Senin, 28 September 2026

*Percuma Jago Bahasa Arab Kalau Rusak Aqidah dan Amalnya*

*Percuma Jago Bahasa Arab Kalau Rusak Aqidah dan Amalnya*

Yusuf Abu Ubaidah As Sidawi

Ilmu bahasa Arab adalah ilmu yang sangat penting, karena Al Quran dan hadits serta kitab-kitab para ulama, semuanya berbahasa Arab. Bagaimana mungkin seorang memahami Al Quran dan hadits bila dia tidak menguasai bahasa Arab. 

Syeikh Shiddiq Hasan Khon mengatakan: “Mempelajari bahasa Arab adalah kebutuhan mendesak bagi ahli syari’at, sebab sumber hukum-hukum syari’at diambil dari Al-Qur’an dan Sunnah yang ditulis dengan bahasa Arab. Demikian juga para penukil Al-Qur’an dan hadits dari kalangan sahabat dan tabi’in dengan bahasa Arab. Juga kitab-kitab penjelas keduanya dengan bahasa Arab. Maka bagi seorang yang ingin mengarungi ilmu syari’at, harus baginya mempelajari bahasa Arab”.  (Abjadul Ulum 1/232).

Namun harus dipahami bahwa ilmu bahasa Arab adalah ilmu alat dan sarana, jangan sampai kita habiskan waktu dan energi kita untuk mempelajari bahasa Arab lalu kita lalai dengan ilmu intinya. 

Sebagaimana kita tahu, cabang ilmu bahasa Arab itu ada sepuluh:
1. Nahwu
2. Sharaf
3. Matan lughoh
4. Fiqih lughoh
5. Al Arudh
6. Al Qadafi
7. Al Bayan
8. Al Ma'ani
9. Al Badi'
10. Al Isytiqoq

Maka jangan sampai kita berlebihan dengan Ilmu-ilmu alat ini lalu kita lalai dari intisari  ilmu berupa aqidah, ibadah dan akhlak. 

Oleh karenanya, dalam masalah ini ada tiga golongan:

Pertama: Golongan yang merendahkan bahasa Arab dan meremehkannya bahkan menganggapnya sebagai bahasa yang kuno dan terbelakang. 

Az-Zabidi berkata: “Barangsiapa membenci bahasa Arab, maka kebenciannya akan mengantarkannya untuk membenci Al-Qur’an dan sunnah Rasul. Dan semua itu adalah kekufuran yang nyata dan kesengsaran yang abadi. Kita memohon ampunan kepada Allah”.  (Taajul ‘Arus 1/31).

Berkata Ats Tsa'alibi: "Barangsiapa yang cinta kepada Allah maka dia akan cinta kepada rasulNya Muhammad. Barangsiapa yang cinta Nabi Muhammad yang berasal dari Arab, dia akan mencintai bangsa Arab. 
Barangsiapa yang mencintai bangsa Arab niscaya mencintai bahasa Arab yang merupakan bahasa Al Quran yg diturunkan kepada Arab dan non Arab". (Fiqhu Lughoh hlm. 29)

2. Orang yang berlebihan dengan ilmu alat, sehingga dia habiskan waktunya hanya untuk belajar ilmu alat semata dan justru lalai dari intinya ilmu. Inilah yang disindir oleh Imam Malik bin Dinar (wafat 123 H) tatkala berkata:

"Engkau temui ada seorang yang tidak salah satu hurufpun dalam kaidah-kaidah bahasa Arab masya Allah, namun amal perbuatannya salah semua". (Iqtidha' Ilmi Amal, Al Khathib Al Baghdadi hlm. 91)

3. Golongan yang pertengahan. Dia mempelajari ilmu-ilmu  alat tanpa berlebihan sebagai sarana untuk memahami Al Quran dan As Sunnah. 

Syeikh Abdul Karim Al Khudhair berkata:
"Ilmu alat hanyalah sarana untuk memahami maksud dari Nash-nash Al Quran dan hadits. Maka tidak selayaknya bagi penuntut ilmu untuk mencurahkan waktunya pada ilmu-ilmu alat semata. Namun hendaknya dia mengambilnyw sesuai kadar wajib yang dia butuhkan untuk memahami Al Kitab dan As Sunnah. 
Ini bukan berarti meremehkan ilmu-ilmu alat, namun yang wajib adalah sesuai kadar untuk memahami Al Quran dan As Sunnah". (Tahbir Shafahat hlm. 14)

Ibnu Rajab dalam kitabnya Fadhlu Ilmu Salaf menyebutkan bahwa termasuk ilmu yang tercela bila terlalu berlebihan mempelajari bahasa Arab yang justru melalaikan dari intisari ilmu yang bermanfaat. Para ulama semisal Imam Ahmad mengingati orang-orang yang berlebihan dalam bahasa Arab. Sehingga dulu dikatakan Bahasa Arab itu ibarat garam dalam makanan. Jika kurang garamnya hambar tapi jika berlebihan juga tidak bagus. 

Inilah yang dilakukan oleh salafiyyun Ahli Sunnah wal Jamaah. Mereka semangat mempelajari ilmu bahasa Arab sebagai jembatan memahami Al Quran dan hadits, namun mereka tidak berlebihan, karena fokus utama mereka adalah pada memahami intinya ilmu berupa aqidah, fiqih ibadah dan akhlak. 

Aneh, ada sebagian kalangan yang sok jago bahasa Arab tapi jahil dan sombongnya minta ampun sehingga berani merendahkan para ulama semisal Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Syeikh Albani bahwa mereka tidak menguasai bahasa Arab dan ilmu hadits. Begitulah jika orang sudah hilang urat malunya. Apa dia tidak sadar bahwa kitab-kitab karya Ibnu Taimiyyah dan Syeikh Albani yang berjilid-jilid itu semuanya berbahasa Arab, terus mama karya tulisnya yang berbahasa Arab agar kita bisa menilai seberapa jago dia dalam ilmu bahasa Arab. 

Semoga Allah menjauhkan kita semua dari kesombongan.

Oh ya, Gus Wafi punya buku berikut ini gak ya? Semoga mau baca biar dia tahu keahlian Ibnu Taimiyyah dalam Nahwu Sharaf dan supaya Gus Wafi sadar dari kepongahannya dan kesombongannya. Kita berlindung kepada Allah dari makhluk model dia.
https://www.facebook.com/share/p/14q1KkiiPXv/