"Demikianlah yang ditegaskan (dinashkan) oleh Al-Qadhi Abu Ya'la al-Hanbali di dalam kitabnya: Ibtal al-Ta'wilat li Akhbar al-Sifat. Dan Syaikhul Islam (Ibnu Taimiyyah) juga telah menukil hal tersebut dari beliau dalam kitab Dar' at-Ta'arudh: (6/206-207)."
(Halaman 595):
Judul: Ibtal al-Ta'wilat li Akhbar al-Sifat
"Maka apabila ia menetapkan bahwa Dia berada di atas 'Arsy, dan 'Arsy itu berada pada suatu arah, dan Dia berada di atas 'Arsy-Nya. Dan sungguh kami telah mencegah (melarang) di dalam kitab kami ini, di tempat yang lain, dari memutlakkan kata arah bagi-Nya, namun pendapat yang benar adalah diperbolehkannya mengatakan hal tersebut.
Karena (Imam) Ahmad sungguh telah menetapkan sifat ini, yaitu Istiwa' (bersemayam) di atas 'Arsy, dan beliau menetapkan bahwa Dia berada di langit. Dan setiap orang yang menetapkan hal ini, maka ia menetapkan arah, dan mereka itu adalah para sahabat Ibnu Karram dan Ibnu Mandah al-Asbahani al-Muhaddits (1).
Adapun dalil akan hal tersebut: Bahwa 'Arsy itu berada pada suatu arah tanpa ada perselisihan pendapat, dan sungguh telah tetap melalui nash Al-Qur'an bahwa Dia bersemayam (2) di atasnya, maka hal itu mengharuskan bahwa Dia berada pada suatu arah.
Dan juga karena setiap orang yang berakal, baik Muslim maupun kafir, apabila ia berdoa, maka ia pasti mengangkat kedua tangannya dan wajahnya ke arah langit. Dan hal ini sudah mencukupi (sebagai bukti)."