Jumat, 02 Januari 2026

Fiqih Shalat Kesunnahan Shalat Dhuha

Fiqih Shalat 
Kesunnahan Shalat Dhuha

​Dalam mazhab Hanbali, shalat Dhuha disunnahkan untuk dikerjakan secara ghibban. Maknanya, shalat ini sebaiknya dilakukan berselang-seling, terkadang dikerjakan, terkadang ditinggalkan, dan tidak dilakukan setiap hari secara rutin.

​Pandangan ini berbeda dengan mayoritas ulama (jumhur) yang berpendapat bahwa shalat Dhuha dianjurkan untuk dikerjakan secara istiqamah (rutin setiap hari). Pendapat jumhur ini juga merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad yang dipilih oleh banyak fuqaha mazhab Hanbali, termasuk salah satunya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

​Ringkasan :
● ​Mazhab Hanbali: Disunnahkan tidak rutin setiap hari (ghibban).
● ​Jumhur Ulama & Ibnu Taimiyah: Disunnahkan rutin setiap hari.

Allahu a'lam
ustadz reza ibn nasrullah 

Diantara nasehat Imam Syafi'i rahimahullah.

أصل العلم التثبت، وثمرته السلامة
"Akar dari ilmu adalah verifikasi (ketelitian), dan buahnya adalah keselamatan."
وأصل الورع القناعة، وثمرته الراحة
"Akar dari sifat warak (menjaga diri dari dosa) adalah merasa cukup (qana'ah), dan buahnya adalah ketenangan."
وأصل الصبر الحزم، وثمرته الظفر
"Akar dari kesabaran adalah keteguhan hati, dan buahnya adalah kemenangan (keberhasilan)."
وأصل العمل التوفيق، وثمرته النجح
"Akar dari amal perbuatan adalah taufik (pertolongan Allah), dan buahnya adalah kesuksesan."
وغاية كل أمر الصدق
"Dan puncak (tujuan akhir) dari segala urusan adalah kejujuran."
Ustadz abu husna 
Diantara nasehat Imam Syafi'i rahimahullah.

Diambil dari kitab mawaizh Imam Syafi'i

Sampai sekarang masih istiqamah.... Padahal ini sdh 12 tahun yang lalu. MaasyaAllah.. MaasyaAllah..

Sampai sekarang masih istiqamah.... Padahal ini sdh 12 tahun yang lalu. MaasyaAllah.. MaasyaAllah..

##############
Kalau dulu pernah saya ceritakan ada syaikh yang tidak punya ponsel tapi tunggangannya BMW seri terbaru. Kali ini saya akan bercerita tentang syaikh yang unik dalam penggunaan ponsel.

Beliau salah seorang murid senior Ibnu 'Utsaimiin di Wadi Ad Dawaasir. Beliau punya ponsel tapi tak bisa ditelpon. Saya bertanya, "Ya Syaikh, apa gunanya punya hp tapi tak bisa ditelpon?"

Beliau menjawab, "Sengaja ya Aba Yaziid, supaya saya tidak disibukkan dengan hp."

"Kalau ada yang mau menghubungi Anda, bagaimana syaikh?" tanyaku ingin tahu.

Beliau menjawab, "SMS saya, insyaAllah saya telpon."

Lumayan juga ni, buat hemat pulsaku.
Ustadz abu yazid nurdin 

SAUDARA PALSU

SAUDARA PALSU 

al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Akan datang di akhir zaman sekelompok kaum yang tampaknya seperti saudara, namun menjadi musuh dalam selimut !”  (Sayir as-Salaf, 1033)
ustadz noviyardi

Para ulama berijtihad dengan penuh amanah dan kehati-hatian ilmiah

Para ulama berijtihad dengan penuh amanah dan kehati-hatian ilmiah. Ketika suatu hadis tidak diamalkan oleh seorang imam, hal itu bukan karena meremehkan sunnah Nabi ﷺ, melainkan karena tiga sebab induk: (1) hadis tersebut tidak diyakini berasal dari Nabi ﷺ, (2) hadis diyakini sahih tetapi tidak dipahami mencakup persoalan yang sedang dibahas, atau (3) hadis dipahami telah dinasakh oleh dalil lain.

Dari tiga sebab induk ini, Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa lahir sebab-sebab turunan yang banyak. Dalam bagian teks yang dibahas, uraian baru sampai pada tiga sebab turunan pertama, yaitu: hadis belum sampai kepada seorang imam; hadis telah sampai tetapi belum terbukti sahih menurut standar keilmuan yang ia pegang; dan hadis dinilai lemah berdasarkan ijtihad, seperti perbedaan penilaian terhadap perawi atau sanad.

Uraian ini belum selesai. Masih ada sebab-sebab turunan lain yang akan melengkapi penjelasan hingga sembilan sebab, yang seluruhnya tetap berakar pada tiga sebab induk tersebut. Kerangka ini menunjukkan bahwa perbedaan pendapat ulama lahir dari proses ilmiah yang bertanggung jawab, bukan dari perbedaan niat atau sikap terhadap sunnah.

Karena itu, sikap yang tepat adalah menjaga husnuzan kepada para ulama, memahami perbedaan secara proporsional, dan menyadari bahwa sunnah Nabi ﷺ dijaga melalui ilmu, adab, dan kerendahan hati dalam berijtihad.

Bagian pertama dapat dibaca pada artikel melalui link di komentar.
Ustadz noor akhmad setiawan

mentahdzir di sosmed dengan cara memajang foto dan hal hal yg bersifat privasi tidak termasuk tahdzir yg di anjurkan

Di buku Buyuutush Shahaabah yang kami baca, letak Ahlus Shuffah mohon dibedakan dengan Dakkatul Aghawaat.

Di buku Buyuutush Shahaabah yang kami baca, letak Ahlus Shuffah mohon dibedakan dengan Dakkatul Aghawaat. 

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Ketika kiblat dipindahkan dari Baitul Maqdis ke Ka‘bah yang mulia, Nabi ﷺ memerintahkan agar dibuat sebuah atap di dinding sebelah utara. Tempat inilah yang kemudian dikenal dengan nama Shuffah.”

Al-Ḥāfiẓh adz-Dzahabī (wafat 748 H) menjelaskan bahwa kiblat sebelum dipindahkan berada di arah utara masjid. Ketika kiblat dipindahkan, maka dinding bekas kiblat pertama itulah yang kemudian menjadi tempat Ahlus Shuffah.

Ibnu Ḥajar al-‘Asqalānī (wafat 852 H) juga berkata: “Shuffah adalah sebuah tempat di bagian belakang Masjid Nabawi yang diberi naungan, yang dipersiapkan sebagai tempat tinggal bagi para pendatang dan orang-orang asing yang tidak memiliki tempat tinggal dan tidak mempunyai keluarga.”

Keterangan-keterangan ini menunjukkan bahwa tempat yang dikenal dengan nama Shuffah pada masa Nabi ﷺ terletak di sisi utara masjid. Dengan kata lain, letaknya berada di sebelah barat Dakkatul Aghawāt yang ada sekarang. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa Shuffah dibuat setelah pemindahan kiblat, dan diketahui bahwa pemindahan kiblat terjadi pada tahun kedua hijriah. Pada saat itu Nabi ﷺ memerintahkan agar dibuat atap pada dinding utara, yang kemudian menjadi bagian belakang masjid.

Ini berarti bahwa Shuffah berada pada dinding utara Masjid Nabawi sebelum perluasan pertama masjid. Diketahui pula bahwa Nabi ﷺ memperluas Masjid Nabawi pada tahun ketujuh hijriah. Dengan demikian, posisi dinding utara tersebut sejajar dengan tempat shalat menghadap Baitul Maqdis, yaitu tiang kelima di sisi utara dari tiang ‘Āisyah radhiyallāhu ‘anhā.

Baca di web kami Rumaysho.Com:
Ahlus Shuffah di Masjid Nabawi: Siapa Mereka dan Apa Pelajarannya

💦 https://rumaysho.com/40939-ahlus-shuffah-di-masjid-nabawi-siapa-mereka-dan-apa-pelajarannya.html

• Gambar pertama di postingan ini adalah untuk membedakan tempat Ahlus Shuffah dan Dakkatul Aghawaat. Sumber gambar ini dari buku “Buyūt aṣ-Ṣaḥābah ḥawla al-Masjid an-Nabawī ash-Sharīf”

• Gambar kedua di postingan ini menunjukkan Dakkatul Aghawaat yang sejatinya bukan tempat Ahlus Shuffah.