Bismillah…
Faidah Dauroh DDN 3 Al Wildan Islamic School
🖇️ Sesi 1 Muqaddimah Ustadz Nidhlol Masyhud hafizhahullah
Kata Ustadz, “Segala sesuatu perlu dimulai dengan niat yang baik, karena niat adalah syarat diterimanya amal. Dengan niat yang benar, Allah akan mengarahkan amalan tersebut. Namun, niat saja tidak cukup. Niat perlu dipupuk dengan semangat, agar istiqamah dan tidak berhenti di tengah jalan.
Dan dalam belajar agama, terdapat dua perkara penting yang harus selalu menyertai:
1. Tawakkal kepada Allah
2. Meminta pertolongan kepada Allah
Bahkan banyak perkara dalam agama ini dimulai dengan menyebut nama Allah sebagai bentuk tawakkal. Contohnya:
• Awal surat dalam mushaf dengan Basmalah
• Awal wahyu yang diturunkan kepada Nabi : اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ
Kemudian setelah bertawakkal, seorang penuntut ilmu hendaknya terus memohon pertolongan kepada Allah, karena tanpa taufik-Nya ilmu tidak akan berbuah.
Dan dalam setiap proses belajar seharusnya menjawab empat pertanyaan mendasar:
1. Apa yang kita baca
2. Bagaimana cara membacanya
3. Untuk apa kita membacanya
4. Apa yang kita lakukan setelah membacanya
Jika empat pertanyaan ini tidak terjawab, maka belajar dikhawatirkan hanya menjadi aktivitas intelektual tanpa arah dan dampak.
Secara ringkas, disiplin ilmu agama dapat disarikan dari Surat Al-‘Ashr dan QS. An-Nisā’: 59.
Allah Ta‘ala berfirman:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
(QS. Al-‘Ashr: 1–3)
Dan Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ…
(QS. An-Nisā’: 59)
Dari dua ayat ini, dapat disarikan tujuh disiplin ilmu agama:
1. Iman → Ilmu Akidah
Ilmu tentang keyakinan yang benar kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan takdir.
2. Amal Saleh → Ilmu Fikih
Ilmu tentang tata cara beribadah dan bermuamalah sesuai syariat.
3. Tawāshau bil-haq dan tawāshau bish-shabr → Ilmu Tazkiyah
Meliputi tarbiyah, raqāiq, adab, dan akhlak; ilmu untuk memperbaiki hati dan meningkatkan kualitas diri.
4. Taat kepada Allah → Ilmu Al-Qur’an
Cara memahami wahyu agar ketaatan kepada Allah benar dan sesuai tuntunan.
5. Taat kepada Rasul → Ilmu Hadits
Memahami sunnah Nabi ﷺ sebagai penjelas Al-Qur’an.
6. Taat kepada Ulil Amri → Ilmu Tarikh
Meliputi Qashashul Anbiya’, Sirah Nabawiyah, dan sirah para ulama, agar memahami konteks ketaatan, kepemimpinan, dan manhaj para pendahulu.
7. Memahami bahasa wahyu → Ilmu Lughah
Fokus untuk memahami Al-Qur’an, Hadits, dan turats para ulama dengan benar.
Setelahnya dalam belajar agama, pasang target setinggi langit. Jika tidak tercapai seluruhnya, setidaknya kita telah mendapatkan porsi besar dibandingkan orang yang sejak awal memasang standar rendah. Dan minimal, seorang muslim harus menuntaskan ilmu-ilmu fardhu ‘ain.
Ada tiga Tingkatan Pembelajaran Ilmu
1. Kitab Pegangan yang Komprehensif
Pilih kitab yang mencakup banyak pembahasan sebagai fondasi.
Contoh dalam akidah:
* Al-‘Aqidah Al-Wasithiyah
* Ma‘ārijul Qabūl
* Syarah Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah (Ibnu Abil ‘Izz)
Pada level ini, jangan terlalu banyak berbicara. Fokus memahami dan membangun pondasi.
2. Kitab Muthawwalāt (Karya Panjang)
Fokus pada satu ulama besar hingga memahami pola pikir dan manhajnya, seakan-akan menjadi murid langsungnya.
Contoh karya Ibnu Taimiyah:
* Al-Wasithiyah, Al-Hamawiyah, At-Tadmuriyah
* At-Tawassul wal-Wasīlah
* An-Nubuwwāt, Al-Imān
* Ash-Shafadiyah, Al-Asbahaniyah
* Al-Jawābus Shahīh, At-Tis‘īniyyah
* Dar’u Ta‘ārud Al-‘Aql wan-Naql, Bayān Talbīs Al-Jahmiyyah, Minhājus Sunnah
Contoh lain:
* Mukhtashar Ash-Shawā‘iq Al-Mursalah karya Ibnul Qayyim (ringkasan Al-Mushili).
3. Kitab Ahlul Bid‘ah
Dibaca setelah mapan, untuk mengetahui syubhat dan membantahnya.
Tidak semua orang boleh berada di wilayah rawan ini.
Dan empat pertanyaan belajar tadi dapat dikembangkan dengan lima maf‘ūl dalam nahwu:
1. Maf‘ūl Bih = Buku apa yang dibaca
2. Maf‘ūl Muthlaq = Cara membaca (metode), tanpa terlalu bergantung pada selera
3. Maf‘ūl Fīh = Waktu belajar yang tepat
4. Maf‘ūl Ma‘ah = Membaca paralel (bukan multitasking), misalnya kitab dasar disertai kitab panjang
5. Maf‘ūl Li Ajlih = Tujuan belajar: untuk apa ilmu ini dicari?
Demikianlah…
Semoga Allah memberikan kita taufik dalam menuntut ilmu, menjadikannya ikhlas, bermanfaat, dan berbuah amal.
اللَّهُمَّ انْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَزِدْنَا عِلْمًا
Wallahu a’lam…
✍🏻 Al Faqir Muhammad Guntur Andika Putra