السؤال :
أحسن الله إليكم هذا يقول :
بعض الدعاة وطلبة العلم يقولون عند التحدث عن الشيعة والرافضة إنهم إخواننا هل يجوز أن نقول ذلك وما الواجب .. ؟
الجواب /
ش/ صالح الفوزان :
نَبرأ إلى الله منهم ونبرأ إلى اللهِ من هذا القول،
ليسوا إخواننا واللهِ ليسوا إخواننا بل هم إخوان الشيطان،
لأنهم يسبون أم المؤمنين عائشة رضي الله عنها زوج النبي - صلى الله عليه وسلم - التي اختــــــــارها اللــــــــهُ لنبيه - صلى الله عليه وسلم - الصِّدِّيقَة بِنت الصِّدِّيق،
ويُكفِّرون أبا بكر وعمر ويلعنونهما،
ويُكفِّرون الصحابةَ عموما إلا أهل البيت [ كـ ] علي بن أبي طالب رضي الله عنه،
مع أنهم هم أعداء عـــــــلي بن أبي طالب،
عـــــــلي يَبرأ منهم -رضي الله عنه، بَريءٌ منهم،
عــــــــلي إمامُنا وليس إمامهم، إمام أهل السنة وليس إمــــــــام الرافضة الخبثاء،
فنحن نَبرأ إلى الله منهم وليسوا إخواننا،
ومن قال إنهم إخوانه فليتب إلى الله ويستغفر الله،
و الله - عزّ وجل - أوجب علينا البراءة من أهل الضلال وموالاة أهل الإيمان.
[🎙️مِن محاضرة بعنوان : الفتوى وعمن تُؤخذ]
__________________________
🖋️ قال الإمام الذهبي :
قال عبد الله بن الإمام أحمد بن حنبل:
قلت لأبي : مَن الرافضي؟
قال: الذي يَشتِم رجلا من أصحاب رسول الله - صلى الله عليه وسلم - أو يتعرض لهم مـــــــا أراه على الإسلام.
[تاريخ الإسلام - ٨٩/١٨]
__________________________
🖋️ قال العلامة صالح الفوزان :
أما مَن يُبغض الصحابة و يكفرهم ويلعنهم ويذمهم، فهذا ليس من المسلمين،
لأنه ما أبغضَهم لأشخاصهم، وإنما أبغضهم لصفاتهم وما قاموا به من صحبة الرسول - صلى الله عليه وسلم - ونصرته، وحمل هذا الدين من بعده، ونشره في المشارق والمغارب ما أبغضهم إلا لذلك؛
ولذا قال - صلى الله عليه وسلم - : «فَمَنْ أَحَبَّهُمْ، فَبِحُبِّي أَحَبَّهُمْ، وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ، فَبِبُغْضِي أَبْغَضَهُمْ»
فالذي يبغض الصحابة يبغض الرسول - صلى الله عليه وسلم -، والله جَلَّ وَعَلَا قال : ﴿لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارُ ﴾ [الفتح : ٢٩] ،
فلا يغتاظ مِنْ صحابة رسول الله - صلى الله عليه وسلم - ويسبهم ويتنقصهم إلا كافر أو منافق، وإن كان يزعم أنه مسلم،
فالمسلم لا يُبغض صحابة الرسول - صلى الله عليه وسلم - ، ولا يسبهم، وإنما يعتقد فضلهم، ويدعو لهم، ويترحم عليهم ويُحبهم حبا شديدًا؛ لحب الرسول - صلى الله عليه وسلم - لهم،
ولقول الرسول - صلى الله عليه وسلم - : «لَا تَسُبُّوا أَصحَابِي، لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَه»،
فلو أن إنسانًا تصدّق بمِثل جَبل أحُد ذَهباً ما ساوت صدقته في الأجر والفضل المد من الشعير يتصدق به صحابي من صحابة الرسول - صلى الله عليه وسلم - ، ولا نصف المد ولا نصيفه، وذلك هو فضل الصحابة رضَ اللَّهُ عَنْهُم،
فالصدقة منهم ولو كانت قليلة أفضل من الصدقة من غيرهم ولو كانت كثيرة خالصة لله - عزّ وجل -.
فلا يتنقّص الصحابة أو يسبهم أو يقلل من قدرهم، إلا مَنْ ليس في قلبه إيمان، بل إلا مَنْ في قلبه غل وحقد عليهم، يقول الله جَلَّ وَعَلَا: ﴿وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ ﴾ [الحشر: ١٠]
فحق الصحابة علينا أن نحترمهم، ونجلهم، ونحبهم، وأن نقتدي بهم، وأن تتبع آثارهم؛ لأنهم صحابة رسول الله،
فالله - عزّ وجل - يحبهم، والرسول - صلى الله عليه وسلم - يحبهم،
وكل من في قلبه إيمان فإنه يحبهم، ولا يبغضهم إلا من ليس في قلبه إيمان، فهو إما كافر، وإما منافق، نسأل الله العافية.
[مِن محاضرة بعنوان : منهج أهل السُّنة والجماعة في الصحابة]
__________________________
🖋️ قال العلامة صالح الفوزان :
يجب على شباب المسلمين أن يتنبهوا إلى هذه الأمور ولا ينخذعوا بهذه الدعايات والتضليلات، وأن من قال إنه مسلم فهو مسلم ولو صدر منه ما ينقض إسلامه ولا نفرق بين الناس، فنقول : إننا لا نفرق بين الناس الصالحين الطيبين إنما نفرق بين الطيب والخبيث،
قال تعالى : { قُل لَّا یَسۡتَوِی ٱلۡخَبِیثُ وَٱلطَّیِّبُ وَلَوۡ أَعۡجَبَكَ كَثۡرَةُ ٱلۡخَبِیثِۚ فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ یَا أُو۟لِی ٱلۡأَلۡبَابِ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ } [سُورَةُ المَائـِدَةِ: ١٠٠]
فنحن لا نفرق بين المسلمين حاشا وكلا، وإنما نفرق بين الطيب والخبيث { لِیَمِیزَ ٱللَّهُ ٱلۡخَبِیثَ مِنَ ٱلطَّیِّبِ وَیَجۡعَلَ ٱلۡخَبِیثَ بَعۡضَهُۥ عَلَىٰ بَعۡضࣲ فَیَرۡكُمَهُۥ جَمِیعࣰا فَیَجۡعَلَهُۥ فِی جَهَنَّمَۚ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلۡخَـٰسِرُونَ }[سُورَةُ الأَنفَالِ: ٣٧]
فالله عز وجل ميّز بين الخبيث والطيب، فالذي لا يميز بين الخبيث والطيب إما أنه ليس عنده عقلية يميز بها، وإما أنه ليس عنده إيمان، فكل الناس عنده سواء ولا عنده إيمان يفرق به بين المؤمن والمنافق، والكافر والمسلم، والملحد والزنديق ، ما عنده تفريق بين الناس هذا إما أنه فاسد العقل وإما إنه فاسد العقيدة والعياذ بالله.
[دروس شرح نواقض الإسلام | ١٣٦-١٣٨]
Pertanyaan:
Semoga Allah berbuat baik kepada Anda. Penanya ini mengatakan: Sebagian dai dan penuntut ilmu mengatakan saat berbicara tentang Syiah dan Rafidhah bahwa "mereka adalah saudara kita". Apakah boleh kita mengucapkan hal
?tersebut? Dan apa kewajiban kita?
Jawaban Syaikh Shalih al-Fauzan
Kita berlepas diri kepada Allah dari mereka, dan kita berlepas diri kepada Allah dari perkataan ini. Mereka bukan saudara kita. Demi Allah, mereka bukan saudara kita, melainkan mereka adalah saudara-saudara setan.
Sebab, mereka mencaci maki Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha, istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang telah dipilihkan oleh Allah untuk Nabi-Nya, wanita yang jujur (Ash-Shiddiqah) putri dari lelaki yang jujur (Ash-Shiddiq).
Mereka mengafirkan Abu Bakar dan Umar serta melaknat keduanya. Mereka juga mengafirkan para sahabat secara umum kecuali Ahlul Bait [seperti] Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Padahal sebenarnya, merekalah musuh Ali bin Abi Thalib. Ali berlepas diri dari mereka, beliau bersih dari mereka.
Ali adalah imam kami dan bukan imam mereka. Beliau adalah imam Ahlussunnah, bukan imam bagi Rafidhah yang keji. Maka kita berlepas diri kepada Allah dari mereka, dan mereka bukan saudara kita. Barangsiapa yang mengatakan bahwa mereka adalah saudaranya, maka hendaknya ia bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya. Allah Azza wa Jalla telah mewajibkan kita untuk berlepas diri (bara') dari ahli kesesatan dan loyal (muwalaah) kepada ahli iman.
(Dari ceramah berjudul: Al-Fatwa wa 'Amman Tu'khadz)
Al-Imam adz-Dzahabi berkata:
Abdullah bin Imam Ahmad bin Hanbal berkata: Aku bertanya kepada ayahku: "Siapakah Rafidhah itu?" Beliau menjawab: "Yaitu orang yang mencaci maki salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam atau melecehkan mereka. Aku tidak memandang dia berada di atas Islam."
(Tarikh al-Islam - 18/89)
Al-Allamah Shalih al-Fauzan berkata:
Adapun orang yang membenci para sahabat, mengafirkan, melaknat, dan mencela mereka, maka ia bukan bagian dari kaum Muslimin. Karena ia tidak membenci mereka karena personilnya, melainkan membenci mereka karena sifat-sifat mereka dan apa yang mereka lakukan berupa pendampingan terhadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, pembelaan terhadap beliau, serta pengembanan agama ini setelahnya dan penyebarannya ke seluruh penjuru dunia. Ia tidak membenci mereka kecuali karena hal itu.
Oleh karena itu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Maka barangsiapa yang mencintai mereka, maka karena cintanya kepadaku ia mencintai mereka. Dan barangsiapa yang membenci mereka, maka karena bencinya kepadaku ia membenci mereka."
Maka orang yang membenci sahabat sebenarnya membenci Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah Jalla wa 'Ala berfirman: "...karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir dengan (kekuatan) mereka." (QS. Al-Fath: 29).
Maka tidak ada yang merasa jengkel terhadap sahabat Rasulullah, mencaci, dan merendahkan mereka kecuali orang kafir atau munafik, meskipun ia mengaku muslim. Seorang muslim tidak mungkin membenci sahabat Rasulullah, tidak mencaci mereka, melainkan meyakini keutamaan mereka, mendoakan mereka, memohonkan rahmat bagi mereka, dan mencintai mereka dengan kecintaan yang sangat besar karena kecintaan Rasulullah kepada mereka.
Juga berdasarkan sabda Rasulullah: "Janganlah kalian mencaci para sahabatku! Janganlah kalian mencaci para sahabatku! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai satu mud (cakupan dua telapak tangan) salah seorang dari mereka, tidak pula setengahnya."
Meskipun seseorang bersedekah emas sebesar gunung Uhud, sedekahnya tidak akan menyamai pahala dan keutamaan satu mud gandum yang disedekahkan oleh seorang sahabat Nabi, tidak juga setengah mud. Itulah keutamaan para sahabat radhiyallahu 'anhum. Sedekah dari mereka meskipun sedikit lebih utama daripada sedekah dari selain mereka meskipun banyak dan ikhlas karena Allah.
Tidak ada yang merendahkan, mencaci, atau meremehkan kedudukan sahabat kecuali orang yang di hatinya tidak ada iman, bahkan di hatinya terdapat dendam dan kedengkian terhadap mereka. Allah Jalla wa 'Ala berfirman: "...dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang." (QS. Al-Hashr: 10).
Maka hak sahabat atas kita adalah menghormati mereka, memuliakan mereka, mencintai mereka, meneladani mereka, dan mengikuti jejak mereka karena mereka adalah sahabat Rasulullah. Allah mencintai mereka, Rasulullah mencintai mereka, dan setiap orang yang memiliki iman di hatinya pasti mencintai mereka. Tidak ada yang membenci mereka kecuali orang yang tidak memiliki iman, baik ia kafir maupun munafik. Kita memohon keselamatan kepada Allah.
(Dari ceramah berjudul: Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah fil Shahabah)
Al-Allamah Shalih al-Fauzan berkata:
Wajib bagi pemuda muslim untuk waspada terhadap perkara-perkara ini dan tidak terpedaya oleh propaganda dan penyesatan ini, (seperti anggapan) bahwa siapa pun yang mengaku muslim maka dia adalah muslim meskipun ia melakukan pembatal keislaman, dan bahwa kita tidak boleh membeda-bedakan manusia.
Kita katakan: Kami tidak membedakan antara orang-orang yang saleh dan baik, namun kami membedakan antara yang baik (thayyib) dan yang buruk (khabits). Allah Ta'ala berfirman: "Katakanlah (Muhammad), 'Tidaklah sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu. Maka bertakwalah kepada Allah, wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat, agar kamu beruntung.'" (QS. Al-Ma'idah: 100).
Kami tidak membeda-bedakan di antara kaum muslimin, sekali-kali tidak. Namun kami membedakan antara yang baik dan yang buruk. "(Pemisahan itu) karena Allah hendak membedakan yang buruk dari yang baik dan menjadikan yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu semuanya ditumpukkan-Nya, lalu dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahanam. Mereka itulah orang-orang yang rugi." (QS. Al-Anfal: 37).
Allah Azza wa Jalla telah membedakan antara yang buruk dan yang baik. Maka orang yang tidak membedakan antara yang buruk dan yang baik, kemungkinan ia tidak memiliki akal untuk membedakan, atau ia tidak memiliki iman. Baginya semua orang sama saja, ia tidak memiliki iman untuk membedakan antara mukmin dan munafik, kafir dan muslim, serta ateis dan zindik. Orang yang tidak memiliki pembeda di antara manusia ini, kemungkinan akalnya rusak atau akidahnya yang rusak, kita berlindung kepada Allah dari hal itu.
(Duruus Syarh Nawaaqidh al-Islam | hlm. 136-138)