Senin, 29 Desember 2025

Akidah tentang Al-Walā’ (Cinta dan Loyalitas) dalam Manhaj Salaf(Catatan atas pernyataan “Saya Cinta Ormas”)

Akidah tentang Al-Walā’ (Cinta dan Loyalitas) dalam Manhaj Salaf
(Catatan atas pernyataan “Saya Cinta Ormas”)

Pendahuluan

Dalam Islam, cinta (al-ḥubb) tidak berdiri sendiri sebagai perasaan emosional semata, tetapi selalu berkaitan erat dengan loyalitas (al-walā’). Cinta yang hakiki melahirkan keberpihakan, pembelaan, dan komitmen, sedangkan loyalitas yang benar berakar pada cinta yang lurus. Oleh karena itu, pembahasan tentang al-walā’ merupakan bagian penting dari akidah Ahlus Sunnah wal Jamā‘ah.

Manhaj Salaf memandang bahwa al-walā’ bukanlah loyalitas bebas tanpa batas, melainkan loyalitas akidah yang diatur dan dibatasi oleh wahyu.

Hakikat Al-Walā’ dalam Islam

Al-walā’ dalam Islam hanya diberikan kepada Allah, Rasul-Nya ﷺ, dan kaum mukminin, sebagaimana firman Allah Ta‘ālā:

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا
“Sesungguhnya wali kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Mā’idah: 55)

Ayat ini menunjukkan bahwa al-walā’ adalah ikatan akidah, bukan ikatan sosial, etnis, atau organisatoris. Loyalitas tersebut merupakan konsekuensi keimanan, bukan sekadar afiliasi lahiriah.

Hal ini ditegaskan pula oleh firman Allah:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ
“Orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain.”
(QS. At-Taubah: 71)

Ayat ini menetapkan bahwa loyalitas iman bersifat umum kepada seluruh kaum mukminin, tanpa pembatasan kelompok atau jamaah tertentu.

Larangan Menjadikan Selain Allah dan Rasul sebagai Poros Loyalitas

Manhaj Salaf menegaskan bahwa tidak boleh menjadikan siapa pun atau apa pun sebagai poros loyalitas yang menyaingi iman, meskipun itu adalah ikatan yang secara tabiat sangat kuat, seperti keluarga. Allah Ta‘ālā berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan bapak-bapak dan saudara-saudara kalian sebagai wali jika mereka lebih mencintai kekufuran daripada iman.”
(QS. At-Taubah: 23)

Jika ikatan keluarga saja dilarang menjadi poros loyalitas ketika bertentangan dengan iman, maka ikatan organisasi lebih utama untuk tidak dijadikan pusat kecintaan dan keberpihakan akidah.

Sikap Manhaj Salaf terhadap Organisasi dan Fanatisme Golongan

Memberikan al-walā’ kepada organisasi—meskipun berlabel Islam—bukan bagian dari al-walā’ yang disyariatkan apabila loyalitas tersebut:
 • Melahirkan fanatisme golongan (ḥizbiyyah),
 • Membutakan dari kebenaran,
 • Menjadikan organisasi sebagai standar kebenaran dan kebatilan,
 • Memusuhi kaum muslimin di luar kelompoknya.

Allah Ta‘ālā memperingatkan bahaya perpecahan dalam agama:

وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ۝ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا
“Dan janganlah kalian termasuk orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan menjadi kelompok-kelompok.”
(QS. Ar-Rūm: 31–32)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ فَلَيْسَ مِنَّا
“Barang siapa menyeru kepada fanatisme golongan, maka ia bukan bagian dari kami.”
(HR. Abu Dāwud)

Fanatisme golongan inilah yang dicela oleh Salaf, karena ia memecah ukhuwah iman dan menggeser loyalitas dari agama kepada kelompok.

Al-Walā’ sebagai Konsekuensi Iman

Al-walā’ adalah ibadah hati yang mencakup cinta dan benci karena Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:

أَوْثَقُ عُرَى الْإِيمَانِ الْحُبُّ فِي اللَّهِ وَالْبُغْضُ فِي اللَّهِ
“Ikatan iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.”
(HR. Ahmad)

Beliau ﷺ juga menegaskan bahwa tolok ukur persaudaraan dan loyalitas adalah iman:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, ukhuwah dan loyalitas tidak dibatasi oleh struktur organisasi, melainkan oleh iman.

Prinsip-Prinsip Manhaj Salaf dalam Al-Walā’
 1. Al-walā’ bersifat tauqīfī, ditetapkan oleh syariat, bukan oleh hawa nafsu atau kepentingan jamaah.
 2. Tidak boleh menjadikan organisasi sebagai poros loyalitas akidah.
 3. Fanatisme kelompok (ḥizbiyyah) adalah penyimpangan manhaj.
 4. Persatuan umat dibangun di atas akidah dan sunnah, bukan struktur organisasi.
 5. Ta‘āwun dalam kebaikan dibolehkan selama tidak merusak ukhuwah iman dan tidak melahirkan loyalitas akidah kepada organisasi.

Salafush Shāliḥ mengenal kebenaran terlebih dahulu, lalu mengenal manusia melalui kebenaran tersebut, bukan sebaliknya. Mereka mencintai kaum muslimin sesuai kadar iman mereka, menasihati kesalahan tanpa fanatisme, dan tidak mengikatkan hati kepada selain Allah dan Rasul-Nya ﷺ.

Kesimpulan
 • Al-walā’ adalah ibadah hati dan konsekuensi iman.
 • Ia hanya untuk Allah, Rasul-Nya ﷺ, dan kaum mukminin secara umum.
 • Organisasi hanyalah sarana, bukan tujuan dan poros loyalitas.
 • Fanatisme kelompok adalah ḥizbiyyah tercela yang menyalahi Manhaj Salaf.

Manhaj Salaf tidak mengingkari organisasi sebagai sarana, namun mengingkari organisasi yang dijadikan tujuan dan pusat loyalitas.
Ustadz ahmad al banjary
https://www.facebook.com/share/1AQFQRchVJ/