Rabu, 31 Juli 2019

Agar doa terkabul

AGAR DOA TERKABUL

Allah berfirman dalam hadis Qudsi, saat menerangkan pahala memperbanyak ibadah sunah :

وَلاَ يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

Dan tidaklah seorang hamba Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan melakukan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya....

Kemudian Allah mengatakan,

وَلَئِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِن اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيْذَنَُّّه
jika dia meminta kepada-Ku niscaya Aku akan memberikannya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya Aku akan melindunginya”.
(HR. Bukhori)

______
Kajian bedah buku "As-Sunanul Yaumiyyah" (Meneladani Nabi shallallahu'alaihi wasallam Dalam Sehari), di Masjid Manunggal Bantul Yogyakarta.

Ustadz Ahmad Anshori LC alumni universitas Islam madina  dan pengajar ponpes hamalatul Qur'an

Wajib bagi yg jahil untuk tidak berbicara dan diam dan takut kepada Allah

Berkata Al-Allamah Saleh Al-Fauzan Hafizhahullah:

على الجاهل ألا يتكلم، وأن يسكت ويخاف الله ولا يتكلم بغير علم.  فلا يجوز للجاهل أن يتكلم في مسائل العلم ولا سيما المسائل الكبار. [الأجوبة المفيدة - س74]

“Wajib bagi orang yang jahil untuk tidak berbicara, dan hendaknya diam dan takut kepada Allah dan jangan berbicara tanpa ilmu. Tidak boleh bagi orang yang jahil berbicara dalam permasalahan ilmiah, terlebih lagi dalam perkara-perkara yang besar.” [Al-Ajwibatul Mufidah: 74].

Kesyirikan sulit di kenali selama tidak belajar tauhid

KESYIRIKAN SULIT DIKENALI SELAMA TIDAK BELAJAR TAUHID

Allah Ta’ala berfirman,
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (Al Baqarah [2]: 22)
Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma –yang sangat luas dan mendalam ilmunya- menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan,”Yang dimaksud membuat sekutu bagi Allah (dalam ayat di atas, pen) adalah berbuat syirik. Syirik adalah suatu perbuatan dosa yang lebih sulit (sangat samar) untuk dikenali daripada jejak semut yang merayap di atas batu hitam di tengah kegelapan malam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/196.)

Diantara dakwanya para Nabi dan Rasul ialah Menyeru untuk beribadah kepada Allah dan Menjauhi kesyrikan
Allah ta’ala berfirman, “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” (Qs. An Nahl : 34).

Apakah boleh kita meminta pertolongan kepada orang yg masih hidup

Apakah boleh kita meminta pertolongan kepada orang yang masih hidup?
•••
Jawab: Boleh pada perkara yang mereka mampu.
.
Allah ta’ala berfirman yang artinya,
“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Maidah: 2)
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Dan Allah selalu menolong hamba selama hamba tersebut selalu menolong saudaranya.”
(Hadist Riwayat Muslim no. 5699)
.
Adapun kalau minta kesembuhan, meminta rizki, petunjuk hidayah maka ini tidak boleh diminta kecuali kepada Allah ta'aala. Karena orang yang hidup tidak bisa memberikan, apalagi yang sudah meninggal dunia.
.
📚Sumber:
Kitab Khudz `Aqiidataka Minalkitaabi Wassunnati ash-Shahihah - Syaikh Muhammad Jamil Zainu Rahimahullah.
Bab IV
.

Hadist tidur setelah ashar

Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah. Amma ba’du.

Hadis terkenal yang sering dijadikan dalil dalam hal ini adalah,

من نام بعد العصر فاختلس عقله فلا يلومن إلا نفسه

Siapa yang tidur setelah asar, lalu hilang akalnya, maka jangan salahkan kecuali dirinya sendiri.

Hadis ini dinilai do’if bahkan palsu (maudhu’) oleh para ulama. Diantaranya Syekh Albani, beliau mengkategorikan hadis ini dalam deratan hadis-hadis do’if, nomor 39 di buku beliau “Silsilah Al-Ahadis Ad-Do’ifah” (1/112).

Ibnul Jauzi menilai hadis ini palsu dalam buku beliau “Al-Maudhu’at” (Hadis-hadis palsu). Beliau mengatakan,

لا يصح ، خالد كذاب ، والحديث لابن لهيعة فأخذه خالد ونسبه إلى الليث

Hadis ini tidak shahih, Kholid (salah seorang perowi hadis ini) adalah pendusta, hadis ini bersumber dari Ibnu Lahi’ah, lalu diklaim Kholid dia riwayatkan dari Laits. (Al-Maudhu’at 3/69).

Demikian pula riwayat-riwayat lain berkaitan larangan tidur setelah asar, tidak ada yang valid. Dalam situs Islamqa.info (situs ilmiah asuhan Syekh Muhammad Sholih Al Munajid) dijelaskan,

لم يصح في أمر النوم بعد العصر ، مدحا أو ذما ، حديث عن النبي صلى الله عليه وسلم ، ولا عن أصحابه..

Tidak hadis atau riwayat dari sahabat yang shahih berkaitan tidur setelah asar, baik berisi pujian (perintah) atau celaan (tidur setelah asar).

Mengingat tidak adanya hadis shahih yang melarang tidur setelah asar, maka kembali ke hukum asal perkara duniawi, yaitu mubah, alias boleh saja dilakukan. Seperti diterangkan dalam kaidah fikih,

الأصل في الأشياء الإباحة

Hukum asal perkara duniawi adalah mubah.

Dalam Fatawa Lajnah Da-imah (26/148) (Lembaga fatwa kerajaan Saudi Arabia) diterangkan

النوم بعد العصر من العادات التي يعتادها بعض الناس ، ولا بأس بذلك ، والأحاديث التي في النهي عن النوم بعد العصر ليست بصحيحة

Tidur setelah asar adalah kebiasaan sebagian orang, dan tidak terlarang tidur setelah asar. Hadis-hadis yang menerangkan larangan tidur setelah asar tidak ada yang shohih. (Dikutip dari : Islamqa)

Syekh Ibnu Baz rahimahullah juga menjelaskan,

لا نعلم فيه شيئًا، نوم العصر لا نعلم فيه شيئًا ولا حرج فيه، كل الأوقات لا نعلم فيها شيء، إلا المغرب كره النوم قبلها عليه الصلاة والسلام، كان يكره النوم قبلها أي قبل العشاء والحديث بعدها.

Kami tidak mengetahui dalil larangan tidur setelah asar. Tidak mengapa tidur setelah asar. Kami tidak mengetahui adanya dalil yang melarang tidur di waktu apa saja kecuali waktu Maghrib, Nabi ﷺ memakruhkan tidur sebelum Isya dan mengobrol setelah Isya.

(https://binbaz.org.sa/fatwas/1641/حكم-النوم-بعد-العصر)

Sekian.
Wallahua’lam bis showab.

Read more https://konsultasisyariah.com/34490-dilarang-tidur-setelah-asar.html

Kisah Ahmad bin Hambal

Assalamualaikum akhi bagaimana kabarnya hari ini ?

*إذا ما قال لي ربي اما استحييت تعصيني*

Jika Rabb-ku berkata kepadaku, “Apakah engkau tidak malu bermaksiat kepada-Ku?”

*وتخفي الذنب عن خلقي وبالعصيان تأتيني*

Engkau menutupi dosamu dari makhluk-Ku tapi dengan kemaksiatan engkau mendatangi-Ku

*فكيف أجيبُ يا ويحي ومن ذا سوف يحميني؟*

Maka bagaimana aku akan menjawabnya? Aduhai, celakalah aku dan siapa yang mampu melindungiku?

*أُسلي النفس بالآمالِ من حينٍ الى حيني*

Aku terus menghibur jiwaku dengan angan-angan dari waktu ke waktu

*وأنسى ما وراءَ الموت ماذا بعد تكفيني*

Dan aku lalai terhadap apa yang akan datang setelah kematian dan apa yang akan datang setelah aku dikafani

*كأني قد ضمنتُ العيش ليس الموت يأتيني*

Seolah-olah aku akan hidup selamanya dan kematian tidak akan menghampiriku

*وجائت سكرة الموتُ الشديدة من سيحميني*

Dan ketika sakaratul maut yang sangat berat datang menghampiriku, siapakah yang mampu melindungiku?

*نظرتُ الى الوُجوهِ أليـس منهُم من سيفدينـــي*

Aku melihat wajah-wajah manusia, tidakkah ada di antara mereka yang akan menebusku?

*سأسأل ما الذي قدمت في دنياي ينجيني*

Aku akan ditanya tentang apa yang telah aku persiapkan untuk dapat menyelamatkanku (di hari pembalasan)

*فكيف إجابتي من بعد ما فرطت في ديني*

Maka bagaimanakah aku dapat menjawabnya setelah aku melupakan agamaku

*ويا ويحي ألــــم أسمع كلام الله يدعوني*

Aduhai sungguh celakalah aku, tidakkah aku mendengar firman Allah yang menyeruku?

*ألــــم أسمع لما قد جاء في قاف ويسِ*

Tidakkah aku mendengar apa yang datang kepadaku (dalam surat) Qaaf dan Yasin itu?

*ألـــم أسمع بيوم الحشر يوم الجمع و الديني*

Tidakkah aku mendengar tentang hari kebangkitan, hari dikumpulkannya (manusia), dan hari pembalasan?

*ألـــم أسمع مُنادي الموت يدعوني يناديني*

Tidakkah aku mendengar panggilan kematian yang selalu menyeruku, memanggilku?

*فيا ربــــاه عبدٌ تــائبٌ من ذا سيأويني*

Maka wahai Rabb-ku, akulah hambamu yang ingin bertaubat, siapakah yang dapat melindungiku?

*سوى رب غفور واسعٍ للحقِ يهديني*

Melainkan Rabb yang Maha Pengampun lagi Maha Luas Karunianya, Dialah yang memberikan hidayah kepadaku

*أتيتُ إليكَ فارحمني وثقــّـل في موازيني*

Aku datang kepada-Mu, maka rahmatilah diriku dan beratkanlah timbangan (kebaikanku)

*وخفِّف في جزائي أنتَ أرجـى من يجازيني*

Ringankanlah hukumanku, sesungguhnya hanya Engkaulah yang kuharapkan pahalanya untukku

"Al-Imam Ahmad terus melihat bait-bait sya’ir tersebut dan mengulang-ulangnya kemudian beliau menangis tersedu-sedu. Salah seorang muridnya mengatakan bahwa beliau hampir pingsan karena begitu banyaknya menangis."

Sumber dari Kitab Manaqib Al-Imam Ahmad hal. 205 oleh Al-Imam Ibnul Jauzy.

Selasa, 30 Juli 2019

Wanita bertanya Syaikh Sholih Al fauzan hafidzahullah

Wanita bertanya, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan menjawab
--------------------

Berkata sang moderator, penanya wanita ini berkata :
"Apakah seorang wanita diperkenan meminta cerai disebabkan suaminya akan ta'addud ?"

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan menjawab :

Alhamdulillah apabila suaminya hendak ta'addud maka itu merupakan karunia dari Allah. Allah memperkenankan hal tersebut. Adapun mengenai sang istri yang meminta cerai, jika suaminya tersebut melalaikan hak-hak sang istri dan tidak menunaikannya, maka diperkenankanlah bagi sang istri untuk meminta cerai.

Namun jika sang suami ta'addud dan ia berlaku adil kepada istri-istrinya dan menunaikan kewajibannya, maka sang istri tidak boleh meminta cerai. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

"Wanita mana saja yang meminta cerai kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan syariat, maka haram baginya mendapatkan harumnya surga"

Maka ia tidak boleh meminta cerai hanya karena karena sang suami mengamalkan sesuatu hal yang dibolehkan oleh agama. Dan ta'addud itu mubah, walhamdulillah. Bahkan terkadang sunnah. Dan si istri memiliki hak yang wajib ditunaikan oleh suaminya. Na'am
--------

Diterjemahkan secara bebas oleh Abu Hanifah ibn Yasin