Semakin lama berada di pendidikan formal, kita akan semakin memahami kenapa Hujjatul Islam Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali meninggalkan dunia pendidikan formal sampai 2x.
Keluar yang Pertama (488 H):
Di puncak keemasannya sebagai Rektor Universitas Nizhamiyyah Baghdad, beliau mengalami krisis spiritual. Beliau sadar, kemewahan dan riuk-pikuk akademis formal perlahan mengikis ketulusan niat. Beliau pun pergi mengasingkan diri ('uzlah) selama 10 tahun untuk menata jiwa.
Keluar yang Kedua (499 H - 500 H):
Setelah sempat dibujuk kembali mengajar di Nizhamiyyah Nishapur, beliau tak bertahan lama dan memilih keluar lagi. Kali ini alasannya beda: beliau melihat cacat sistemik pendidikan formal yang terlalu sarat kepentingan politik, terjebak debat ego, dan sulit diperbaiki dari dalam.
Perubahan ikhlasnya niat dan pandangannya terhadap lembaga formal ini beliau abadikan sendiri dalam kitab Al-Munqidh min ad-Dhalal:
فَهَنَاكَ كُنْتُ أُعَلِّمُ العِلْمَ الَّذِي بِهِ يُكْتَسَبُ الجَاهُ، وَأَدْعُو إِلَيْهِ بِقَوْلِي وَعَمَلِي، وَكَانَ ذَلِكَ قَصْدِي وَنِيَّتِي. وَأَمَّا الآنَ فَأَدْعُو إِلَى العِلْمِ الَّذِي بِهِ يُتْرَكُ الجَاهُ، وَيُعْرَفُ بِهِ صَغَارُ قَدْرِ الجَاهِ
"Dahulu (di Baghdad) aku mengajarkan ilmu yang digunakan untuk mengejar kedudukan/popularitas, dan aku mengajak kepadanya melalui ucapan serta perbuatanku; itulah maksud dan niatku saat itu. Adapun sekarang (setelah menyadari kelemahannya), aku mengajak kepada ilmu yang dengannya kedudukan duniawi justru ditinggalkan dan disadari betapa hinanya nilai sebuah kedudukan itu."
Imam Al-Ghazali melihat bahwa lembaga pendidikan formal seperti Madrasah Nizhamiyyah—yang dibiayai penuh oleh Dinasti Seljuk—memiliki kelemahan struktural yang amat sulit dibenahi dari dalam, sebab keilmuannya telah terpolitisasi untuk kepentingan penguasa dalam melatih birokrat dan membendung mazhab rival, diselimuti materialisme akademis yang menjebak para pengajar serta murid dalam kompetisi mengejar gelar, kekuasaan, dan gaji negara demi riya' serta fakhr, serta didominasi oleh kurikulum fikih perdebatan (munazharah) yang melatih ego semata seraya mengabaikan esensi ilmu penataan jiwa (ilmu ahwal al-qalb).
Akhirnya, beliau pulang ke kampung halamannya di Tus dan mendirikan Khanaqah—semacam pesantren kecil atau surau sederhana. Di tempat inilah beliau mendidik murid-muridnya secara mendalam, menggabungkan ilmu syariat dan penataan jiwa tanpa beban birokrasi kerajaan.
Rupanya, keresahan ratusan tahun lalu itu masih sangat terasa hari ini.
Kita menyaksikan sendiri bagaimana kurikulum formal membuat ilmu tidak lagi dipelajari secara runtut dan mendalam. Pendidik habis energinya disedot tumpukan administrasi. Jurnal dan artikel ilmiah diproduksi massal demi mengejar angka dan kewajiban, tetapi manfaat nyatanya bagi masyarakat terasa begitu minim.
Sistem yang membuat guru lebih dulu rusak daripada murid
Ketika ilmu sekadar dijadikan komoditas angka, indikator kinerja, dan tumpukan kertas, di situlah ia kehilangan daya ubahnya terhadap jiwa dan peradaban.
الله المستعان وعليه التكلان
#Refleksi #ImamAlGhazali #DuniaPendidikan #EksistensiIlmu #PendidikanFormal
Foto hanya pemanis :)
https://www.facebook.com/share/19M6AW1wbc/