Rabu, 09 September 2026

Jika istri anda galak, sering marah, enggan ngasih jatah, anda sering disuruh tidur di luar, dan macem-macem 'penindasan' lainnya, maka cobalah husnudhon kepada Gusti Allah

Jika istri anda galak, sering marah, enggan ngasih jatah, anda sering disuruh tidur di luar, dan macem-macem 'penindasan' lainnya, maka cobalah husnudhon kepada Gusti Allah. Mungkin itu adalah bentuk kasih sayang Gusti Allah kepada anda. Dengan hal-hal seperti itu, Allah dapat menghapus dosa-dosa anda. Bersabarlah. Jika anda meninggalkan istri yang seperti itu, mungkin akan ada balak atau musibah yang lebih dahsyat. Berhusnudhonlah, itu takdir terbaik bagi anda.

Gambar dari kitab:
صفحات من أخبار الصبر على الزوجات
Ustadz nanal ainal 

KISAH HATIM AL ASHAM DAN GURUNYA SYAQIQ AL BALKHY

KISAH HATIM AL ASHAM DAN GURUNYA SYAQIQ AL BALKHY

Dalam Ihya' ulumuddin kitabul ilm diterangkan :

 

روي عن حاتم الأصم، تلميذ شقيق البلخي رضي الله عنهما أنه قال له شقيق: "مُنْذُ كَمْ صحبتَنِي؟"،

قال حاتم: "منذُ ثلاثٍ وثلاثين سنةً"، قال: "فَمَا تَعَلَّمْتَ مِنِّي في هذه المدة؟"، قال: "ثَماني مَسَائِلَ"، قال شقيق له: "إنا لله وإنا إليه راجعون، ذَهَبَ عُمْرِي مَعَكَ ولَم تَتَعَلَّمْ إِلاَّ ثَمَانِيَ مَسَائِلَ؟!"، قال: "يا أستاذُ، لَمْ أَتَعَلَّمْ غَيْرَهَا. وَإِنِّي لاَ أُحِبُّ أَنْ أَكْذِبَ"، فقال: "هَاتِ هَذِهِ الثَّمَانِي مسائلَ حَتَّى أَسْمَعَهَا"، قال حاتم: "نظرتُ إلى هذا الخلقِ فَرَأَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ يُحِبُّ مَحْبُوْبًا، فَهُوَ مَعَ مَحْبُوْبِهِ إِلَى القَبْرِ. فَإِذَا وَصَلَ إِلَى القَبْرِ فَارَقَهُ. فَجَعَلْتُ الحَسَنَاتِ مَحْبُوْبِي. فَإِذَا دَخَلْتُ القَبْرَ دَخَلَ مَحْبُوبي مَعِي"، فَقَالَ: "أَحْسَنْتَ يَا حَاتِمُ، فَمَا الثَّانِيَةُ؟"
  

فقال: "نظرتُ فِي قول الله عز وجل: "وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الهَوَى فَإِنَّ الجَنَّةَ هِيَ المَأْوَى"، فَعَلِمْتُ أَنَّ قولَه سبحانه وتعالى هُوَ الحَقُّ، فَأَجْهَدْتُ نَفْسِي فِي دَفْعِ الهَوَى حَتَّى اسْتَقَرْتُ على طاعةِ اللهِ تعالى؛

الثالثةُ أني نظرتُ إلى هذا الخلقِ فرأيتُ كلّ ممن معه شيءٌ له قيمةٌ ومقدارٌ رَفَعَه وَحَفِظَهُ، ثم نظرتُ إلى قول الله عز وجل: "مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللهِ بَاقٍ". فَكلما وقع معي شيءٌ له قيمةٌ ومقدارٌ وَجَّهْتُهُ إلى الله لِيَبْقَى عِنْدَه محفوظا؛

الرابعة أني نظرت إلى هذا الخلق فرأيت كلَّ واحدٍ منهم يرجِعُ إلى المالِ، وإلى الحسب، والشرف، والنسب، فنظرتُ فيها فإذا هي لا شيءَ، ثم نظرتُ إلى قول الله تعالى: "إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ"، فعملتُ فِي التَّقْوَى حتى أكونَ عند الله كريما؛

الخامسة أني نظرتُ إلى هذا الخلق، وهم يَطْعُن بعضُهم في بعضٍ ويُلْعِن بعضُهم بعضا. وأصلُ هذا كله الحسدُ، ثم نظرتُ إلى قول الله عز وجل: "نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيْشَتَهُمْ فِي الحَيَاةِ الدُّنْيَا"، فتركتُ الحسدَ وَاجْتَنَبْتُ الخلقَ وَعَلِمْتُ أَنَّ القسمةَ مِن عِنْدِ اللهِ سبحانه وتعالى، فَتَرَكْتُ عَدَاوَةَ الخلقِ عَنِّي؛

السادسة نظرتُ إلى هذا الخلقِ يَبْغِي بَعْضُهم على بعضٍ وَيُقَاتِل بعضُهم بعضا، فرجعتُ إلى قول الله عز وجل: "إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا"، فعاديتُه وحدَه وَاجْتَهَدْتُ فِي أَخذ حذري منه لأن اللهَ تعالى شهِد عليه أَنَّهُ عَدُوٌّ لِي، فَتَرَكْتُ عَدَاوَةَ الخَلْقِ غَيْرَهُ؛

السابعة نظرتُ إلى هذا الخلقِ فَرَأَيْتُ كلَّ واحدٍ منهم يطلب هذه الكسرةَ فَيذِلُّ فِيها نفسه ويدخل فيما لا يَحِلُّ له، ثم نظرتُ إلى قوله تعالى: "وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللهِ رِزْقُهَا"، فَعَلِمْتُ أني واحدٌ من هذه الدوابِ الَّتِي على الله رزقُها، فاشتغلتُ بما لله تعالى عليَّ وَتَرَكْتُ ما لي عنده؛

الثامنة نظرت إلى هذا الخلق فرأيتُهم كلَّهم مُتَوَكِّلِينَ على مخلوقٍ: هذا على ضَيْعَته، وهذا على تِجَارتِه، وهذا على صِنَاعته، وهذا على صحة بَدَنِه. وكل مخلوق متوكل على مخلوقٍ مثلَه. فرجعت إلى قوله تعالى: "وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ"، فتوكلتُ على الله عز وجل فهو حسبي.قال شقيق: "يا حاتم، وفقك الله تعالى…"

Terjemah :

Syeikh Syaqiq al-Balkhi bertanya kepada muridnya, Hatim al-Asham:

“Berapa lama kamu nyantri kepadaku?”Hatim menjawab: “Sudah sejak 33 tahun…”Syaqiq bertanya lagi: “Apa yang kamu pelajari dariku selama itu?”Hatim menjawab: “Ada delapan perkara…”Syaqiq berkata: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun. Aku habiskan umurku bersamamu selama itu, dan kamu tidak belajar kecuali delapan perkara?!”Hatim menjawab: “Guru, aku tidak belajar selainnya. Sungguh aku tidak bohong…”Syaqiq kemudian berkata lagi: “Coba jelaskan kepadaku apa yang sudah kamu pelajari…”Hatim menjawab:

“Pertama ; saya memperhatikan manusia, dan saya lihat masing-masing mereka menyukai kekasihnya hingga ke kuburannya. Tapi ketika dia sudah sampai di kuburnya, kekasihnya justru berpaling darinya… Maka saya kemudian menjadikan amal kebaikan sebagai kekasih saya, yang apabila saya meninggal dan masuk ke liang kubur, dia akan ikut bersama saya…Syaqiq berkata: “Pinter kamu Hatim. Sekarang apa yang kedua?”

Kedua, saya memperhatikan firman ALLAH Ta’ala:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الهَوَى فَإِنَّ الجَنَّةَ هِيَ المَأْوَى

(Dan adapun orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).) [Surat an-Nazi’at (79): 40-41]Maka saya ketahui bahwa firman ALLAH-lah yang benar. Karena itu saya meneguhkan diri saya dalam menolak hawa nafsu, hingga saya mampu menetapi ketaatan kepada ALLAH Ta’ala:

Ketiga, saya memperhatikan manusia, dan saya amati masing-masing memiliki sesuatu yang berharga, yang dia menjaganya agar barang tersebut tidak hilang. Kemudian saya membaca firman ALLAH Ta’ala: 

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللهِ بَاقٍ

(Apa yang ada di sisimu akan lenyap dan apa yang ada di sisi ALLAH kekal) [Surat an-Nahl (16): 96]Dari situ, apabila saya memiliki sesuatu yang berharga, maka segera saja saya serahkan kepada ALLAH, agar milikku terjaga bersamaNya tidak hilang.

Keempat, saya memperhatikan manusia dan saya ketahui masing-masing mereka membanggakan harta, kemuliaan leluhur, pangkat dan nasabnya. Kemudian saya membaca firman ALLAH Ta’ala: 
 
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ

(Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi ALLAH adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian) [Surat al-Hujurat (49): 13]Maka saya takwa, hingga menjadikan saya mulia di sisi ALLAH Ta’ala.

Kelima, saya memperhatikan manusia, dan (saya tahu) mereka mencela dan mencaci antara satu dengan yang lainnya. Saya tahu masalah utamanya di sini adalah sifat iri hati. Maka saya kemudian membaca firman ALLAH Ta’ala:

نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيْشَتَهُمْ فِي الحَيَاةِ

 الدُّنْيَا
(Kami telah menentukan pembagian nafkah hidup di antara mereka dalam kehidupan dunia) [Surat az-Zukhruf (43): 32]Maka saya kemudian menanggalkan sifat iri hati dan menghindar dari manusia, karena saya tahu bahwa pembagian rizki itu benar-benar dari ALLAH Ta’ala, yang menjadikanku tidak patut memusuhi dan iri kepada orang lain.

Keenam, saya memperhatikan manusia, yang mereka saling menganiaya dan memerangi antara satu dengan yang lainnya. Kemudian saya melihat firman ALLAH Ta’ala:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا

(Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagi kalian, maka anggaplah ia musuh (kalian).) [Surat Fatir (35): 6]Maka kemudian saya menghindar dari memusuhi orang lain, dan sebaliknya saya berusaha fokus dan penuh waspada dalam menghadapi permusuhan syaitan.

Ketujuh, saya memperhatikan manusia, maka saya lihat masing-masing menghinakan diri mereka sendiri dalam mencari rizki. Bahkan ada di antara mereka yang berani menerjang hal-hal yang tidak halal. Saya kemudian melihat kepada firman ALLAH Ta’ala: 
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللهِ رِزْقُهَا

(Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi ini melainkan ALLAH-lah yang menanggung rizkinya) [Surat Hud (11): 6]Saya kemudian menyadari bahwa saya adalah salah satu dari binatang yang ALLAH telah menanggung rizkinya. Maka saya kemudian menyibukkan dengan apa yang telah ALLAH anugerahkan kepadaku, dan sebaliknya saya meninggalkan apa-apa yang tidak dibagikan kepadaku.

Kedelapan, saya memperhatikan manusia, dan saya lihat masing-masing mereka menyerahkan diri kepada makhluk lain seumpamanya: sebagian karena sawah ladangnya, sebagian karena perniagaannya, sebagian karena hasil karya produksinya, dan sebagian lain karena kesehatan badannya. Maka saya melihat kepada firman ALLAH Ta’ala:  

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ 

(Dan barangsiapa bertawakkal kepada ALLAH niscaya Ia akan mencukupi (keperluan)-nya.) [Surat At-Thalaq (65): 3]Maka saya kemudian menyerahkan diri dan mempercayakan semuanya kepada ALLAH Ta’ala, karena Dia akan mencukupi segala keperluanku..

والله أعلم بالصواب...

Aku sedang diuji dengan diriku sendiri, bagaimana mungkin aku menambahkan jiwa lain pada diriku?"

Halaman 470
Bahaya Kedua: Kecerobohan dalam memenuhi hak-hak istri, tidak bersabar atas akhlak mereka, dan tidak tahan menanggung gangguan dari mereka. Kemampuan menanggung hal ini lebih mudah daripada kemampuan pertama (mencari rezeki halal), sedangkan memperbaiki akhlak pada wanita dan memenuhi hak-hak mereka lebih ringan daripada menuntut rezeki yang halal. Namun dalam hal ini juga terdapat bahaya besar, karena suami adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya.
Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah seseorang berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya." Diriwayatkan bahwa orang yang lari dari keluarganya berkedudukan seperti hamba sahaya yang kabur. Shalat dan puasanya tidak diterima sampai ia kembali kepada mereka. Barang siapa yang lalai dalam memenuhi hak-hak mereka padahal ia hadir, maka ia berkedudukan seperti hamba yang kabur. Allah Ta'ala berfirman: "Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka" (QS. At-Tahrim: 6). KITA diperintahkan untuk menjaga mereka dari api neraka sebagaimana kita menjaga diri kita sendiri. Seseorang terkadang tidak mampu menanggung dirinya sendiri, maka jika ia menikah, bertambahlah beban hak atas dirinya dan bertambah pula jiwa lain (istrinya). Padahal nafsu itu menyuruh kepada keburukan; jika hak-hak bertambah padanya, sering kali urusan menjadi semakin buruk. Oleh karena itu sebagian Salaf meminta maaf karena tidak menikah dan berkata: "Aku sedang diuji dengan diriku sendiri, bagaimana mungkin aku menambahkan jiwa lain pada diriku?"

Sosok penting dalam kehidupanmu bakanlah sosok yang dapat kamu rasakan keberadaannya. Namun sosok penting dalam hidupmu adalah sosok yang kamu dapat rasakan kepergiannya

Pepatah mengatakan:

الشخص المهم في حياتك, ليس الشخص الذي تشعر بوجوده،

و لكنه الشخص الذي تشعر بغيابه.

"Sosok penting dalam kehidupanmu bakanlah sosok yang dapat kamu rasakan keberadaannya. Namun sosok penting dalam hidupmu adalah sosok yang kamu dapat rasakan kepergiannya"

4116 / x50crmov15 bahan bilah modern yg sering di gunakan oleh merk merk pisau dari swiss dan jerman

Nivella - chromolit buatan Solingen Jerman, yang dibuat menggunakan baja 4116 (sering ditulis sebagai X50CrMoV15 atau DIN 1.4116). Tulisan 4 "Eisgehärtet" pada bilah berarti baja tersebut telah melalui proses pengerasan dengan teknik pembekuan 2 ekstrem (cryogenic tempering) untuk meningkatkan performanya.

Edi

Nihayatul 'Uqul fi Dirayatil Ushul karya Imam Fakhruddin Ar-Razi:


Nihayatul 'Uqul fi Dirayatil Ushul karya Imam Fakhruddin Ar-Razi:

[Sampul Kitab]

Nihayatul 'Uqul fi Dirayatil Ushul Karya: Al-Imam Fakhruddin Muhammad bin 'Umar Ar-Razi (543 - 606 H) Tahqiq: Dr. Sa'id 'Abdul Latif Foudeh Jilid Empat - Dar Al-Dzakha'ir

[Halaman 272 (Sebelah Kanan)]

Adapun mengenai konsekuensi (At-Thard): Para sahabat (ulama) kami berselisih pendapat mengenai banyak sifat Allah Ta'ala. Dan tidak diragukan lagi bahwa kebenaran pada setiap masalah tersebut hanya satu. Orang yang menyelisihi kebenaran tersebut berarti tidak mengetahui (jaahil) sifat Allah Ta'ala, sehingga mewajibkan kita untuk mengkafirkan ulama kami.

Dan kami katakan: Sesungguhnya ulama kami berselisih pendapat tentang banyak sifat Allah Ta'ala; karena Abu Al-Hasan (Al-Asy'ari) rahimahullah menetapkan Al-Baqā’ (kekekalan) sebagai sifat tambahan, sedangkan Al-Qadhi rahimahullah menafikannya.

Juga, Abu Al-Hasan dan Al-Qadhi serta banyak ulama menetapkan bagi Allah Ta'ala:

  • Persepsi (idrāk) yang berkaitan dengan hal-hal yang dicium,
  • Persepsi kedua yang berkaitan dengan hal-hal yang dirasa/dikecap,
  • Dan persepsi ketiga yang berkaitan dengan hal-hal yang disentuh. Sementara Al-Ustadz Abu Ishaq cenderung menafikannya.

Dan 'Abdullah bin Sa'id menetapkan sifat Al-Qidam (kuno/tanpa permulaan) […], sedangkan mayoritas ulama menafikannya.

'Abdullah bin Sa'id juga berpendapat bahwa […] jenis ini memiliki banyak sifat lain, sementara yang lain berpendapat bahwa itu adalah bagian dari sifat-sifat perbuatan.

[Halaman 273 (Sebelah Kiri)]

Prinsip Kesembilan Belas: Mengenai Nama-Nama dan Hukum-Hukum

Imam Al-Haramain meriwayatkan dari Abu Sahl Ash-Shu'luki — salah seorang ulama kami — bahwa ia menetapkan bagi Allah Ta'ala ilmu-ilmu yang tidak ada batas akhirnya, sedangkan mayoritas ulama lain menafikannya.

Abu Al-Qasim Al-Isfarrayini meriwayatkan dari banyak ulama terdahulu kami bahwa mereka menetapkan lima kalimat bagi Allah Ta'ala: perintah, larangan, berita, pertanyaan, dan panggilan. Sementara mayoritas ulama berpendapat bahwa semua itu adalah satu Kalam saja.

Al-Ustadz Abu Ishaq mengklaim bahwa Allah Ta'ala tidak menempati suatu tempat (hayyiz) bukan karena suatu alasan/makna tertentu, sebagaimana substansi (al-jauhar) berada di suatu tempat karena suatu alasan. Para ulama sepakat menolak hal tersebut.

Para ulama juga berselisih pendapat mengenai sifat-sifat khabariyyah seperti Tangan dan Wajah. Abu Al-Hasan berpendapat bahwa itu adalah sifat-sifat yang berdiri pada Dzat Allah Ta'ala selain dari sifat-sifat yang delapan, sedangkan Al-Qadhi cenderung menafikannya.

Abu Al-Hasan juga mengklaim bahwa Al-Istiwa' adalah sifat yang berdiri pada Dzat Allah Ta'ala, sedangkan yang lainnya menafikannya.

Penolak konsep Al-Ahwal (keadaan) dari kalangan ulama kami sepakat bahwa keadaan Allah Ta'ala Maha Mengetahui ('Aalimiyyah) adalah ilmu-Nya itu sendiri, Maha Kuasa (Qadiriyyah) adalah kekuasaan-Nya itu sendiri, dan Maha Menghendaki (Muridiyyah) adalah kehendak-Nya itu sendiri. Sedangkan mereka yang menetapkan Al-Ahwal sepakat bahwa keadaan Allah Maha Mengetahui disebabkan (ma'lullah) oleh ilmu-Nya, dan keadaan-Nya Maha Kuasa disebabkan oleh kekuasaan-Nya.

Maka atas dasar ini, mereka yang menetapkan Al-Ahwal telah menetapkan bagi-Nya tujuh keadaan beserta tujuh sifat.

Klasifikasi Tauhid dalam Pandangan Al-Imam Abu Hanifah dan Al-Qodhi Abu Yusuf

Klasifikasi Tauhid dalam Pandangan Al-Imam Abu Hanifah dan Al-Qodhi Abu Yusuf

Sering kali kita mendengar klaim bahwa pembagian tauhid menjadi tiga merupakan bidah atau buatan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah. Namun, benarkah demikian?

Faktanya, jauh sebelum masa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, para ulama besar seperti Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah dan Qadhi Abu Yusuf rahimahullah telah mengisyaratkan pembagian tauhid tersebut dalam karya-karya mereka.

Syaikh Abu Bakr Zakariya hafidzahullahu ta'ala menyebutkan:

Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata dalam kitabnya, al-Fiqh al-Absath,

Allah itu dipanjatkan doa ke arah atas, bukan ke bawah; sebab arah bawah sama sekali bukan bagian dari sifat Rububiyah maupun sifat Uluhiyah.

Pernyataan beliau, Dia diseru dari arah atas, bukan dari bawah, mengandung penetapan sifat ketinggian ('Uluw) bagi Allah, dan ini termasuk dalam cakupan Tauhid al-Asma' wa ash-Shifat.

Adapun perkataan beliau, bagian dari sifat ketuhanan (Rububiyah), merupakan penegasan atas Tauhid ar-Rububiyah. Sedangkan ucapan beliau, dan Uluhiyah, adalah penegasan terhadap Tauhid al-Uluhiyah.

Sementara itu, Al-Qodhi Abu Yusuf rahimahullah berkata:

Tauhid itu tidak bisa dicapai dengan analogi semata (qiyas). Tidakkah engkau mendengar firman Allah Azza wa Jalla dalam ayat-ayat saat Dia menyifati diri-Nya sebagai Yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa, dan Maha Perkasa: 'Andai kebenaran itu mengikuti keinginan mereka, niscaya binasalah langit dan bumi serta siapa pun yang ada di dalamnya' (QS. Al-Mu'minun: 71). Maka, pahamilah penjelasan tersebut.

Ini adalah sebuah pernyataan yang sangat berharga dari Abu Yusuf dalam bab tauhid yang menjelaskan secara gamblang mengenai Tauhid ar-Rububiyah, Tauhid al-Uluhiyah, serta Tauhid al-Asma' wa ash-Sifat

📚 Asy-Syirk fi al-Qadim wa al-Hadits
Ibn nasrullah