HUKUM MENAMAKAN "SYAMSYUDDIN, KHAIRUNNISA, NURUDDIN" DAN SEMISALNYA DENGAN TUJUAN TAZKIYAH (MEMBANGGAKAN DIRI ATAU MENINGGIKAN DIRI)
Oleh : Taufiq Abu Ruwayfi'.
Menamakan anak yang terkandung didalamnya makna "tazkiyyah" seperti khairunnisa (sebaik baik wanita) jika perempuan, syamsuddin (penerang agama) atau imaaduddin (tiang agama), zainuddin (keindahan agama) atau semisalnya makruh dihukumi oleh sebagian ulama, bahkan dari ulama berbagai mazhab.
Misal dari pembesar hanabilah (mazhab hambali) seperti al buhutiy berkata :
ويكره ما فيه تزكية كالتقي ، والزكي ، والأشرف ، والأفضل وبرة.
"Dimakruhkan menamakan anak dengan kandungan tazkiyah seperti nama "Taqiy" (yang bertaqwa) atau "Zaki" (yang suci) atau "asyraf" (yang paling mulia) atau "afdhol" (yang paling utama) atau "barroh" (yang banyak melakukan kebajikan).
Bahkan seorang ulama dari kalangan mazhab maliki lebih tegas lagi, Ibnul Hajj Al Maliki berkata :
وقال ابن الحاج المالكي رحمه الله :
" ويتعين عليه أن يتحفظ من هذه البدعة التي عمت بها البلوى ، وقل أن يسلم منها كبير أو صغير ، وهي ما اصطلحوا عليه من تسميتهم بهذه الأسماء القريبة العهد بالحدوث ، التي لم تكن لأحد ممن مضى ، بل هي مخالفة للشرع الشريف ، وهي : " فلان الدين " و " فلان الدين "....ألا ترى أن هذه الأسماء فيها من التزكية ما فيها فيقع بسببها في المخالفة بدليل كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم وأقوال العلماء.
"Dan sedang menjadi hal yang lazim adalah terpeliharanya penamaan² yang mengandung tazkiyyah dan termasuk dari jenis kebid'ahan yang musibah tersebut telah menyebar kemana mana."
"Sehingga sedikit yang selamat dari musibah tersebut dari yang besarnya maupun yang kecilnya. Dan dia adalah sesuatu yang mereka istilahkan (yang dibuat-buat) dari penamaan² yang menjadi sebuah trend yang terjadi dimasa ini dimana orang² sebelum ini tidak melakukan hal demikian (memberi nama dengan makna tazkiyah). Bahkan hal tersebut bertentangan dengan syariat yang mulia, seperti penamaan "fulanuddin".
"Tidakkah anda melihat bahwa penamaan² seperti ini mengandung tazkiyah dan dengan sebab penamaan tersebut akhirnya seseorang terjatuh dalam menyelisihi alqur'an dan sunnah RasulNya serta menyelisihi para ulama"
ونقل عن الإمام النووي أنه كان يكره من يلقبه بمحيي الدين
Sedangkan dinukil dari An Nawawi bahwa beliau memakruhkan seseorang yang menamakan dirinya muhyiddin (yang menghidupkan agama).
Namun disana ada fatwa yang menyebutkan bahwa tidak secara mutlak penamaan² yang bermakna tazkiyah diharamkan.
Mereka berkata :
وأسماء التزكية لا تُكره على إطلاقها، وإنما يُكره فيها أن يقصد الإنسان تزكية نفسه بهذا الاسم، وكأنه يُخبر عن اتصافه بما يحمله هذا الاسم من الشهادة بالصلاح والإيمان، روى الإمام مسلم عن أبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ (زَيْنَبَ) كَانَ اسْمُهَا (بَرَّةَ)، فَقِيلَ: تُزَكِّي نَفْسَهَا، فَسَمَّاهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (زَيْنَب).
"Adapun nama² yang mengandung tazkiyah tidak dimakruhkan secara mutlak, yang dimakruhkan adalah tatkala penamaan tersebut dimaksudkan untuk memuji² diri atau berbangga² dengan nama tersebut, seakan² dengan nama yang dia sandang ingin mengabarkan kalau dia disifatkan dengan kebaikan dan keimanan."
"Diantara dalilnya adalah hadist yang diriwayatkan oleh imam muslim dari abu hurairah, bahwa sesungguhnya Zainab dahulu namanya adalah barroh (yang banyak kebajikannya) sehingga dikatakan : dengan hal tersebut beliau (yaitu zainab) mentazkiyah dirinya, Maka Nabi pun kemudian menamakannya (menggantinya) dengan Zainab"
فإذا لم يكن صاحِبُ الاسم مفتخرًا ولا متعاليًا باسمه؛ فلا حرج في التسمي به، بل إن الأسماء الحسنة التي تحمل معاني الخير والصلاح مستحبة، يُرجَى أن تَحمل صاحبها على التحلي بمعاني اسمه الحسن.
"Namun jika tidak terdapat dari pemilik nama tanda² atau tampak secara jelas membanggakan serta meninggikan diri dengan nama tersebut, maka tidak mengapa untuk memberi nama dengannya. Bahkan nama² yang baik yang terkandung didalamnya makna² yang indah serta baik itu mustahab. Yang dengannya diharapkan membawa pemilik nama dapat tercirikan dengan makna² baik dari nama yg dia sandang"
__________________
'Ala kulli haal,
Dua pendapat ini memiliki istinbath pendalilan yang masing² mengeluarkan hukum yang berbeda.
Jika dilihat dari istilah makruh yang disebut oleh para ulama, muncul pertanyaan : apakah makruh disini bermakna haram mutlak atau dibawa kepada makruh tanzih (yg ditinggalkan lebih utama)?
Kalau dari sependek pengetahuan saya, makna makruh disini adalah makruh tanzih bukan maknanya diharamkan. Dilihat dari konteks ucapan para ulama serta istilah makruh yang digunakan oleh ulama muta'akhirin.
Ini dapat dilihat sebagaimana komentar Al Qodhi (Yakni al buhutiy sendiri) didalam kasyful qinaa' :
قال القاضي : وكل ما فيه تفخيم أو تعظيم
ومن لقب بما يصدقه فعله - بأن يكون فعله موافقا للقبه -: جاز" ا
نتهى من" كشاف القناع " (3/26)
Berkata Al Qodhi Al Buhutiy :
"Setiap didalamnya terdapat membesarkan diri atau mengagungkan diri"...(maksudnya dilarang).
"Dan siapa yang menamai dirinya dengan apa yang yang sesuai dengan perbuatannya, atau diharapkan perbuatannya sesuai dengan namanya maka dibolehkan".
Namun bisa saja berubah menjadi makruh yang bermakna haram jika tujuan penamaan itu untuk memuji dan meninggikan dirinya.
Sekedar catatan tambahan dari saya :
Bahwa Al Hajj Al Maliki mengatakan makruh bisa jadi dibawa kepada makna yang haram jika dilihat dari tersebarnya "musibah" yang beliau sebutkan, dikarenakan beliau melihat banyak manusia berbangga² dengan penamaan² tersebut sehingga hal itu menjadi lumrah tersebar di masyarakat, Wallahu a'lam.
Syaikh Shalih Fauzan ketika ditanya dengan hal ini maka beliau katakan "makruh" menamakan seseorang seperti "Abror", atau "ibtihaal" jika diinginkan dari nama itu makna tazkiyah (bangga diri atau meninggikan diri)
Link :
https://youtu.be/fNWnvoSPTXw?si=RJ1bizu0cdhiqsJZ
Didalam fatwa yang lain beliau ketika ditanya hukum menamakan seseorang dengan "iman" , atau "abror" (yang banyak melakukan kebajikan) beliau membolehkan selama nama itu tidak diharamkan seperti nama yang mengandung makna peribadatan kepada selain Allah atau ketika mendengar namanya orang ingin menghindar.
Link :
https://youtu.be/VazR6j4dObg?si=LMffMVlvpXYkmEVK
Namun, kalau kita lihat memang para sahabat atau sahabiyah, tabi'in, mereka tidak menamakan diri² mereka dengan nama² seperti syamsuddin, syaifuddin, dan semisalnya. Sebagaimana yang difatwakan oleh as syaikh al ustaimin rahimahullah.
Link :
https://youtu.be/7fa8VntsAEI?si=FMBCwBpx1Pn3vBpP
Maka, apa yang diamalkan oleh para salaf itu yg terbaik untuk kita contoh. Dan sebaik² salaf adalah mereka.
Sehingga ada yang mengatakan :
ولو كانت هذه الأسماء تجوز لما كان أحد أولى بها من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم ، إذ إنهم شموس الهدى ، وأنوار الظلم ، وهم أنصار الدين حقا كما نطق به القرآن ، والخير كله في الاتباع لهم في الاعتقاد والقول والعمل .
"Jikalah memang nama² (Syamsuddin, Dll) diperbolehkan, maka para sahabat Rasulullah lebih patut untuk menamakan diri mereka dengan nama² tersebut. Dikarenakan mereka adalah penerang dari petunjuk (Syamsul Huda) dan penerang dari gelapnya kezholiman (kesyirikan dan makna lainnya), dan mereka adalah "Anshoruddin" (penolong agama) yang sebenarnya sebagaimana Alqur'an sendiri yang menjelaskan keadaan mereka. Dan sebaik² pada seluruh perkara adalah mengikuti dan menteladani mereka didalam aqidah dan ucapan serta amalan"
Wallahu a'lam.
Ustadz taufiq abu ruwaifi