebohongan lama. Otaknya bekerja keras. Jiwanya was-was. Takut ketahuan. Hidupnya penuh skenario palsu. Itu resep instan menuju stres.
Orang munafik di zaman Nabi selamat dari boikot karena mereka bohong. Mereka beralasan sakit, sibuk, dll. Nabi memaafkan mereka secara lahir. Tapi batin mereka hancur. Mereka hidup dalam kepalsuan.
Sedangkan Ka'ab bin Malik? Dia jujur. Pahit di awal. Sakit di awal. Tapi akhirnya manis. Jiwanya plong. Tidak ada yang disembunyikan dari Allah maupun manusia.
"Kejujuran," kata Syekh Ashim, "adalah terapi anti-depresi terbaik."
Orang yang jujur (Shiddiq) memiliki mental baja. Ia tidak overthinking. Ia pasrah total. Ia percaya: Kalau saya benar, Allah akan tolong. Kalau saya salah, saya tobat. Selesai.
Maka, jika hidup Anda terasa sempit, cek Lantai Dasar bangunan jiwa Anda. Jangan-jangan ada dusta yang terselip. Jangan-jangan ada topeng yang terlalu lama dipakai.
Lepaskan topeng itu. Jadilah jujur. Di hadapan Allah, dan di hadapan manusia.
Maka bumi yang sempit itu, akan kembali luas.
Dalam Perjalanan Menuju Kota Surabaya
8 Rajab 1447H