Selasa, 26 Mei 2026

Fatwa | Apakah Boleh Menggabungkan Kurban dan Akikah

#فتاوى| هل يجوز الجمع بين الأضحية والعقيقة؟

= الإجــابــة

بسم الله الرحمن الرحيم.. السلام عليكم ورحمة الله وبركاته، وبعد:

فهذه المسألة تندرج تحت باب التشريك في النية؛ حيث ذهب بعض أهل العلم إلى جواز أن تذبح نسيكة واحدة بنية الأضحية والعقيقة معاً؛ مثلما يجوز غسل واحد عن الجنابة والجمعة، وركعتان عن تحية المسجد والسنة الراتبة، وهذا قول الحنفية وإحدى الروايتين عن الإمام أحمد.

قال ابن القيم -رحمه الله- في "تحفة المودود" (الفصل الثامن عشر في حكم اجتماع العقيقة والأضحية): «قال الخلال: باب ما روي أن الأضحية تجزئ عن العقيقة: أخبرنا عبد الملك الميموني أنه قال لأبي عبد الله: يجوز أن يضحى عن الصبي مكان العقيقة؟ قال: لا أدري. ثم قال: غير واحد يقول به. قلت: من التابعين؟ قال: نعم. وأخبرني عبد الملك في موضع آخر قال: ذكر أبو عبد الله أن بعضهم قال: فإن ضحى أجزأ عن العقيقة. وأخبرنا عصمة بن عصام، حدثنا حنبل أن أبا عبد الله قال: أرجو أن تجزئ الأضحية عن العقيقة إن شاء الله تعالى لمن لم يعق. وأخبرني عصمة بن عصام في موضع آخر قال: حدثنا حنبل أن أبا عبد الله قال: فإن ضحى عنه أجزأت عنه الضحية من العقوق. قال: ورأيت أبا عبد الله اشترى أضحية ذبحها عنه وعن أهله، وكان ابنه عبد الله صغيراً فذبحها، أراه أراد بذلك العقيقة والأضحية وقسم اللحم وأكل منها». اهـ.

وذهب جمهور العلماء إلى عدم جواز التشريك؛ لأن كلاً من العبادتين مقصود لذاته؛ كدم التمتع ودم الفدية، ولكل منهما سبب؛ إذ الأضحية فداء عن النفس، والعقيقة فداء عن المولود، وعليه فإن الاحتياط يقضي بالفصل بينهما وأن يذبح عن كل منهما شاة.

والله تعالى أعلم.

#فتوى_بلا_قيود
#تبليغ_بلا_عوائق


Fatwa | Apakah Boleh Menggabungkan Kurban dan Akikah
Jawaban:
Bismillahirrahmanirrahim.. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Masalah ini termasuk dalam pembahasan "Tasyrik fin Niyah" (menggabungkan dua niat dalam satu ibadah). Sebagian ahli ilmu berpendapat bahwa boleh menyembelih satu hewan dengan niat kurban sekaligus akikah. Hal ini disamakan dengan bolehnya satu kali mandi untuk jinabat sekaligus mandi Jumat, atau salat dua rakaat untuk tahiyyatul masjid sekaligus salat sunah rawatib. Ini merupakan pendapat mazhab Hanafi dan salah satu dari dua riwayat Imam Ahmad.
Ibnu al-Qayyim rahimahullah dalam kitabnya "Tuhfatul Maudud" (Bab ke-18 tentang Hukum Berkumpulnya Akikah dan Kurban) menjelaskan:
"Al-Khallal berkata: 'Bab tentang riwayat yang menyatakan bahwa kurban dapat mencukupi (menggantikan) akikah.' Abdul Malik al-Maimuni mengabarkan kepada kami bahwa ia bertanya kepada Abu Abdullah (Imam Ahmad): 'Apakah boleh berkurban untuk anak kecil sebagai pengganti akikah?' Imam Ahmad menjawab: 'Aku tidak tahu pasti.' Kemudian beliau menambahkan: 'Tetapi ada lebih dari satu orang yang berpendapat demikian.' Aku bertanya: 'Apakah mereka dari kalangan tabiin?' Beliau menjawab: 'Ya.'
Abdul Malik juga mengabarkan kepadaku di tempat lain, ia berkata: 'Abu Abdullah menyebutkan bahwa sebagian ulama berkata: Jika seseorang berkurban, maka itu sudah mencukupi untuk akikah.'
Ismah bin Isham mengabarkan kepada kami, Hanbal menceritakan kepada kami bahwa Abu Abdullah berkata: 'Aku berharap kurban itu dapat mencukupi untuk akikah, insya Allah, bagi orang yang belum diakikahi.'
Hanbal juga menceritakan dalam riwayat lain bahwa Abu Abdullah berkata: 'Jika ia berkurban untuknya, maka sembelihan kurban itu telah mencukupi dari kewajiban akikah.' Hanbal berkata: 'Dan aku melihat Abu Abdullah membeli seekor hewan kurban lalu menyembelihnya untuk dirinya dan keluarganya. Saat itu putranya, Abdullah, masih kecil, lalu beliau menyembelihnya. Aku berpandangan bahwa beliau menginginkan sembelihan itu sebagai akikah sekaligus kurban, kemudian beliau membagikan dagingnya dan ikut memakannya.(Selesai kutipan).

Di sisi lain, mayoritas ulama (Jumhur Ulama) berpendapat bahwa tidak boleh menggabungkan keduanya. Alasan mereka adalah karena masing-masing dari kedua ibadah tersebut memiliki tujuan tersendiri secara mandiri (maqshudah lidzatiha), seperti halnya denda haji tamattu' (dam tamattu) dan denda pelanggaran ihram (dam fidyah). Selain itu, masing-masing memiliki sebab yang berbeda; kurban adalah tebusan untuk diri sendiri, sedangkan akikah adalah tebusan untuk anak yang baru lahir.
Kesimpulan:
Atas dasar prinsip kehati-hatian (ikhtiyat), sebaiknya kedua ibadah tersebut dipisahkan, di mana masing-masing diniatkan dengan menyembelih satu ekor kambing secara terpisah.

Wallahu ta'ala a'lam (Dan Allah Yang Maha Mengetahui).