Kamis, 25 Desember 2025

Apakah pemberian terbaik yang diberikan kepada seorang hamba?”

Imam Ibn al-Mubārak rahimahullāh berkata,

سئل عقيل مَا أفضل مَا أعطي العبد قَالَ غريزة عقل قَالَ فإن لم يكن قَالَ فأدب حسن قَالَ فإن لم يكن قَالَ فأخ شقيق يستشيره قال فإن لم يكون فطول الصمت قَالَ فإن لم يكن قَالَ فموت عاجل.

Aqil pernah ditanya: “Apakah pemberian terbaik yang diberikan kepada seorang hamba?”
Ia menjawab: “Akal yang menjadi fitrah.”
Ditanya lagi: “Jika tidak ada?”
Ia menjawab: “Adab (akhlak) yang baik.”
Ditanya lagi: “Jika tidak ada?”
Ia menjawab: “Saudara kandung yang dapat diajak bermusyawarah.”
Ditanya lagi: “Jika tidak ada?”
Ia menjawab: “Diam yang panjang.”
Ditanya lagi: “Jika tidak ada?”
Ia menjawab: “Kematian yang segera.”

Demikian Ibn Hibbān rahimahullāh menuliskan di Raudhatul 'Uqalā, dengan sanadnya yang tersambung pada Shāhib al-Maqālah.

Kutipan ini menyusun hierarki keselamatan manusia dengan ketelitian yang sangat filosofis sekaligus spiritual. Akal diletakkan sebagai anugerah tertinggi karena dengannya manusia mampu membedakan yang hak dan batil, menimbang akibat, serta menundukkan hawa nafsu. Ketika akal tidak berfungsi—bukan karena ketiadaan, tetapi karena diabaikan—maka adab menjadi penyangga peradaban jiwa. Adab adalah akal yang hidup dalam perilaku; ia menjaga manusia tetap manusia, meski kecerdasan berpikirnya runtuh. Bahkan persaudaraan yang diajak bermusyawarah pun dipandang sebagai kompensasi sosial atas kerapuhan individu—sebuah pengakuan bahwa manusia tak selalu kuat sendirian.

Namun ketika semua penopang itu runtuh—akal lumpuh, adab sirna, sahabat tiada—maka diam menjadi bentuk kebijaksanaan terakhir, sebab lisan yang tak dijaga sering kali lebih mematikan daripada kebodohan itu sendiri. Dan jika diam pun tak mampu menyelamatkan, maka kematian yang segera disebut sebagai rahmat; bukan sebagai keputusasaan, melainkan sebagai penutupan kehormatan sebelum manusia menjerumuskan dirinya lebih jauh ke jurang dosa dan kehinaan. Inilah hikmah yang tajam: hidup tidak diukur dari lamanya usia, tetapi dari keberadaan akal, adab, dan kesadaran—tanpanya, hidup hanya tinggal beban, bukan amanah.

Dari sinilah kita akan faham bagaiman kedudukan kesadaran dalam hidup. Ia yang harus didatangkan, jika belum jua datang. Sebab tanpanya ajaran yang dipegang laiknya wacana kosong saja.

✒️ Mochamad Teguh Azhar

Markaz Telaah Kitab Ulama