Syaikhul Islam Taqiyuddin Ibnu Taimiyah rahimahullah punya sebuah kitab yang termasuk salah satu kitab terbesarnya bernama Al-Qawa‘id Al-Fiqhiyyah yang telah dicetak tetapi keliru dengan nama Al-Qawa‘id An-Nuraniyyah.
Di dalamnya beliau menyebutkan sejumlah Qawaid dan Masail Fiqhiyyah yang berkaitan dengan Muamalah. Beliau menyebutkan bahwa ushulnya Imam Malik lebih baik daripada selainnya, dan ushulnya Imam Ahmad kebanyakannya sejalan dengan Imam Malik
Beliau kemudian membahas tentang riba dan gharar, kemudian menjelaskan bahwa gharar terbagi menjadi Ma'dum, Ma'juz an Taslimih, Majhul Mutlak, atau Majhul Mu'ayyan baik sifat dan ukurannya. Beliau merinci semua itu dan menyebutkan contoh-contohnya.
Lalu masuk ke pembahasan Sadd Adz-Dzara‘i dan berbagai jenis hiyal, merincinya dengan menghubungkan Dalil dan Ta'lil serta hikmahnya. Beliau menyebutkan pendapat empat imam mazhab, mengembalikan mazhab-mazhab mereka kepada kaidah Umum, membahas furu' fikih, menyampaikan riwayat dari Imam Ahmad dan penjelasan dari Ashab mazhabnya, membandingkan berbagai masalah di berbagai bab, menyoroti tanaqudh yang muncul dan menetapkan apa yang dituntut oleh Ushul dalam Mazhab.
Kemudian, ketika kita mengerahkan semua kemampuan otak kita supaya tidak luput dari satu pun penjelasannya, tiba-tiba kita mendapati beliau telah membawa ke masalah-masalah ushul seperti : apa yang disimpulkan para Ashabul Mazhab dari ushul Imam mereka?, apakah jawaban-jawaban Imam Ahmad yang beragam bisa ditakhrij pendapat-pendapat yang dinisbatkan kepadanya?
Sebuah penelitian ringkas namun sangat teliti, apakah setiap mujtahid selalu benar atau tidak, dan Miripnya berbagai ijtihad dengan metode nasikh & mansukh.
Lalu beliau menyebutkan bahwa seorang mujtahid mendapat pahala meskipun Ijtihadnya Keliru, beliau berkata :
هذا فيمن يتقي الله فيما يقوله، مع علمه بتقواه، وسلوكه الطريق الراشد، وأما أهل الأهواء والخصومات فهم مذمومون في مناقضاتهم؛ لأنهم يتكلمون بغير علم، ولا حسن قصد لما يجب قصده"
“Ini bagi orang yang bertakwa kepada Allah dalam perkataannya, disertai pengetahuan tentang ketakwaannya, dan mengikuti jalan yang lurus. Adapun Ahlul Ahwa' (Pengikut hawa nafsu) dan orang-orang yang suka berdebat, mereka tercela dalam ketanaqudhan (kontradiks) mereka, karena mereka berbicara tanpa ilmu dan tanpa niat baik yang seharusnya ada.”
Setelah itu beliau membahas juga lazimul qaul wal Mazhab dengan sangat teliti, ringkas, dan bagus. Kemudian kembali membahas pendapat Imam Malik dalam muamalah dengan sangat indah.
Ini menunjukkan kemampuan luar biasa Ibnu Taimiyah dalam memahami ilmu-ilmu syar'i, Ibnu Taimiyah sang alim mujtahid. Dia mengembangkan wawasan pembaca, memindahkannya dari sekadar memaparkan furu' fikih menuju pemahaman ushul mazhab dan ushul syariat. Dengan cara seperti inilah (dan bukan selainnya) seseorang memperoleh Kefaqihan Sejati." [ Ringkasan Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah, hal. 178-195 ]
~Syaikh Ahmad Al-Gharib Al-Hanbali hafidzohullah