Kamis, 05 Maret 2026

SYI’AH DAN AL-QURAN

SYI’AH DAN AL-QURAN

Sebelumnya, Imam al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata dalam kitabnya asy-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Mushthafa (1/646):

اعْلَمْ أَنَّ مَنِ ‌اسْتَخَفَّ ‌بِالْقُرْآنِ أَوِ الْمُصْحَفِ، أَوْ بِشَيْءٍ مِنْهُ، أَوْ سَبَّهُمَا، أَوْ جَحَدَهُ، أَوْ حَرْفًا مِنْهُ، أَوْ آيَةً، أَوْ كَذَّبَ بِهِ، أَوْ بِشَيْءٍ مِنْهُ، ... أَوْ شَكَّ فِي شَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ، فَهُوَ كَافِرٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ بِإِجْمَاعٍ

“Ketahuilah bahwa siapa saja yang merendahkan al-Quran atau mushaf, atau (merendahkan) sedikit saja darinya, atau mencaci-maki keduanya, atau mengingkarinya, atau (mengingkari) satu huruf saja darinya, atau satu ayat, atau mendustakannya, atau (mendustakan) sedikit saja darinya, ... atau meragukan sedikit saja darinya, maka dia kafir menurut kesepakatan para ulama.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah juga berkata dalam ash-Sharim al-Maslul (hlm. 586):

مَنْ زَعَمَ أَنَّ الْقُرْآنَ نُقِصَ مِنْهُ آيَاتٌ وَكُتِمَتْ، أَوْ زَعَمَ أَنَّ لَهُ تَأْوِيلًاتٍ بَاطِنِةً تُسْقِطُ الْأَعْمَالَ الْمَشْرُوعَةَ، وَنَحْوَ ذَلِكَ، ... لَا خِلَافَ فِي كُفْرِهِمْ

“Siapa yang mengklaim bahwa al-Quran ini ada ayat-ayatnya yang telah dikurangi dan disembunyikan, atau mengklaim bahwa al-Quran memiliki tafsiran-tafsiran batin yang bisa menggugurkan ibadah-ibadah yang disyariatkan, atau klaim-klaim yang semisal, ... tidak ada perbedaan pendapat tentang kekafirannya.”

SEBAGIAN KECIL DARI SEKIAN BANYAK KOMENTAR TOKOH-TOKOH SYI’AH TERHADAP AL-QURAN YANG SEKARANG:

Seorang tokoh Syi’ah bernama ‘Adnan al-Bahrani berkata di dalam kitabnya yang berjudul Masyariq asy-Syumus ad-Durriyyah (hlm. 127, cetakan Maktabah Adnaniyyah-Bahrain, cetakan pertama tahun 1406):

وَالْحَاصِلُ فَالْأَخْبَارُ مِنْ طَرِيقِ أَهْلِ الْبَيْتِ (ع) أَيْضًا كَثِيرَةٌ إِنْ لَمْ تَكُنْ مُتَوَاتِرَةً عَلَى أَنَّ الْقُرْآنَ الَّذِي بِأَيْدِينَا لَيْسَ هُوَ الْقُرْآنَ بِتَمَامِهِ كَمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ (ص)، بَلْ مِنْهُ مَا هُوَ خِلَافُ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ، وَمِنْهُ مَا هُوَ مُحَرَّفٌ وَمُغَيَّرٌ، وَأَنَّهُ قَدْ حُذِفَ مِنْهُ أَشْيَاءُ كَثِيرَةٌ.

“Kesimpulannya adalah: riwayat-riwayat yang datang dari jalur Ahlul Bait sangat banyak—kalau memang tidak dikatakan mutawatir—tentang bahwasanya al-Quran yang ada di tengah-tengah kita sekarang ini bukanlah al-Quran yang lengkap yang dahulu diturunkan kepada Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam). Justru di dalam al-Quran (yang sekarang) ada yang menyelisihi (al-Quran) yang dahulu Allah turunkan. Di dalamnya juga ada yang telah diselewengkan dan dirubah, serta telah dibuang darinya banyak hal.”

Tokoh Syi’ah lainnya yang bernama Muhammad bin Muhammad an-Nu’man berkata di dalam kitabnya yang berjudul Awail al-Maqalat (hlm. 91, cetakan Dar al-Kutub al-Islami-Beirut, cetakan tahun 1403):

أَقُولُ: إِنَّ الْأَخْبَارَ قَدْ جَاءَتْ مُسْتَفِيضَةً عَنْ أَئِمَّةِ الْهُدَى مِنْ آلِ مُحَمَّدٍ (ص) بِاخْتِلَافِ الْقُرْآنِ، وَمَا أَحْدَثَهُ بَعْضُ الظَّالِمِينَ فِيهِ مِنَ الْحَذْفِ وَالنُّقْصَانِ

“Saya katakan: sesungguhnya riwayat-riwayat telah datang dengan membeludak dari para imam petunjuk dari keluarga Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam) tentang perbedaan al-Quran (yang sekarang dengan al-Quran yang dulu), dan tentang apa yang telah diperbuat oleh sebagian orang-orang zalim terhadap al-Quran, yaitu (mereka) menghapus dan menguranginya.”

Tokoh Syi’ah lainnya yang bernama Muhammad Baqir al-Majlisi berkata di dalam kitabnya Mir-ah al-‘Uqul (12/525, cetakan Dar al-Kutub al-Islami-Beirut, cetakan kedua tahun 1404):

فَالْخَبَرُ صَحِيحٌ، وَلَا يَخْفَى أَنَّ هَذَا الْخَبَرَ وَكَثِيرٌ مِنَ الْأَخْبَارِ الصَّحِيحَةِ صَرِيحَةٌ فِي نَقْصِ الْقُرْآنِ وَتَغْيِيرِهِ، وَعِنْدِي أَنَّ الْأَخْبَارَ فِي هَذَا الْبَابِ مُتَوَاتِرَةٌ مَعْنًى

“Riwayat ini shahih. Dan tidak samar lagi bahwa riwayat ini dan masih banyak lagi riwayat-riwayat lain yang shahih (semuanya) sangat jelas (menunjukkan) tentang kurangnya al-Quran dan tentang perubahan (yang terjadi) padanya. Dan menurutku riwayat-riwayat tentang hal ini adalah mutawatir secara makna.”

Tokoh Syi’ah lainnya yang bernama Ali Yazdi al-Hairi berkata di dalam kitabnya yang berjudul Ilzam an-Nashib (2/96, cetakan al-A’lami lil-Mathbu’at-Beirut, cetakan keempat tahun 1397):

فَجَاءَهُ أَبُو عُبَيْدَةَ ابْنُ الْجَرَّاحِ، وَعُثْمَانُ، وَسَعْدُ ابْنُ أَبِي وَقَّاصٍ، وَمُعَاوِيَةُ ابْنُ أَبِي سُفْيَانَ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ، وَطَلْحَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، وَأَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ، وَحَسَّانُ بْنُ ثَابِتٍ، وَجَمَاعَاتُ الْمُسْلِمِينَ، وَجَمَعُوا هَذَا الْقُرْآنَ، وَأَسْقَطُوا مَا كَانَ فِيهِ مِنَ الْمَثَالِبِ الَّتِي صَدَرَتْ مِنْهُمْ بَعْدَ وَفَاةِ سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ.

“Lalu (Abu Bakar) didatangi oleh Abu Ubaidah ibnul Jarrah, Ustman, Sa’ad bin Abi Waqqash, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Abu Sa’id al-Khudri, Hassan bin Tsabit, dan sekelompok lainnya dari orang-orang Islam (saat itu). Kemudian mereka pun mengumpulkan al-Quran, dan membuang ayat-ayat yang sebelumnya ada yang berkaitan dengan keburukan-keburukan mereka. (Itu mereka lakukan) sepeninggal tokoh para rasul.”

Dan masih banyak lagi komentar-komentar miring mereka tentang al-Quran yang merupakan kitab suci Kaum Muslimin.
Ustadz zainul arifin