السؤال : لديَّ ذنوبٌ كثيرة وأُكثِرُ مِن الاستغفار، ولكني أرجِع لهذه الذنوب مرة أخرى،
فقيل : إنَّ هذا استغفار الكذابين وأن الأحسن أن تتركه؛ لأنه استغفار مع إصرار عن الذنب وهذا يُعَدّ استهزاء،
فهل هذا الكلام صحيح؟
الجَوَاب :
🖋️ قال العلامة صالح الفوزان :
لا، الذي قال لكَ الكلام هذا، هذا –والعياذ بالله!- يقنط رحمة الله، لا،
أكثر من الاستغفار وتب إلى الله كلما أذنبت تتوب ولا تقل أنا عصيت من قبل ورجعتُ،
تب مرة ثانية وثالثة ومائة وألف،
﴿وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ﴾ [آل عمران : 135]
أخشى أن يكون هذا مثل الذي قال لأخيه: «والله لا يغفر الله لفلان! قال الله: من ذا الذي يتألى عليّ ألا أغفر لفلان؛ إني قد غفرتُ له وأحبطت عملك»
فلا يتكلم الإنسان بجهل، لا يتكلم في هذه الأمور إلا أهل العلم، أما إنسان جاهل وعنده غيرة ما يتكلم بدون علم.
[فتاوى المجالس في تفسير المُفصّل / 4717-3019]
__________________________
🖋️ قال شيخ الإسلام ابن تيمية : فإنَّ التوبة حَسنة، وهي مِن أحبِّ الحسنات إلى الله، واللهُ يَفرح بتوبة عبده إذا تاب إليه أشد ما يمكن أن يكون من الفَرح.
[مجموع الفتاوى - ١٣٤/١٨]
قال تعالى : { قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًــــــــــــــا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (٥٣)} [سُورَةُ الزُّمَر]
__________________________
🖋️ قال الحافظ ابن كثير :
هذه الآيـــــــة الكريمة دعوة لجميع العصاة من الكفرة وغيرهم إلى التوبة والإنابة، وإخبار بأن الله يغفر الذنوب جميعا لمن تاب منها ورجع عنها، وإن كانت مهما كانت وإن كثرت وكانت مثل زبد البحر.
ولا يَصِح حَمل هذه الآية على غير توبة ؛ لأن الشرك لا يغفر لمن لم يتب منه.
[تفسير ابن كثير ت سلامة، ١٠٦/٧]
Pertanyaan: "Aku memiliki banyak dosa dan aku sering beristighfar, namun aku kembali melakukan dosa-dosa tersebut lagi.
Ada yang mengatakan: 'Ini adalah istighfarnya para pendusta, dan lebih baik engkau meninggalkannya saja; karena istighfar yang disertai terus-menerus melakukan dosa dianggap sebagai penghinaan (terhadap Allah).'
Apakah ucapan ini benar?"
Jawaban:
Pandangan Al-Allamah Shalih al-Fauzan:
"Tidak, orang yang mengatakan hal itu kepadamu—kita berlindung kepada Allah!—adalah orang yang membuatmu putus asa dari rahmat Allah. Tidak benar.
Perbanyaklah istighfar dan bertaubatlah kepada Allah setiap kali engkau berbuat dosa. Bertaubatlah dan jangan katakan 'aku sudah bermaksiat sebelumnya lalu terulang lagi'.
Bertaubatlah untuk kedua kali, ketiga kali, bahkan seratus atau seribu kali.
Allah Ta'ala berfirman:
> 'Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah?' (QS. Ali Imran: 135)
>
Aku khawatir orang (yang menegurmu) itu seperti orang yang berkata kepada saudaranya: 'Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan!' Lalu Allah berfirman: 'Siapa yang berani bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak mengampuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuninya dan Aku telah menghapuskan amalmu.'
Maka, janganlah seseorang berbicara atas dasar kebodohan. Jangan berbicara dalam perkara ini kecuali ahli ilmu. Adapun orang yang jahil (bodoh), meski ia memiliki semangat (ghirah) agama, ia tidak boleh berbicara tanpa ilmu."
(Fatawa al-Majalis fi Tafsir al-Mufashshal)
Pandangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:
"Sesungguhnya taubat adalah sebuah kebaikan, dan ia termasuk kebaikan yang paling dicintai oleh Allah. Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat kepada-Nya dengan kegembiraan yang paling besar."
(Majmu’ al-Fatawa)
Allah Ta'ala berfirman:
> "Katakanlah (Wahai Muhammad): 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang'." (QS. Az-Zumar: 53)
>
Pandangan Al-Hafiz Ibnu Katsir:
"Ayat yang mulia ini adalah seruan bagi seluruh pelaku maksiat, baik dari kalangan orang kafir maupun lainnya, untuk bertaubat dan kembali (kepada Allah). Ayat ini mengabarkan bahwa Allah mengampuni semua dosa bagi siapa saja yang bertaubat dan meninggalkannya, bagaimanapun dosa itu, meski sebanyak buih di lautan.
Namun, tidak benar membawa makna ayat ini tanpa adanya taubat; karena kesyirikan tidak akan diampuni bagi mereka yang tidak bertaubat darinya."
(Tafsir Ibnu Katsir)