Kamis, 28 Mei 2026

Maliki Fiqh - Takbir Berjamaah Setelah Shalat Fardhu

Maliki Fiqh - Takbir Berjamaah Setelah Shalat Fardhu

📌 *التكبير الجماعي دبر الصلوات عند علماء المالكية*:

*قال الحطاب : (وأمَّا ما يَفعلُه بعضُ الناس اليوم أنه إذا سلَّم الإمامُ من صلاته كبَّر المؤذِّنون على صوتٍ واحدٍ على ما يُعلم مِن زعقاتهم، ويُطوِّلون فيه، والناس يستمعونَ إليهم ولا يُكبِّرون في الغالِب، وإنْ كبَّر أحد منهم فهو يَمشي على أصواتهم، وذلك كله من البِدع، وفيه إخرامُ حُرمةِ المسجدِ، والتشويش على المصلِّين والتالين والذاكرين*)
📚 ((مواهب الجليل)) (2/582).

 *وقال العدويُّ : (ويُكبِّر كلُّ واحد وحدَه في الطريق، وفي المصلَّى، ولا يُكبِّرون جماعةً؛ لأنه بدعة)*
📚((حاشية العدوي) (1/497). 

*وقال النفراويُّ : (ولا يُكبِّرون جماعة؛ لأنَّه بدعة)*
📚 ((الفواكه الدواني)) (2/649).

محمد أبوري

​1. Imam Al-Hattab dalam Mawahib al-Jalil (2/582)

​Adapun tradisi sebagian orang zaman sekarang, yaitu ketika imam selesai salam, para muazin langsung bertakbir serentak dengan suara satu nada yang tinggi dan panjang, sementara jemaah lain biasanya hanya mendengarkan tanpa ikut bertakbir (kalaupun ada yang ikut bertakbir, mereka hanya mengikuti suara para muazin), semua itu termasuk perbuatan bidah. Selain itu, praktik tersebut menodai kehormatan masjid serta mengganggu orang lain yang sedang shalat, membaca Al-Qur'an, ataupun berzikir.

​2. Imam Al-Adawi dalam Hasyiyah al-Adawi (1/497)

​Hendaknya setiap orang bertakbir sendiri-sendiri, baik saat di perjalanan maupun ketika sudah berada di tempat shalat (lapangan/masjid). Mereka tidak boleh bertakbir secara berjemaah (satu komando) karena hal itu bidah.

​3. Imam An-Nafrawi dalam Al-Fawakih ad-Dawani (2/649)

​Dan mereka tidak bertakbir bersama-sama dalam satu suara (berjemaah), karena praktik tersebut adalah bidah.

Muhammad Aboury
Ibn nashrullah