Saya telah mulai menghafal matan-matan ilmu dan sudah menghafal Arba’in An-Nawawiyyah, lalu apa yang harus saya hafal setelahnya?
(Syaikh Masyhur menjawab ::) Bacalah kitab Jami’ al-Ulum wal-Hikam.
Saudara-saudaraku, siapakah orang alim (berilmu) itu?
Orang alim adalah ia yang menghafal kemudian memahami apa yang dihafalnya. Dalam ungkapan syariat yang akurat: Ilmu adalah "perkawinan" antara hafalan dan pemahaman.
Jika kita melakukan pernikahan antara hafalan dan pemahaman, maka darinya akan lahir ilmu.
Mungkinkah ada seorang alim tanpa hafalan?
Mungkinkah seseorang menjadi jenius matematika namun tidak hafal tabel perkalian?
Itu tidak mungkin.
Lantas, apakah matematika tegak di atas pemahaman atau hafalan?
Matematika itu di atas pemahaman dan hafalan. Matematika memang pemahaman, namun ia berdiri di atas hafalan kaidah-kaidah. Begitu pula dengan syariat.
Hal terpenting yang harus dihafal dalam syariat adalah Kitabullah atau ayat-ayat hukum dari Al-Qur'an, serta menghafal sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan hal pertama yang harus dimulai oleh seorang penuntut ilmu dalam hal hafalan adalah menghafal Arba’in An-Nawawiyyah.
Saya tidak tahu amalan batin apa yang dilakukan Imam An-Nawawi di hadapan Tuhannya sehingga Allah memberikan penerimaan (umat) terhadap karya-karyanya secara umum, dan kitab Arba’in An-Nawawiyyah secara khusus.
Saya pernah membaca bahwa buku yang paling banyak dicetak dalam beberapa tahun terakhir di Prancis adalah kitab Arba’in An-Nawawiyyah dalam bahasa Prancis; ini terjadi di Prancis.
Kitab Arba’in An-Nawawiyyah adalah hafalan wajib bagi setiap penuntut ilmu. Seorang penuntut ilmu menghafal Arba’in An-Nawawiyyah, dan jika ia telah menghafalnya, ia perlu memahaminya. Penjelasan (syarah) terbaik untuk Arba’in An-Nawawiyyah adalah penjelasan Ibnu Rajab dalam kitabnya Jami’ al-Ulum wal-Hikam.
Hafalkanlah Arba’in An-Nawawiyyah, kemudian setelah menghafalnya, bacalah Jami’ al-Ulum wal-Hikam. Setelah itu, Anda akan menemukan taman-taman (ilmu) yang membuat Anda tidak akan sanggup berpisah dengan ilmu.
Sekarang, Anda ingin menghafal, lalu apa yang harus dihafal?
Menghafal itu ibarat otot; otot ini akan tumbuh dan menguat. Semakin banyak Anda menghafal, maka kemampuan menghafal Anda akan semakin cepat.
Apa spesialisasi Anda?
Jika Anda menginginkan fikih, bersungguh-sungguhlah menghafal Muwatha' Malik dan bersungguh-sungguhlah menghafal Sunan Abi Dawud.
Dahulu, para ulama kita ketika masih kecil dipandu untuk menghafal, dan ketika mereka besar, mereka dipandu untuk memahami. Maka mereka memahami apa yang dihafal, sehingga jadilah mereka sosok yang berilmu dan seorang alim.
Dahulu terdapat "pabrik-pabrik" (pencetak ulama) di rumah-rumah dan di masjid-masjid para ulama. Kita saat ini membutuhkan pabrik-pabrik untuk mencetak ulama.
Kebutuhan manusia hari ini lebih besar daripada kebutuhan mereka di masa lalu. Peristiwa-peristiwa baru (nawazil) sangat banyak. Hal-hal baru yang belum pernah ditegaskan hukumnya oleh para ulama terdahulu merupakan persoalan banyak yang membutuhkan ilmu, membutuhkan ilmu yang sangat luas.
Saya tidak akan merahasiakannya dari kalian: rahasia kerusakan dunia hari ini adalah ketiadaan ulama. Seluruh kerusakan dunia ini disebabkan karena tidak adanya ulama.
Islam tidak tegak dan tidak tersebar luas karena kelemahan para ulama—inilah kelemahan ulama jika memang ulama itu ada—atau karena hilangnya sosok ulama. Hilangnya ulama, dan sosok "alim" hari ini yang kerjanya hanya mencari materi dengan ijazahnya, mencari keuntungan dengan jabatannya. Agama tidak akan bisa tegak melalui ulama Islam (yang bersikap) seperti itu.
Akar masalah umat Islam hari ini ada pada ilmu. Dan ilmu tidak akan terwujud kecuali dengan pemahaman dan hafalan. Wahai Anda yang menemukan dorongan dan semangat dalam diri untuk menuntut ilmu, istiqamahlah di atas semangat ini. Tetaplah konsisten dan percepatlah dalam menunaikan apa yang Allah wajibkan atasmu, baik dalam belajar, mengajar, maupun bersabar atas rintangan yang harus Anda hadapi setelah Anda menyebarkan ilmu yang Anda miliki kepada masyarakat.
Setiap orang yang diberi taufik dan menegakkan amar makruf nahi mungkar pasti akan diuji, dan ia harus memiliki kesabaran.
Wallahu Ta'ala A'lam.
Ustadz abu hilya asr
https://m.youtube.com/watch?v=M_ty8N1SAwU&fbclid=IwVERDUAPGGIxleHRuA2FlbQIxMABzcnRjBmFwcF9pZAwzNTA2ODU1MzE3MjgAAR52mu6UjCLbPH-9aph_gM_7gSW83AV-iIpKgyr6uC6V1MAnjJFqDZqTGQikfg_aem_koQP00rL3iFjcj0BVhTDIA