Berpuluh-puluh tahun berlalu, ternyata masih banyak yang belum bisa membedakan antara organisasi dan pemahaman. Kemungkinan besar karena memang tidak pernah berorganisasi.
Padahal, organisasi pada hakikatnya adalah metode ta’āwun, sarana saling tolong-menolong, meskipun para anggotanya bisa saja memiliki perbedaan pemahaman. Yang menjadi penentu bukan keseragaman pandangan, melainkan visi dan misi organisasi itu sendiri.
Ada organisasi profesi, pendidikan, dan keagamaan—masing-masing dengan AD/ART sebagai rambu dan kesepakatan bersama. Tidak ada organisasi yang benar-benar ideal. Yang ada adalah pertimbangan: apakah maslahatnya jelas dan lebih besar daripada mafsadatnya, atau sebaliknya.
Pertimbangan seseorang untuk bergabung atau tidak pun beragam; sebagian bisa dijelaskan secara rasional, sebagian lain bersifat personal.
Saya pribadi memilih husnuzan—bahwa selalu ada alasan dan pertimbangan yang insya Allah baik, terlebih jika selama ini yang bersangkutan dikenal sebagai orang yang baik.
Ustadz noor akhmad setiawan