Sabtu, 03 Januari 2026

kitab "Ma‘qad ar-Raja’ fi Naqḍ al-Imam al-Albani al-Murji‘ah wa al-Irja’" yang aku tulis untuk menjelaskan sebagian upaya ilmiah dan dakwah dari guru kami Syaikh al-Albani rahimahullah dalam membantah Murji'ah dan pemikiran Irja’.

Bismillah. . . 

Pemesanan:
wa.me/6282392214552
Andre Satya Winatra
#Maktabah_Riyadhushalihin 

 كتاب: معقد الرجاء في نقض الامام الالباني المرجئة والإرجاء 

تأليف: فضيلة الشيخ حسين بن عودة العوايشة

1 jilid, 216 halaman
Diterbitkan oleh Dar Elaf ad-Duwaliyyah Kuwait

• Tentang Kitab
Ma‘qad ar-Raja’ fi Naqḍ al-Imam al-Albani karya Syaikh Dr. Husain bin ‘Awdah al-‘Awaysyah (Penulis al-Mausu‘ah al-Fiqhiyyah al-Muyassarah). 

Penulis berkata:
"Maka ini adalah kitab "Ma‘qad ar-Raja’ fi Naqḍ al-Imam al-Albani al-Murji‘ah wa al-Irja’" yang aku tulis untuk menjelaskan sebagian upaya ilmiah dan dakwah dari guru kami Syaikh al-Albani rahimahullah dalam membantah Murji'ah dan pemikiran Irja’.

Buku ini termasuk juga pembelaan kepada Syaikh al-Albani, karena beliau dituduh murjiah. 

Masalah Irja’ yang dikaitkan dengan Syaikh al-Albani adalah isu yang masyhur dan telah banyak dibahas dalam berbagai bentuk tulisan, bahkan menjadi objek penelitian akademik. Isu ini sudah sangat dikenal, dan banyak ulama serta peneliti yang membahasnya secara luas.

Dalam buku ini, Syaikh Dr. Husain bin ‘Awdah al-‘Awaysyah semoga Allah menjaganya mengumpulkan berbagai tulisan terkait Irja’ dan Murji’ah serta membuktikan bahwa Syaikh al-Albani terbebas sepenuhnya dari tuduhan tersebut. 

Buku ini bukanlah kajian umum tentang konsep iman menurut Ahlus Sunnah dan para imam, tetapi lebih berfokus pada isu spesifik terkait Irja’ dan bagaimana Syaikh al-Albani membantahnya.

Dalam buku ini, Syaikh Husain menelusuri berbagai pendapat Syaikh al-Albani terkait Murji’ah, baik dari kalangan Jahmiyah, Murji’ah Fiqhiyyah, maupun lainnya. Beliau mengumpulkan ucapan Syaikh al-Albani dari berbagai kitabnya, menjadikannya sebagai dasar pembahasan, serta menjelaskan dan menguatkannya dengan dalil.

Buku ini juga menguraikan perbedaan antara berbagai jenis Murji’ah, seperti Murji’ah Ghulat (ekstrem), Jahmiyah, Asy‘ariyah, Murji’ah Fiqhiyyah, dan lainnya, serta bagaimana Syaikh al-Albani memberikan pandangannya terhadap mereka. 

Selain itu, terdapat banyak perdebatan dan klarifikasi dari Syaikh al-Albani mengenai isu ini.

Buku ini diterbitkan oleh Dar Elaf ad-Duwaliyyah di Kuwait dalam bentuk satu jilid yang ringkas namun padat isinya. 

Pada bagian awal, penulis membahas bagaimana Syaikh al-Albani menghadapi tuduhan tersebut, lalu menjelaskan definisi iman menurut Ahlus Sunnah, serta menampilkan langsung kutipan dari Syaikh al-Albani mengenai berbagai permasalahan terkait.

Di bagian akhir, buku ini menyajikan kesimpulan dari pembahasan yang telah diuraikan yang semakin menegaskan bahwa Syaikh al-Albani jauh dari pemikiran Irja’. 

Dengan demikian, buku ini menjadi referensi penting bagi siapa saja yang ingin memahami posisi Syaikh al-Albani dalam masalah ini secara lebih mendalam.

penyebab nya tak lain karena dosa

(Syaikh Masyhur menjawab ::) Bacalah kitab Jami’ al-Ulum wal-Hikam.

Saya telah mulai menghafal matan-matan ilmu dan sudah menghafal Arba’in An-Nawawiyyah, lalu apa yang harus saya hafal setelahnya?

(Syaikh Masyhur menjawab ::) Bacalah kitab Jami’ al-Ulum wal-Hikam.

Saudara-saudaraku, siapakah orang alim (berilmu) itu?
Orang alim adalah ia yang menghafal kemudian memahami apa yang dihafalnya. Dalam ungkapan syariat yang akurat: Ilmu adalah "perkawinan" antara hafalan dan pemahaman.
Jika kita melakukan pernikahan antara hafalan dan pemahaman, maka darinya akan lahir ilmu.

Mungkinkah ada seorang alim tanpa hafalan?
Mungkinkah seseorang menjadi jenius matematika namun tidak hafal tabel perkalian?
Itu tidak mungkin.
Lantas, apakah matematika tegak di atas pemahaman atau hafalan?
Matematika itu di atas pemahaman dan hafalan. Matematika memang pemahaman, namun ia berdiri di atas hafalan kaidah-kaidah. Begitu pula dengan syariat.

Hal terpenting yang harus dihafal dalam syariat adalah Kitabullah atau ayat-ayat hukum dari Al-Qur'an, serta menghafal sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan hal pertama yang harus dimulai oleh seorang penuntut ilmu dalam hal hafalan adalah menghafal Arba’in An-Nawawiyyah.

​Saya tidak tahu amalan batin apa yang dilakukan Imam An-Nawawi di hadapan Tuhannya sehingga Allah memberikan penerimaan (umat) terhadap karya-karyanya secara umum, dan kitab Arba’in An-Nawawiyyah secara khusus.

Saya pernah membaca bahwa buku yang paling banyak dicetak dalam beberapa tahun terakhir di Prancis adalah kitab Arba’in An-Nawawiyyah dalam bahasa Prancis; ini terjadi di Prancis.

​Kitab Arba’in An-Nawawiyyah adalah hafalan wajib bagi setiap penuntut ilmu. Seorang penuntut ilmu menghafal Arba’in An-Nawawiyyah, dan jika ia telah menghafalnya, ia perlu memahaminya. Penjelasan (syarah) terbaik untuk Arba’in An-Nawawiyyah adalah penjelasan Ibnu Rajab dalam kitabnya Jami’ al-Ulum wal-Hikam.
Hafalkanlah Arba’in An-Nawawiyyah, kemudian setelah menghafalnya, bacalah Jami’ al-Ulum wal-Hikam. Setelah itu, Anda akan menemukan taman-taman (ilmu) yang membuat Anda tidak akan sanggup berpisah dengan ilmu.

​Sekarang, Anda ingin menghafal, lalu apa yang harus dihafal?
Menghafal itu ibarat otot; otot ini akan tumbuh dan menguat. Semakin banyak Anda menghafal, maka kemampuan menghafal Anda akan semakin cepat.

Apa spesialisasi Anda?
Jika Anda menginginkan fikih, bersungguh-sungguhlah menghafal Muwatha' Malik dan bersungguh-sungguhlah menghafal Sunan Abi Dawud.

Dahulu, para ulama kita ketika masih kecil dipandu untuk menghafal, dan ketika mereka besar, mereka dipandu untuk memahami. Maka mereka memahami apa yang dihafal, sehingga jadilah mereka sosok yang berilmu dan seorang alim.

​Dahulu terdapat "pabrik-pabrik" (pencetak ulama) di rumah-rumah dan di masjid-masjid para ulama. Kita saat ini membutuhkan pabrik-pabrik untuk mencetak ulama.
Kebutuhan manusia hari ini lebih besar daripada kebutuhan mereka di masa lalu. Peristiwa-peristiwa baru (nawazil) sangat banyak. Hal-hal baru yang belum pernah ditegaskan hukumnya oleh para ulama terdahulu merupakan persoalan banyak yang membutuhkan ilmu, membutuhkan ilmu yang sangat luas.

​Saya tidak akan merahasiakannya dari kalian: rahasia kerusakan dunia hari ini adalah ketiadaan ulama. Seluruh kerusakan dunia ini disebabkan karena tidak adanya ulama.
Islam tidak tegak dan tidak tersebar luas karena kelemahan para ulama—inilah kelemahan ulama jika memang ulama itu ada—atau karena hilangnya sosok ulama. Hilangnya ulama, dan sosok "alim" hari ini yang kerjanya hanya mencari materi dengan ijazahnya, mencari keuntungan dengan jabatannya. Agama tidak akan bisa tegak melalui ulama Islam (yang bersikap) seperti itu.

​Akar masalah umat Islam hari ini ada pada ilmu. Dan ilmu tidak akan terwujud kecuali dengan pemahaman dan hafalan. Wahai Anda yang menemukan dorongan dan semangat dalam diri untuk menuntut ilmu, istiqamahlah di atas semangat ini. Tetaplah konsisten dan percepatlah dalam menunaikan apa yang Allah wajibkan atasmu, baik dalam belajar, mengajar, maupun bersabar atas rintangan yang harus Anda hadapi setelah Anda menyebarkan ilmu yang Anda miliki kepada masyarakat.

Setiap orang yang diberi taufik dan menegakkan amar makruf nahi mungkar pasti akan diuji, dan ia harus memiliki kesabaran.

​Wallahu Ta'ala A'lam.
Ustadz abu hilya asr
https://m.youtube.com/watch?v=M_ty8N1SAwU&fbclid=IwVERDUAPGGIxleHRuA2FlbQIxMABzcnRjBmFwcF9pZAwzNTA2ODU1MzE3MjgAAR52mu6UjCLbPH-9aph_gM_7gSW83AV-iIpKgyr6uC6V1MAnjJFqDZqTGQikfg_aem_koQP00rL3iFjcj0BVhTDIA

sabar terhadap istri

Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali—rahimahullah—berkata: "Sabar terhadap (lisan/sikap) wanita adalah termasuk hal yang digunakan untuk menguji para wali."
Imam Abdul Wahab Asy-Sya’rani—rahimahullah—berkata: "Aku mendengar tuanku Ali Al-Khawwas berkata: Tidak ada seorang pun dari kalangan wali kecuali ia berada di bawah kendali istrinya yang menyakitinya dengan lisan dan perbuatannya."

memiliki bekal (perangkat) untuk memahami mazhab, menempuh pintu masuk untuk meneliti dan men-tarjihkannya, serta mengetahui pendapat yang kuat (rājiḥ) dari yang lemah (marjūḥ

يقول الشيخ بكر أبو زيد رحمه الله:«إذا عرف الفقيه هذه المقدمة - ؛أي:مقدمة "الإنصاف"للمرداوي،مع مقدمة ابن مفلح "للفروع "،ومقدمة المرداوي لـ "تصحيح الفروع"،وخاتمة ابن النجار الفتوحي لـ "شرح المنتهى" ؛صارت لديه العدة لمعرفة المذهب وسلك المدخل لتحقيقه، وتصحيحه، ومعرفة راجحه من مرجوحه.
Syaikh Bakr Abu Zaid رحمه الله berkata:

“Apabila seorang faqih telah memahami pendahuluan ini, yaitu pendahuluan kitab al-Inṣāf karya al-Mardāwī, bersama pendahuluan Ibnu Mufliḥ dalam al-Furū‘, pendahuluan al-Mardāwī untuk Taṣḥīḥ al-Furū‘, serta penutup Ibnu an-Najjār al-Futūḥī pada Syarḥ al-Muntahā, maka ia telah memiliki bekal (perangkat) untuk memahami mazhab, menempuh pintu masuk untuk meneliti dan men-tarjihkannya, serta mengetahui pendapat yang kuat (rājiḥ) dari yang lemah (marjūḥ).”
Ustadz muhammad saeful anwar

MAKANAN ORANG DEWASA

MAKANAN ORANG DEWASA

Syaikh Abdul Karim Ar-Rifa’ii berkata:

طعام الكبار سم الصغار

“Makanan orang dewasa, bisa menjadi racun bila dimakan oleh anak balita.” (Khulashah Ta’dhimil ‘Ilmi, hal. 27)

Ana katakan:

Pembahasan "Udzur bil Jahl" ini merupakan makanannya orang dewasa..maka antum yg masih "kecil" jangan coba² memakannya atau mencicipinya. Makanlah makanan yg cocok dengan keadaan antum. Jangan melampaui batas dengan gaya²an memakannya agar dikatakan hebat. Kasihanilah diri antum..dan serahkan makanan besar ini kepada orang besar.

Salah atau keliru dalam masalah ini dapat menyebabkan sesuatu yg fatal, imma terjatuh takfir aam, atau imma terjatuh ke dalam takfir mu'ayyan..hati-hatilah..
Ustadz abu yahya tomy

الرجل يحب المرأة الفاضلة أكثر مما يحب المرأة الجميلة؛ بل لا يعرف للمرأة جمالاً غير جمال الأدب والعفة وإن زعم في نفسه غير ذلك!

إن الرجل يحب المرأة الفاضلة أكثر مما يحب المرأة الجميلة؛ بل لا يعرف للمرأة جمالاً غير جمال الأدب والعفة وإن زعم في نفسه غير ذلك!
Seorang pria lebih mencintai wanita yang utama (berbudi luhur) daripada wanita yang cantik; bahkan, ia tidak mengenal kecantikan pada diri seorang wanita selain kecantikan adab dan kesucian diri, meskipun ia (pria tersebut) menyangka hal yang berbeda dalam dirinya!"
Penjelasan Makna
Kalimat ini menekankan beberapa poin penting:
Keutamaan Akhlak: Kecantikan fisik bersifat fana, namun keutamaan (al-fadhilah) adalah sesuatu yang memikat hati secara permanen.
Adab & Kesucian: Kata "Al-Adab" (الأدب) merujuk pada tata krama dan sopan santun, sedangkan "Al-'Iffah" (العفة) merujuk pada kemampuan menjaga kehormatan dan kesucian diri.
Alam Bawah Sadar Pria: Kalimat "Meskipun ia menyangka hal yang berbeda" mengisyaratkan bahwa secara insting pria mungkin merasa tertarik pada kecantikan fisik, namun secara hakikat, jiwanya hanya akan merasa tenang dan benar-benar menghargai wanita karena karakter dan kemuliaan budi pekertinya.