Apakah Benar Hukum Isbal adalah Makruh Secara Ijma' ?
Tidak benar, karena dalam hal ini para ulama berbeda pendapat dimana jumhur ulama tidak sampai mengharamkannya (hanya makruh) kecuali jika disertai kesombongan; sementara sebagian ulama lain menyatakan keharamannya secara mutlak.
Yang menyatakan keharaman secara mutlak diantaranya adalah Imam Ahmad dalam satu riwayatnya sebagaimana dikemukakan oleh Imam Ibnu Muflih rahimahullah :
وَقَالَ أَحْمَدُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَيْضًا { مَا أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ فِي النَّارِ } لَا يَجُرُّ شَيْئًا مِنْ ثِيَابِهِ وَظَاهِرُ هَذَا التَّحْرِيمُ
“Ahmad radhiyallaahu ‘anhu juga berkata : ‘Apa saja yang berada di bawah dua mata kaki tempatnya di neraka. Tidak boleh menyeret sesuatu dari pakaiannya’. Zhahir perkataan ini adalah pengharaman.”
(Adabusy-Syar’iyyah, 3/492)
Imam Ibnul-‘Arabiy Al-Maliki rahimahullah berkata :
لَا يَجُوز لِلرَّجُلِ أَنْ يُجَاوِز بِثَوْبِهِ كَعْبه ، وَيَقُول لَا أَجُرّهُ خُيَلَاء ، لِأَنَّ النَّهْي قَدْ تَنَاوَلَهُ لَفْظًا ، وَلَا يَجُوز لِمَنْ تَنَاوَلَهُ اللَّفْظ حُكْمًا أَنْ يَقُول لَا أَمْتَثِلهُ لِأَنَّ تِلْكَ الْعِلَّة لَيْسَتْ فِيَّ ، فَإِنَّهَا دَعْوَى غَيْر مُسَلَّمَة ، بَلْ إِطَالَته ذَيْله دَالَّة عَلَى تَكَبُّره
“Tidak diperbolehkan bagi laki-laki untuk memanjangkan pakaiannya melebihi mata kaki, meskipun ia mengatakan : ‘Aku tidak menyeretnya karena sombong’; karena larangan hadits secara lafazh menyangkut pula bagi yang tidak sombong. Maka tidak boleh bagi yang telah tercakup dalam larangan kemudian berkata : ‘Aku tidak mau melaksanakannya karena sebab larangan itu (yaitu : kesombongan) tidak ada pada diriku’. Ucapan semacam ini tidaklah bisa diterima. Bahkan memanjangkan pakaian itu sendiri menunjukkan kesombongannya”
(Fathul-Bari li-Ibni Hajar, 10/264)
Al-Hafizh Adz-Dzahabi Asy-Syafi'i rahimahullah berkata :
فكل من اتخذ فرجية تكاد أن تمس الأرض، أو جبة، أو سراويل خفاجية، فهو داخل في الوعيد المذكور
“Maka semua orang yang mengenakan baju farjiyyah, jubah, atau celana khafaajiyyah yang hampir menyentuh tanah, maka masuk dalam ancaman hadits tersebut (yaitu hadits pengharaman isbal)”
(Al-Kabaair, hal. 112)
Baca juga statement Adz-Dzahabi dalam As-Siyar, 3/234.
Syaikh Syamsul-Haq Al-‘Azhiim ‘Abadiy rahimahullah saat mengomentari hadits :
إزرة المسلم إلى نصف الساق ولا حرج أو لا جناح فيما بينه وبين الكعبين ما كان أسفل من الكعبين فهو في النار من جر إزاره بطرا لم ينظر الله إليه
“Keadaan sarung seorang muslim adalah sampai batas pertengahan betisnya. Tidak apa-apa atau tidak berdosa bila panjang sarung tersebut antara setengah betis dan dua mata kaki. Apa-apa yang berada di bawah kedua mata kaki, maka bagiannya di neraka. Barangsiapa yang menarik kain sarungnya dengan sombong, maka Allah tidak akan melihatnya (di hari kiamat)”[1]
dengan perkataannya :
وَالْحَدِيث فِيهِ دَلَالَة عَلَى أَنَّ الْمُسْتَحَبّ أَنْ يَكُون إِزَار الْمُسْلِم إِلَى نِصْف السَّاق وَالْجَائِز بِلَا كَرَاهَة مَا تَحْته إِلَى الْكَعْبَيْنِ ، وَمَا كَانَ أَسْفَل مِنْ الْكَعْبَيْنِ فَهُوَ حَرَام وَمَمْنُوع
"Hadits ini menunjukkan atas disukainya keadaan kain sarung seorang muslim sampai pada pertengahan betisnya. Dan diperbolehkan tanpa dibenci sampai dengan dua mata kaki. Dan apa-apa di bawah dua mata kaki, maka hal itu haram lagi terlarang.”
('Aunul-Ma’buud, 11/103)
Sahabat 'Ubadah bin Qursh radhiallahu'anhu berkata :
"Kalian melakukan perbuatan yang di mata kalian lebih tipis dari rambut, padahal dahulu kami menilainya di zaman Nabi sebagai dosa besar yang membinasakan".
Tatkala ucapan ini disampaikan kepada Muhammad bin Sirin, beliau membenarkannya seraya mengatakan :
صدق. وأرى جر الإزار منه
"Benar. Dan saya berpendapat bahwa menjulurkan sarung di bawah mata kaki (isbal) termasuk diantaranya."
(Diriwayatkan 'Abdullah bin Ahmad dalam Zawaid, 3/470; Al-Bukhari dalam Tarikh Kabir, 6/94; Ibnu Abi Ashim dalam Al-Ahad wal Matsani, 2/190; Adh Dhiya' dalam Al-Mukhtarat, 3/470; dan Al Hakim dalam Al Mustadrak, 4/261)
Allahu a'lam
[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 4093; dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Misykatul-Mashaabih no. 4331
FP pengetahuan muslim