AGAMA ADALAH NASEHATI
عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيْم الدَّارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ . قُلْنَا لِمَنْ ؟ قَالَ : لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ . [رواه مسلم
Artinya :
Dari Abi Ruqoyah Tamim Ad Daari rodhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Agama adalah nasehat (sampai tiga kali), kami berkata : Kepada siapa ? beliau bersabda : kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya dan kepada pemimpan kaum muslimin dan rakyatnnya (HR. Muslim : 55).
Riwayat Hadits
Hadits ini shohih diriwayatkan oleh imam Muslim rohimahullah di Kitab Shohih Muslim hadits no 55, imam Ahmad di Musnadnya hadits no 16493, imam Syafi’i di Musnadnya hadits no 233, Ibnu Abi ‘Ashim di Assunnah no 1089 dan para aimmah hadits yang lainnya.
Shohabat Periwayat Hadits
Tamim Bin Uus Al Falisthiny, kunyanya Abu Ruqoyyah dan Ruqoyyah adalah nama anak wanitanya, Tamim rodhiyallahu ‘anhu tidak melahirkan anak kecuali Ruqoyyah, yang karena itu dia berkunyah Abu Ruqoyyah. Dan kata Ad Dary adalah nisbah kepada kakeknya atau nama tempat yang dimana dia beribadah didalamnya. Tamim rodhiyallahu ‘anhu dahulunya adalah seorang nashroni yang masuk Islam setelah perang Tabuk, dia masuk Islam bersama saudaranya pada tahun kesembilan hijriah dan kemudian dia tinggal di Madinah.
Kemulyaan dan Kedudukan Hadits
Imam Ahmad rohimahullahu berkata bahwa hadits ini sangat mulya, diatasnya berdiri agama Islam.
Abi Dawud berkata hadits ini adalah salah satu dari lima hadits yang didalamnya mencakup hukum Fiqh, pertama hadits; amal itu sesuai dengan niatnya, kedua hadits; halal itu jelas dan harom itu jelas, ketiga hadits; jangan membahayakan dan jangan berbuat bahaya, keempat adalah hadits ini; agama adalah nasehat, kelima hadits; apa saja yang saya larang bagi kalian maka jauhilah dia.
Penjelasan Hadits :
Maksud Nasehat Untuk Allah
Menurut imam Qurthuby di tafsirnya adalah bersihnya aqidah dalam mentauhidkan Allah, ikhlasnya niat didalam beribadah kepada Allah karena kunci diterimanya ibadah itu adalah ikhlas dan sesuai sunnah, tidak mensekutukan Allah pada sesuatu apapun (tidak percaya bahwa jimat, pohon, kuburan, batu, bisa mendatangkan manfaat atau bahaya, tapi hanya Allah saja yang bisa mendatangkan manfaat atau bahaya, dan Allah tidak membutuhkan perantara tersebut), juga mentaati seluruh perintah dan menjauhi segala larangan Allah.
Sedangkan sebenarnya nasehat untuk Allah itu kembali kepada hamba menjadi nasehat untuk dirinya sendiri, karena sesungguhnya Allah lebih kaya dari nasehat siapapun juga.
Fudhoil Bin ‘Iyadh di kitab Jami’ul ‘Ulumi wal Hikam juga berkata bahwa nasehat yang diberikan karena rasa cinta jauh lebih baik dari nasehat yang diberikan karena rsa takut. Dengan rasa cinta mahabbah seseorang akan memberikan nasehat ketika ada maupun tidak ada dengan penuh keiklasan, sedangkan kalau memberikan nasehat karena hanya rasa takut maka hanya akan memberikan nasehat ketika diminta saja. Apakah kita lebih suka orang yang mencintai kita atau yang takut kepada kita??
Maksud Nasehat Untuk Kitab Allah
Imam Ath Thohawy rohimahullah berkata bahwa Al Qur’an adalah kalamullah (perkataan Allah) yang diturunkan sebagai wahyu kepada nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wa sallam, dia bukanlah makhluq sebagaimana yang diyakini oleh sebagian kecil manusia, barang siapa yang menyakini Al Quran adalah makhluk bukan kalamullah maka telah kufur.
Sedangkan nasehat untuk Al Quran adalah dengan membacanya, menghafalnya, mempelajarinya, dan mengajarkannya. Rosulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Bacalah Al Quran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat nanti sebagai syafa’at bagi pembacanya “(HR. Imam Muslim no 804 dari Abi Amamah Al Bahily).
Rosulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda tentang keutamaan belajar Al Quran dan mengajarkannya: “ Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya “(HR. Bukhory no 5027 dari Utsman Bin Affan).
Salah satu yang penting dalam nasehat untuk Alquran dalah mempelajari tahsinnya, sebagaimana di hadits rosulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Bukan bagian dari kami siapa yang belum memperbagus bacaan Al Qurannya (HR. Bukhory no 7527 & Muslim no 792 dari hadits Abi Huroiroh).
Selain itu juga yang sangat penting dalam nasehat untuk Al Quran adalah attafaquh (mendalami mempelajarinya) wal ‘amalu bihi( dan mengamalkannya), sebagaimana Allah memperingatkan orang yang membacakan dan mengajak kepada Al Quran tapi lupa untuk mengamalkannya bagi dirinya sendiri; “ Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? “ (QS. Ash Shaf : 2).
Maksud Nasehat Untuk Rosul
Imam Qurthuby berkata dalam tafsirnya bahwa nasehat untuk rosulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam adalah percaya akan kenabiannya, mentaati perintah dan larangannya, mentaati orang yang mentaatinya, memusuhi orang yang memusuhinya, mencintai beliau melebihi diri sendiri, mencintai ahlul baitnya, memulyakan beliau, memuliakan sunnah beliau dengan selalu berusaha mempelajarinya, mengamalkannya, dan mendakwahkannya, serta berakhlak mulya seperti akhlak beliau.
Ibnu Rojab juga berkata dikitab Jami’ul ‘Ulumi wal Hikam bahwa diantara nasehat untuk rosulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam itu adalah selalu berusaha mencontoh akhlak beliau dan cara hidup beliau baik dari segi pakaian dan lain sebagainya.
Maksud Nasehat Untuk Pemimpin Muslimin
A-immah adalah jama’ dari imam, dia adalah orang yang bertangung jawab dalam segala lini kehidupan kaum muslimin. A-immah disini sebagaimana pendapat imam Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat:
“ Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu ( QS. An Nisaa : 59), adalah para ulama dan juga para umaro pemimpin kaum muslimin.
Nasehat untuk pemimpin dihadits ini disyaratkan dia seorang muslim. Nasehat untuk pemimpin kaum muslimin ini memiliki kedudukan yang sangat besar bagi ahlis sunnah, rosulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah meridhoi bagi kalian dalam tiga perkara; meridhoi bagi kalian untuk beribadah kepadan-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan untuk berpegang dengan tali (hukum) Allah semuanya dan tidak berpecah belah, dan untuk bisa saling memberikan nasehat untuk pemimpin kalian (HR. Muslim no 1715, dari Abi Huroiroh). Sebagaimana ini juga sesuai hadits yang disampaikan rosulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam ketika di Mina: “ Tiga yang membuat hati seorang muslim menjadi tenang; ikhlas dalam beribadah kepada Allah, saling memberikan nasehat untuk wulatul umur (para pemimpin), dan selalu bersama jama’ah muslimin (HR. Imam Ahmad no 12937 dari Anas Bin malik, hadits ini dishohihkan oleh syaikh Al Bany di Shohihil Jaami’).
Nasehat untuk para pemimpin kaum muslimin ini bisa dilakukan dengan cara mentaati mereka dalam kebenaran dan membantu mereka didalamnya , sebagaimana disebuah hadits disebutkan bahwa tidak ada ketaatan bagi seorang hamba pada maksiat kepada Allah, jadi kalau para pemimpin kita mengajak kita kepada sesuatu yang dimurkai Allah maka kita harus menolaknya. Nasehat disini bisa juga dilakukan dengan mendoakan kebaikan bagi mereka, supaya mereka bisa menjalankan amanah mereka dengan baik. Berapa banyak saat ini kita dapatkan orang yang dengan mudahnya mencela para pemimpin dari kalangan Hukkam (penguasa) dan para ulama, padahal mereka tidak pernah tahu ilmu dan kondisi yang sebenarnya, belum pernah menasehati langsung dengan cara yang bijak, bahkan mereka tidak lebih baik dari para pemimpin atau ulama yang mereka hina. Walaupun kita tidak menutup mata bahwa banyak kzholiman yang dikakukan para pemimpin , maka selayaknyalah orang yang memiliki kemampuan untuk memberikan nasehat menyampaikan nasehatnya kepada pemimpn yang zholim dengan cara yang bijak, karena sudah sifat setiap orang suka diberikan nasehat dengan cara yang baik, karena juga tidak mungkin kezholiman akan bisa diselesaikan dengan kezholiman juga. Sebagaimana ditarikh dijelaskan ketika imam ahlis sunnah imam Ahmad Bin Hanbal terfitnah dengan yang mengatakan bahwa Al Quran adalah makhluk bukan kalamullah, imam Ahmad tetap berusaha bertahan sekuat tenaga dengan pendapat yang benar bahwa Alquran bukan makhluk tapi adalah perkataan atau kalamullah. Tapi Imam Ahmad yang memiliki pengikut diseluruh dunia islam saat itu tidak memilih untuk keluar dari kholifah yang ada, yang seandainya jika beliau mau keluar sungguh kekuatan yang sangat besar beliau miliki. Tapi kenapa imam Ahmad memilih tetap tidak memberontak kepada pemimpin muslim saat itu?? Karena beliau tahu kalau keluarnya beliau dari pemimpin yang ada hanya membawa bencana besar, pertumpahan darah diantara kaum muslimin, dan beliau tidak menghendaki hal itu terjadi. Begitulah sikap para ulama yang selalu tegas menolak kebathilan dan istiqomah pada kebenaran, tapi tetap memilih untuk tidak keluar dari para pemimpin, karena sejarah mencatat bahwa yang suka keluar dari pemimpin adalah mereka yang juga haus akan kekuasaan atau pengikut hawa nafsu. Semoga kita bisa menaati pemimpin dalam kebenaran bukan dalam kemaksiatan, selalu berusaha menasehati mereka dengan bijak, dan berlepas diri dari kerusakan yang dibuat para pemimpin yang zholim. Inilah aqidah ahlis sunnah wal jama’ah
Maksud Nasehat Untuk Kaum Muslimin
Selayaknya seorang muslim untuk bisa memberikan nasehat untuk saudaranya sesama muslim, dengan menasehati untuk kembali kepada aqidah yang benar jauh dari segala macam kesyirikan, khurofat dan bid’ah, juga menasehati bagaimana tata cara ibadah yang benar, begitu juga dalam mu’amalah, dan menjauhkan mereka dari apa yang diharamkan dan akan dapat murka Allah. Dikisahkan dikitab Shuwar min Hayati At Tabi’in bahwa ada seorang yang datang kepada imam Ibnu Sirin dengan berkata dusta kalau dia memiliki uang dua dirham yang dititipkan dengan imam Ibnu Sirin dan dia mau mengambilnya sekarang, tapi imam Ibnu Sirin tidak mau memberikan uang tersebut karena beliau tahu orang tersebut hanya berdusta untuk meminta uang kepada beliau, kemudian orang tersebut berkata kepada imam Ibnu Sirin; apakah kamu berani bersumpah? Dan dia berfikir tidak mungkin seorang imam yang sangat terkenal seperti Ibnu Sirin akan mau bersumpah hanya karena uang dua dirham. Tapi ternyata diluar dugaan orang tersebut imam Ibnu Sirin berani bersumpah demi uang dua dirham. Maka manausia yang menyaksikan kejadian tersebut berkata: yaa Aba Bakar (kunyah imam Ibnu Sirin), apakah kamu mau bersumpah hanya karena uang dua dirham, kenapa tidak kamu beri saja orang yang telah menuduh kamu tadi, sedangkan kemarin kami melihat engkau meninggalkan empat puluh ribu dirham uang hak kamu pada seseorang? apa kata imam Ibnu Sirin; karena saya tidak mau orang tadi makan dari uang yang haram walau cuman dua dirham, sedangkan saya tahu pasti itu adalah haram. Lihatlah akhlaq dari imam Ibnu Sirin yang selalu berusaha menasehati dan menjaga saudaranya yang lain untuk tidak terjerumus pada hal yang diharamkan Allah. Bagaimana dengan kita?? Apakah kita pernah memberikan nasehat dengan bijak kepada saudara kita yang salah..…memberikan nasehat kepada saudara kita ketika wudhu tidak membasuh kedua tangannya sampai siku, padahal jelas di Surah Al Maidah ayat yang keenam Allah telah memerintahkahkan kita ketika berwudhu untuk membasuh kedua tangan sampai siku bagi yang tidak punya halangan, dan ini adalah rukunnya wudhu, kalau rukunnya wudhu tidak terpenuhi berarti wudhunya tidak syah, kalau wudhunya tidak syah maka bagaimana dengan sholatnya….
Aboe Mujahed A. Abdillah
At My Sweet Homes