Minggu, 01 Maret 2026

IBNU TAIMIYAH YANG TIDAK ANDA KETAHUI

IBNU TAIMIYAH YANG TIDAK ANDA KETAHUI

Banyak orang menyebut namanya.
Sedikit yang benar-benar memahami perannya.

Sebagian mengenalnya hanya dari perdebatan.
Sebagian mengenalnya dari kutipan.
Sebagian mengenalnya dari kontroversi.

Namun sangat sedikit yang mengenalnya dari medan krisis paling gelap dalam sejarah umat ini.

Sungguh,
Ini bukan kisah teori.
Ini bukan kisah majelis nyaman di masjid.
Ini kisah saat dunia Islam hampir runtuh.

Awal abad ke-8 Hijriyah.
Pasukan Mongol (Tatar) menyapu negeri-negeri Islam seperti badai yang tak terbendung.

Kota demi kota di Syam jatuh.
Benteng demi benteng runtuh.
Rakyat terbantai.
Wanita dan anak-anak ditawan.

Nama yang memimpin gelombang kehancuran itu adalah Qazan — cucu Hulagu, penghancur Baghdad.

Dan sejarah mencatat:
Jika bukan karena satu sikap tegas, satu keberanian, satu dorongan iman — Baitul Maqdis hampir saja diserahkan kepada sekutu-sekutu Salib.

Bukan karena kalah di medan perang.

Tetapi karena mental yang runtuh sebelum pedang diangkat.

Kaum Muslimin saat itu lari ke Mesir dan Al-Karak.
Sebab kota-kota Islam di Syam dalam kepanikan. Kota-kota itu berguguran di bawah tekanan Mongol.
Orang-orang menyembunyikan keluarga mereka di pegunungan.
Wanita dan anak-anak dipindahkan ke gua-gua.
Orang tua bersembunyi.
Salat dilakukan dengan rasa takut.
Doa-doa dipanjatkan dalam tangis.

Pasukan Mamluk goyah.
Pimpinan mereka diliputi kecemasan.
Langit Kairo terasa berat.
Semua menunggu satu pertanyaan:

“Kapan Mongol masuk?”

Lalu terdengar kalimat paling berbahaya dalam sejarah kekalahan:

“Kita tidak mampu.”

Dan sejarah selalu berubah — ketika satu orang menolak kalimat itu.

Dialah Ibnu Taimiyah yang mengubah arah sejarah yang akan dituliskan kemudian. Ia menolak dan menghalangi penyerahan Baitul Maqdis kepada para sekutu dari kalangan tentara Salib..

Ibnu Taimiah,
Bukan sultan.
Bukan jenderal.
Bukan pemegang pedang kekuasaan.

Seorang ulama.

Tetapi imannya lebih kokoh daripada benteng kota.
Keyakinannya lebih tajam daripada pedang pasukan.

Ia tidak duduk diam menulis fatwa di tengah krisis.

Ia turun.

Ia meneguhkan pasukan Syam.
Ia menyampaikan bahwa memerangi Tatar adalah kewajiban.
Ia membantah propaganda bahwa mereka tidak boleh diperangi hanya karena mengaku Muslim.

Ia menguatkan rakyat.
Ia menghidupkan kembali keyakinan yang hampir padam.

Namun krisis terbesar bukan di Syam.
Krisis terbesar ada di Mesir.

Sultan Mamluk saat itu, An-Nashir Muhammad bin Qalawun, diliputi ketakutan.
Pasukan ragu bergerak.
Keputusan tertunda.

Jika Mesir tidak bangkit, Syam akan hancur total.

Maka Ibnu Taimiyah pergi ke Mesir.

Ia berdiri di hadapan sultan.
Bukan dengan bahasa penjilat.
Bukan dengan kalimat yang menenangkan ego.

Ia berkata:

“Wahai Sultan, andaikata kalian bukan penguasa Syam, lalu penduduknya meminta pertolongan kepada kalian, maka wajib atas kalian menolong mereka. Lalu bagaimana mungkin kalian adalah penguasanya, mereka rakyat kalian, dan kalian bertanggung jawab atas mereka?”

Itu bukan sekadar nasihat.
Itu tamparan kesadaran.
Itu guncangan jiwa.

Dan api yang hampir padam mulai menyala kembali.

Pasukan Mesir bergerak menuju Syam.
Harapan bangkit.

Lalu ia bersumpah:

“Demi Allah, dalam pertempuran kali ini kalian akan memperoleh kemenangan.”

Para amir berkata,
“Katakanlah: insya Allah.”

Jawabnya tegas:

“Insya Allah — sebagai kepastian, bukan sekadar penggantungan.”

Musuh tidak tinggal diam.

Intelijen Tatar, yang menampakkan diri sebagai muslim, menyebarkan propaganda dan fatwa:

“Mereka Muslim. Tidak boleh diperangi.”

Itu perang psikologis.
Itu senjata moral.

Menghadapi fatwa intelejen Tatar, Ibnu Taimiyah tak gentar dan justru berujar kepada penduduk dengan kalimat yang menembus zaman:

“Jika kalian melihatku di pihak mereka bersama Tatar, dan di atas kepalaku ada mushaf, maka bunuhlah aku.”

Itulah kejelasan sikap.
Tidak abu-abu.
Tidak oportunis.
Tidak mencari aman.

Ucapan itu membuat publlik semakin berkobar untuk memerangi Tatar.

Awal Ramadan 702 H.
Terjadilah Perang Syaqhab.

Ketika sebagian pasukan goyah…
Ketika ketakutan mencoba kembali…
Ibnu Taimiyah tidak mundur.

Ia berdiri di atas kudanya.
Menghadap puluhan ribu pasukan Tatar.
Seperti Nabi ﷺ berdiri di Hunain.

Ia meminta ditempatkan di posisi paling depan — posisi kematian.
Di hadapan musuh, ia menengadah lama ke langit.
Bibirnya bergerak.
Doa mengalir.

Itu bukan keberanian kosong.

Itu tawakal yang hidup.

Pertempuran pun meledak.

Debu menutup langit.
Pedang beradu.
Takbir menggema.

Dan Allah memberikan kemenangan.

Tatar dikalahkan.
Syam terselamatkan.

Baitul Maqdis tak jadi jatuh dan tumbang.

Tetapi kemenangan terbesar bukan hanya militer.
Itu kemenangan mental.

Kemenangan atas rasa takut.
Kemenangan atas propaganda.
Kemenangan atas sikap menyerah sebelum berjuang.

Hari itu orang-orang membaca Al-Qur’an.
Bersedekah.
Memberi makan fakir miskin.
Menangis dalam syukur.

Dan sejarah mencatat dan manusia kembali menyadari:

Ia bukan sekadar ulama.
Ia adalah benteng ketika benteng runtuh.
Ia adalah suara ketika suara-suara lain memilih diam.
Ia adalah keberanian ketika para pemimpin hampir tenggelam dalam ketakutan.

Inilah Ibnu Taimiyah yang jarang dibicarakan.
Sejarah tidak selalu berubah karena banyaknya manusia.
Sejarah berubah karena satu orang
yang menolak tunduk pada ketakutan.

Dan umat ini tidak pernah benar-benar kalah
selama masih ada orang-orang
yang berdiri ketika semua ingin lari.

____
• Yani Fahriansyah
• Digubah dari tulisan penulis sirah dan sejarah, Ali Ash-Shalabiy berjudul Ibnu Taimiah Alladziy La Ta’rifuhu yang mengambil sumber dari:

 • Ibnu Katsir – Al-Bidayah wan Nihayah
 • Ibnu Iyas – Bada’i az-Zuhur fi Waqa’i ad-Duhur, tahqiq Muhammad Mustafa, الهيئة المصرية العامة للكتاب, Kairo 1982
 • Ibnu Taghri – An-Nujum az-Zahirah fi Muluk Misr wal-Qahirah, الحياة المصرية, Kairo 1968
 • Al-Maqrizi – Al-Mawa’iz wal-I’tibar bi Dzikr al-Khitat wal-Atsar, مطبعة الأدب, Kairo 1968