Saya semakin merasakan bahwa salah satu sumber ketenteraman terbesar dalam hidup adalah pemahaman kita tentang Allah, sifat-sifat-Nya, takdir, dan hikmah di balik ketetapan-Nya.
Kita sering gelisah bukan hanya karena beratnya sebuah peristiwa, tetapi karena tidak mengerti: Mengapa ini terjadi? Mengapa harus saya? Mengapa seperti ini jalannya?
Di sinilah mengenal Allah menjadi sangat penting.
Ketika kita memahami bahwa Allah Maha Mengetahui, sementara pengetahuan kita sangat terbatas; Allah Maha Bijaksana, sementara kita hanya melihat sepotong kecil perjalanan; Allah Maha Pengasih, sementara kita sering menilai baik-buruk hanya dari apa yang terasa saat ini—cara kita melihat kehidupan perlahan berubah.
Begitu pula dengan takdir.
Memahami takdir bukan berarti berhenti berusaha. Kita tetap berikhtiar, berdoa, belajar, berobat, memperbaiki kesalahan, dan mengambil sebab terbaik yang mampu kita lakukan. Tetapi setelah semuanya dilakukan, hati belajar menerima bahwa tidak seluruh hasil berada dalam kendali kita.
Lalu kita belajar tentang hikmah.
Tidak semua hikmah langsung terlihat. Ada kejadian yang baru kita pahami bertahun-tahun kemudian. Ada pula yang mungkin tidak pernah kita pahami sepenuhnya selama hidup.
Mungkin karena itulah saya merasakan ketenteraman yang begitu besar ketika membaca kitab-kitab Ibn al-Qayyim. Banyak pembahasannya membawa kita kembali kepada dua perkara mendasar: siapa Rabb kita dan bagaimana kita memandang ketetapan-Nya.
Semakin mengenal Allah, semakin mudah mempercayai hikmah-Nya.
Semakin memahami takdir, semakin ringan hati menghadapi sesuatu yang berada di luar kendali kita.
Pada akhirnya, ketenteraman mungkin bukan ketika kita sudah mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan “mengapa ini terjadi?”
Tetapi ketika hati sampai pada keyakinan:
“Aku mungkin belum memahami mengapa Allah menetapkan ini, tetapi aku percaya kepada Allah yang menetapkannya.”
Dan dari sanalah perlahan tumbuh sabar, tawakkal, ridha, dan ketenangan. 🌿
Ustadz noor akhmad setiawan