Senin, 29 Desember 2025

Menemukan "Healing" Sejati dalam Manisnya Ilmu Agama ๐Ÿ“š✨

*Menemukan "Healing" Sejati dalam Manisnya Ilmu Agama ๐Ÿ“š✨*

​Pernahkah Anda merasa jenuh dalam belajar, atau merasa "kering" padahal sudah banyak membaca? Jika iya, mungkin yang kita butuhkan bukan sekadar wawasan baru, melainkan apa yang disebut oleh para ulama sebagai "Lazzatul 'Ilmi" atau Kelezatan Ilmu.

​Buku luar biasa yang sedang kita bahas ini berjudul: "Meneladani Malaikat: Kelezatan, Keindahan, dan Kecintaan terhadap Ilmu". 

Ditulis oleh Dr. Ashim al-Luhaidan, buku ini adalah "gerbang emas" bagi siapa pun yang ingin mereguk saripati pemikiran dua Imam Besar dalam sejarah Islam: Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim.

​Kenapa Buku Ini Sangat Berbobot? ๐Ÿฅฉ
​Penulisnya melakukan riset yang luar biasa mendalam. Beliau menyaring isi dari sekitar 60 jilid karya besar kedua imam tersebut hanya untuk membahas satu tema sentral: CINTA PADA ILMU.
​Buku ini tidak berbicara tentang teori yang kaku, melainkan tentang rasa. Di dalamnya, kita akan menemukan rahasia mengapa para ulama terdahulu bisa betah membaca buku selama berjam-jam hingga lupa makan. Ternyata, bagi mereka, ilmu adalah "healing" terbaik, obat bagi dada yang sesak, dan taman bermain bagi akal budi.

​Cuplikan Isi yang Menggugah Jiwa ๐Ÿ’ก

​Ada satu bagian di buku ini yang sangat menyentuh, mengutip perkataan Sahabat Ali bin Abi Thalib ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡:

​"Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjagamu, sedangkan engkau yang harus menjaga harta. Ilmu itu bertambah subur jika diamalkan, sedangkan harta berkurang jika dibelanjakan."

​Dan ini bagian yang menjelaskan keindahan judul buku ini:

​"Kenapa penuntut ilmu disebut menyerupai malaikat? Karena malaikat adalah makhluk yang paling tulus memberi nasihat dan manfaat bagi manusia. Begitupun orang berilmu, ia hidup untuk menerangi jalan orang lain. Itulah alasan mengapa malaikat sangat mencintai dan membentangkan sayapnya sebagai bentuk penghormatan bagi mereka yang menempuh jalan ilmu."

​Kesimpulan: Sebuah Perjalanan Spiritual ✅

​Buku ini bukan sekadar bacaan, melainkan sebuah investasi spiritual. Bahasanya telah diringkas sedemikian rupa sehingga tetap ringan dibaca namun memiliki kedalaman makna yang luar biasa.

​Membaca buku ini akan mengubah cara pandang kita secara total: dari yang tadinya menganggap belajar sebagai "beban", menjadi sadar bahwa belajar adalah "kebutuhan pokok" yang bahkan lebih mendesak daripada makan dan minum.

​Gimana, siap untuk jatuh cinta lagi pada ilmu? ๐Ÿ“–❤️
Ustadz syahid ridlo

Kaidah-Kaidah Dasar dalam Membangun dan Melakukan Perubahan​:

ู‚ูˆุงุนุฏ ุงู„ุชุฃุณูŠุณ ูˆุงู„ุจู†ุงุก ูˆุงู„ุชุบูŠูŠุฑ 

 1. ุงู„ุฅุฎู„ุงุต: ุฃุณุงุณ ุงู„ู‚ุจูˆู„ ูˆุจู‚ุงุก ุงู„ุฃุซุฑ
 2. ุงู„ุงุณุชุดุงุฑุฉ ูˆุงู„ุงุณุชุฎุงุฑุฉ: ุงู„ุฌู…ุน ุจูŠู† ุงู„ุชูˆูƒّู„ ูˆุงู„ุฃุฎุฐ ุจุงู„ุฃุณุจุงุจ
 3. ุงู„ุจุฏุก ุจุงู„ู…ู…ูƒู† ูˆุนุฏู… ุงู†ุชุธุงุฑ ุงู„ูƒู…ุงู„
 4. ุงู„ุชุฏุฑّุฌ: ุณู†ّุฉ ุดุฑุนูŠุฉ ูˆูƒูˆู†ูŠุฉ
 5. ุชุฑุชูŠุจ ุงู„ุฃูˆู„ูˆูŠุงุช: ุงู„ุฃู‡ู… ูุงู„ู…ู‡ู…
 6. ุงู„ุญูƒู…ุฉ ูˆุงู„ุฑูู‚ ููŠ ุงู„ุฅุตู„ุงุญ
 7. ุฏุฑุก ุงู„ู…ูุงุณุฏ ู…ู‚ุฏّู… ุนู„ู‰ ุฌู„ุจ ุงู„ู…ุตุงู„ุญ
 8. ุงู„ุงู„ุชุฒุงู… ุจุงู„ุฃุฎู„ุงู‚ ููŠ ุงู„ุนู„ู… ูˆุงู„ุนู…ู„ ูˆุงู„ุชุฌุงุฑุฉ
 9. ุงู„ุตุจุฑ: ุฑููŠู‚ ุงู„ุฅุตู„ุงุญ ูˆุทุฑูŠู‚ ุงู„ุชู…ูƒูŠู†

ู‚ูˆุงุนุฏ ุงู„ุชุฃุณูŠุณ ูˆุงู„ุจู†ุงุก ูˆุงู„ุชุบูŠูŠุฑ

Kaidah-Kaidah Dasar dalam Membangun dan Melakukan Perubahan

  1. Ikhlas: Dasar diterimanya amal dan langgengnya jejak (pengaruh).
  2. Istisyarah (Musyawarah) & Istikharah: Memadukan antara tawakal dan menjalankan sebab (ikhtiar).
  3. Memulai dari yang Memungkinkan: Dan tidak menunggu hingga sempurna.
  4. Bertahap (Gradual): Merupakan ketetapan syariat dan hukum alam (sunnatullah).
  5. Menentukan Skala Prioritas: Mendahulukan yang paling penting sebelum yang penting.
  6. Hikmah dan Lemah Lembut: Dalam melakukan perbaikan (ishlah).
  7. Menghindari Kerusakan: Harus didahulukan daripada mengambil kemaslahatan (manfaat).
  8. Komitmen pada Etika: Baik dalam ilmu, amal (pekerjaan), maupun perniagaan.
  9. Sabar: Teman setia dalam perbaikan dan jalan menuju keberhasilan (tamkin).
Syaikh asim abdullah al qoryuti

Dhawabit dalam Bab Sujud-sahwi

๐Ÿ•‹Dhawabit dalam Bab Sujud-sahwi

Ada beberapa Dhawan dalam Bab Sujud-sahwi di antaranya:

▶️ Lupa akan rukun setelah salam maka tidak mudharat, kecuali jika lupa niat, atau lupa takbiratul-ihram, atau lupa thaharah (yg ini ada khilaf sesama Syafi'iyah). 

▶️ Disyari'atkan sujud sahwi karena sebab sahwi nya imam, selama imam nya punya thaharah (jika imam lupa dan tidak punya thaharah maka sahwi imam tidak merembet ke makmum). 

▶️Makmum tidak disyari'atkan sujud sahwi dengan sebab sahwi dirinya sendiri. 

▶️ Jikalau makmur menduga imamnya salam, namun ternyata imam belum salam, maka makmum cukup mengulang salam, dan tidak perlu sujud sahwi. 

▶️Jikalau makmum dalam keadaan tasyahud akhir ingat ada rukun yang ditinggalkan selain niat dan takbiratul-ihram maka cukup tambah 1 rakaat dan tidak perlu sujud sahwi.

▶️ Sujud-sahwi walau berbilang sebabnya maka cukup dua kali sujud. 

▶️ Jikalau imam sujud sahwi maka makmum masbuq juga sujud sahwi dengan dua kondisi :
1️⃣ Wajib sujud ketika mengikuti imam nya yang sujud sahwi
2⃣ Sunah mengulang sujud sahwi di bagian akhir shalat si makmum, walaupun makmum tidak memiliki sebab sujud sahwi pada dirinya sendiri.
ustadz varian 

Penjelasan perbedaan dakwah salafiyyah dan dakwah harakiyyah–hizbiyyah secara ringkas sebagaimana biasa dibahas oleh para ulama Ahlus Sunnah:

Penjelasan perbedaan dakwah salafiyyah dan dakwah harakiyyah–hizbiyyah secara ringkas sebagaimana biasa dibahas oleh para ulama Ahlus Sunnah:


1. Landasan Manhaj (Metodologi)

Dakwah Salafiyyah
 • Berdiri di atas Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih (sahabat, tabi‘in, tabi‘ut tabi‘in).
 • Menjadikan ittibฤ‘ (mengikuti dalil) sebagai asas, bukan tokoh atau organisasi.
 • Prinsip utama: al-แธฅaqq yuqraf bi ad-dalฤซl, lฤ bi ar-rijฤl
(kebenaran diukur dengan dalil, bukan figur).

Dakwah Harakiyyah–Hizbiyyah
 • Berangkat dari gerakan (แธฅarakah) dan ikatan kelompok (แธฅizb).
 • Manhaj sering dibangun di atas tujuan gerakan, strategi politik, atau agenda perubahan sosial.
 • Pemikiran tokoh dan ideologi tertentu sering menjadi rujukan utama.


2. Tujuan Utama Dakwah

Salafiyyah
 • Tashfiyah: memurnikan akidah dan ibadah dari syirik, bid‘ah, dan penyimpangan.
 • Tarbiyah: mendidik umat di atas ilmu, sunnah, dan akhlak salaf.
 • Fokus jangka panjang: perbaikan individu → keluarga → masyarakat.

Harakiyyah–Hizbiyyah
 • Fokus pada perubahan sosial dan politik.
 • Target sering bersifat struktural: kekuasaan, sistem negara, atau dominasi opini publik.
 • Pendidikan akidah kadang menjadi sekunder dibanding agenda gerakan.


3. Sikap terhadap Kelompok & Organisasi

Salafiyyah
 • Tidak terikat pada organisasi tertentu.
 • Loyalitas kepada Islam dan Sunnah, bukan kepada kelompok.
 • Persatuan dibangun di atas kebenaran, bukan jumlah atau struktur.

Harakiyyah–Hizbiyyah
 • Sangat menekankan loyalitas jamaah (al-walฤ’ al-แธฅizbฤซ).
 • Kritik internal sering dianggap melemahkan barisan.
 • Berpotensi menumbuhkan fanatisme kelompok.


4. Pendekatan dalam Menyikapi Kesalahan

Salafiyyah
 • Kesalahan ditimbang dengan dalil dan manhaj salaf.
 • Membedakan antara:
 • Bid‘ah
 • Khilaf mu‘tabar
 • Ijtihad yang keliru
 • Menjaga keadilan meski terhadap lawan.

Harakiyyah–Hizbiyyah
 • Kesalahan sering ditoleransi demi maslahat gerakan.
 • Prinsip: “Kita bekerja sama pada yang disepakati dan saling memaklumi pada yang diperselisihkan”—meski menyangkut masalah manhaj dan akidah.
 • Potensi mengorbankan prinsip demi strategi.


5. Sikap terhadap Penguasa

Salafiyyah
 • Berdalil dengan hadits-hadits ketaatan dalam kebaikan.
 • Menolak pemberontakan dan provokasi.
 • Menasihati penguasa dengan cara syar‘i, bukan agitasi massa.

Harakiyyah–Hizbiyyah
 • Cenderung kritis secara terbuka.
 • Sebagian menghalalkan demonstrasi, tekanan massa, bahkan revolusi.
 • Lebih dekat dengan aktivisme politik.


6. Buah Dakwah (Dampak Nyata)

Salafiyyah
 • Melahirkan:
 • Tauhid yang lurus
 • Ibadah sesuai sunnah
 • Akhlak ilmiah dan tawadhu‘
 • Perubahan lambat tapi kokoh dan berkelanjutan.

Harakiyyah–Hizbiyyah
 • Melahirkan:
 • Semangat dan militansi
 • Aktivisme tinggi
 • Namun sering:
 • Rapuh saat tokoh tumbang
 • Terpecah ketika konflik internal muncul
#ahmadzainuddinalbanjary

Ruqyah toko terlihat tutup ustadz muhammad faizar

https://youtu.be/tWMMyzWZv_I?si=eS0Gy59O8ZuTT2bN
Ruqyah toko terlihat tutup ustadz muhammad faizar

Menjawab Salam dalam Hati kepada Kaum Asyairah

Menjawab Salam dalam Hati kepada Kaum Asyairah

Ibnu 'Asakir berjalan melewati Al-Muwaffaq Ibnu Qudamah. Ibnu 'Asakir pun mengucapkan salam, tetapi Ibnu Qudamah tak menjawab salamnya. Seseorang lantas bertanya kepada Ibnu Qudamah tentang alasan yang membuatnya tak mau menjawab salam dari Ibnu 'Asakir. Ibnu Qudamah menjawab, "Sungguh Ibnu 'Asakir itu berpegang pada pendapat tentang Kalam Nafsi. Oleh karena itu, aku pun menjawabnya di dalam hati (yakni dengan kalam nafsi)." 

(Thabaqat Syafi'iyyah Kubra, 8/184)

๐™„๐™‰๐™„๐™‡๐˜ผ๐™ƒ ๐˜ผ๐™Œ๐™„๐˜ฟ๐˜ผ๐™ƒ ๐˜ฟ๐˜ผ๐™‰ ๐˜ผ๐™ˆ๐˜ผ๐™‡๐™„๐˜ผ๐™ƒ ๐™ˆ๐™๐™ƒ๐˜ผ๐™ˆ๐™ˆ๐˜ผ๐˜ฟ๐™„๐™”๐˜ผ๐™ƒ [ ๐™๐™š๐™จ๐™ข๐™ž ๐™›๐™–๐™ฉ๐™ฌ๐™– ๐™ข๐™–๐™Ÿ๐™š๐™ก๐™ž๐™จ ๐™ฉ๐™–๐™ง๐™Ÿ๐™ž๐™ ๐™™๐™–๐™ฃ ๐™ฉ๐™–๐™Ÿ๐™™๐™ž๐™™ ๐™‹๐™‹ ๐™ˆ๐™ช๐™๐™–๐™ข๐™ข๐™–๐™™๐™ž๐™ฎ๐™–๐™ ]

๐™„๐™‰๐™„๐™‡๐˜ผ๐™ƒ  ๐˜ผ๐™Œ๐™„๐˜ฟ๐˜ผ๐™ƒ ๐˜ฟ๐˜ผ๐™‰ ๐˜ผ๐™ˆ๐˜ผ๐™‡๐™„๐˜ผ๐™ƒ ๐™ˆ๐™๐™ƒ๐˜ผ๐™ˆ๐™ˆ๐˜ผ๐˜ฟ๐™„๐™”๐˜ผ๐™ƒ [ ๐™๐™š๐™จ๐™ข๐™ž ๐™›๐™–๐™ฉ๐™ฌ๐™– ๐™ข๐™–๐™Ÿ๐™š๐™ก๐™ž๐™จ ๐™ฉ๐™–๐™ง๐™Ÿ๐™ž๐™ ๐™™๐™–๐™ฃ ๐™ฉ๐™–๐™Ÿ๐™™๐™ž๐™™ ๐™‹๐™‹ ๐™ˆ๐™ช๐™๐™–๐™ข๐™ข๐™–๐™™๐™ž๐™ฎ๐™–๐™ ] 
____

[ 1 ] Bagaimana warga muhammadiyah memahami sifat tangan bagi Allah, juga sifat-sifat Allah yang lain? 

Warga muhammadiyah mengatakan : Allah punya tangan, tapi tidak sama dengan tangan makhluk 

Ini sebagimana fatwa majelis tarjih dan tajdid PP Muhammadiyah : 

Jika dikatakan bahwa Allah mempunyai tangan, maka tangan Allah berbeda dengan tangan manusia atau makhluk lainnya. Jika dia mempunyai wajah, maka wajah Allah berbeda dengan wajah manusia atau makhluk lainnya, dan seterusnya.

https://www.google.com/amp/s/fatwatarjih.or.id/maksud-al-kainat-dan-al-ikhtiar-dalam-hpt-muhammadiyah/amp/

[ 2 ] Bagaimana warga muhammadiyah memahami konsep Allah diatas arsy?

Warga muhammadiyah mengatakan : Allah bersemanyam diatas arsy, tapi jangan tanya bagaimana bersemanyam nya itu, dan Allah dekat dengan hamba-Nya dengan ilmu Nya 

Sebagaimana fatwa majelis tarjih dan tajdid PP Muhammadiyah : 

Dalam ayat-ayat tersebut dijelaskan bahwa Allah beristiwa’ atau bersemayam di atas ‘Arsy, dan kita wajib beriman kepada-Nya dengan tidak perlu bertanya-tanya bagaimana dan dimana.

Adapun yang dimaksud dengan qarib, (dekat) ialah: Bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, Dia mendengar perkataan manusia, dan melihat segala macam perbuatannya, tidak ada hijab antara Allah dan manusia, tiada perantara atau wali yang menyampaikan doa’a mereka kepada Allah, tiada yang membantu-Nya dalam mengabulkan permohonan manusia kepada-Nya, Allah akan mengabulkan do’a manusia tanpa perantara seorangpun, apabila sesorang berdo’a kepada-Nya, sebab Allah-lah yang menciptakannya, Dia Maha Mengetahui segala apa yang ada dalam hati setiap orang. Demikianlah yang dimaksud dengan “aqrabu ilaihi min hablil warid”. (lebih dekat kepadanya daripada urat leher) yang disebutkan dalam surat Qaf (50): 16.

Maka jelaslah, bahwa ayat-ayat tersebut tidak bertentangan antara ayat yang menyatakan bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy, dengan ayat yang menyatakan bahwa Allah SWT sangat dekat dengan kita

https://tarjih.or.id/apa-maksud-allah-bersemayam-di-atas-arsy-nya/

[ 3 ] Bagaimana warga muhammadiyah memahami ayat-ayat tentang nama - nama dan sifat-sifat Allah? 

Warga muhammadiyah berkata : mengimani dengan menetapkan tanpa ta'thil, tanpa tahrif, tanpa tamtsil, tanpa takyif 

Sebagimana penjelasan ketua majelis tabligh PP Muhammadiyah, Ustadz Fathurrahman Kamal, Lc. MA : 

Mari kita cermati rumusan kaum Salaf tentang tauhid Asma’ & Shifat berikut ini:

“Pengakuan dan kesaksian yang tegas tentang Nama-nama Yang Baik dan Shifat-shifat Yang Agung bagi Allah SWT sesuai dengan apa yang diterangkanNya dalam Al-Qur’an dan dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam Sunnah, tanpa disertai ‘tamtsil’ (perumpamaan), ‘tasybih’ (penyerupaan), ‘ta’thil’ (penafian), ‘tahrif’ (penyimpangan) dan ‘takyif’ (penentuan bentuk atau hakekatnya).”[1]

Rumusan tertera berdasarkan pada firman Allah SWT :

{ู„َูŠْุณَ ูƒَู…ِุซْู„ِู‡ِ ุดَูŠْุกٌ ูˆَู‡ُูˆَ ุงู„ุณَّู…ِูŠุนُ ุงู„ْุจَุตِูŠุฑُ}

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan ia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.”[2]

Batasan makna di atas mengajarkan kita tentang satu substansi bahwa, permasalahan Asma’ & Shifat bersifat informatif murni (khabar), yang berkisar pada dua hal; negasi (nafyu) dan afirmasi (itsbat) dari sisi Allah SWT serta dapat disikapi oleh penerima pesan (mukhathab) dengan dua sikap pula; membenarkan (tashdiq) atau mendustakan (takdzib). Mengapa demikian? jelas, karena ini merupakan informasi murni tentang perkara-perkara yang wajib dimiliki oleh Allah SWT dari tauhid dan kesempurnaan sifat serta segala sesuatu yang mustahil bagiNya; syirik, sifat kekurangan dan penyerupaanNya dengan yang sesuatu yang tercipta (makhluq).[3]

Footnote : 

[1] Lihat, Dr. Ibrahim Muhammad Ibn Abdullah Al-Buraykan, al-Madkhal li Dirasat al-Aqidah al-Islamiyah ‘ala Madzhab ahl al-sunnah wa al-Jama’ah, (Riyadl: tp., tt. ), Cet.   hal. 90., Syaikh Muhammad Ibn Shalih Ibn al-‘Utsaymin, Taqrib al-Tadmuriyiyah (Al-Qahirah: Maktabh al-Sunnah, 1413), Cet. I, hal.19.
[2] Q.S. Al-Syura : 11
[3] Ibid., hal. 17

http://tabligh.muhammadiyah.or.id/berita-88-detail-melihat-allah-swt-di-dunia-akherat.html

[ 4 ] Bagaimana warga muhammadiyah memahami bid'ah? apakah mobil itu bid'ah? adakah bid'ah hasanah? 

Warga muhammadiyah menjawab : bid'ah hanya meliputi persoalan aqidah dan ibadah mahdhah, dan semua bid'ah sesat 

Sebagimana fatwa majelis tarjih dan tajdid PP Muhammadiyah : 

Memahami istilah di atas bahwa bid’ah dibatasi dalam hal agama (akidah dan ibadah), maka dalam pemahaman Muhammadiyah tidak ada bid’ah hasanah, yang ada adalah bahwa setiap bid’ah itu adalah sesat.

https://tarjih.or.id/bidah-sunnah-hasanah-dan-sunnah-sayyiah/

[ 5 ] Bagaimana warga muhammadiyah dalam berzikir? 

Warga muhammadiyah akan berzikir sendiri sendiri dengan suara lirih 

Sebagimana fatwa majelis tarjih dan tajdid PP Muhammadiyah : 

Menurut Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, cara terbaik bagi kita adalah kembali kepada praktik yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ulama SALAF, yaitu secara pelan-pelan dan dilakukan sendiri-sendiri. Hal ini karena doa itu adalah ibadah, maka jangan dimasukkan rekayasa pikiran dan model-model yang tidak ada tuntunan kaifiyatnya.

https://muhammadiyah.or.id/2021/02/hukum-dzikir-berjamaah/

[ 6 ] Apakah warga muhammadiyah menggunakan hadits ahad sebagai sumber menetapkan aqidah? 

Jawab : iya, seperti aqidah tentang azab qubur diyakini oleh warga muhammadiyah 

Sebagimana pernyataan Ustadz Cecep Taufiqurrahman, Wakil Sekretaris Lembaga Pengembangan Pesantren Pimpinan Pusat Muhammadiyah terkait buku manhaj tarjih karya Asmuji Abdurrahman. Menurutnya, pandangan pribadi Asjmuni Abdurrahman tidaklah menjadi putusan resmi di Majelis Tarjih dan Tajdid. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat penegasan resmi dari Majelis Tarjih yang menyatakan bahwa hanya hadis mutawatir yang digunakan dalam putusan hukum termasuk persoalan akidah.

Faktanya, Himpunan Putusan Tarjih dan Putusan Hukum Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah mencakup penggunaan hadis ahad (baik sahih maupun hasan) sebagai dalil dalam putusan-putusan mereka. Bukti konkret dapat ditemukan dalam Himpunan Putusan Tarjih, khususnya dalam Kitab Iman 

https://muhammadiyah.or.id/2024/04/bagaimana-keyakinan-muhammadiyah-dengan-adanya-siksa-kubur/

[ 7 ] Apakah warga muhammadiyah boleh membaca al barzanji? 

Warga muhammadiyah tidak boleh membaca al barzanji karena ada lafal lafal yang menyimpang dan meracuni keimanan 

Sebagimana fatwa majelis tarjih dan tajdid PP Muhammadiyah : 

Menjawab pertanyaan Saudara yang terakhir tentang membaca Kitab Barzanji, sebaiknya menurut kami tidak usah Saudara membacanya, karena di dalamnya (kalau Saudara mengerti bahasa Arab), ada lafadz-lafadz yang menyimpang dan meracuni keimanan.

https://www.google.com/amp/s/fatwatarjih.or.id/masalah-shalawat-dan-kitab-barzanji/amp/

* Tentang konsep umum dalam memahami nama - nama dan sifat-sifat Allah kami cantumkan penjelasan ketua majelis tabglih [ bukan dari keputusan atau fatwa majelis tarjih dan tajdid, sementara itu, terkait hadits ahad, realita dalam HPT dan produk majelis tarjih selalu menggunakan hadits ahad dalam aqidah sebagimana dijelaskan oleh Wakil Sekretaris Lembaga Pengembangan Pesantren Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Tulisan ini kami tulis sebagai pertanggungjawaban ilmiah sebagai dai, agar tidak ada yang berbicara tentang persyarikatan muhammadiyah dalam hal aqidah tanpa merujuk kepada sumber utama, yaitu keterangan majelis tarjih dan tajdid. 

Siapa saja dari tokoh pengurus muhammadiyah, apalagi warga muhammadiyah yang berbeda dengan fatwa majelis tarjih dan tajdid maka tidak mewakili muhammadiyah. 

Sehingga tidak elok menilai aqidah muhammadiyah selain daripada putusan majelis tarjih dan tajdid. 

Sebagimana tidak elok menilai islam dari pengikutnya. 

Semoga apa yang kami himpun ini menjadi wawasan ilmu bagi yang belum mengetahui, baik bagi kader muhammadiyah [ yg punya NBM ], simpatisan muhammadiyah atau selain itu.
https://fatwatarjih.or.id/maksud-al-kainat-dan-al-ikhtiar-dalam-hpt-muhammadiyah/?fbclid=IwVERDUAO_NZtleHRuA2FlbQIxMABzcnRjBmFwcF9pZAwzNTA2ODU1MzE3MjgAAR5bIDqnBh3KQ1VoNr7DAlnRht-_GC5UxzbJ268iFFGnBR24ZXDDtEgqaSZZSw_aem_hwNiLawwSGJdWjFiLMTtCg