blog ini berisikan kumpulan faedah faedah ilmu yang sangat bermanfaat kepada diri saya pribadi
Selasa, 09 Mei 2023
Hukum Memakai Gelang atau Kalung Kesehatan
*Hukum Memakai Gelang atau Kalung Kesehatan*
Pertanyaan:
Apakah boleh menggunakan gelang atau kalung kesehatan untuk menyembuhkan penyakit atau menjaga kesehatan tubuh. Ada berbagai gelang atau kalung kesehatan yang terbuat dari tembaga, germanium, giok, magnet dan lain-lain. Ada yang bisa menyembuhkan penyakit jantung, asam urat, diabetes, kanker, impoten, rematik dan penyakit lainnya. Bagaimana hukumnya?
Jawaban:
Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah, amma ba’du,
Metode pengobatan yang boleh digunakan adalah yang terdapat dalilnya yang shahih atau terdapat bukti yang otentik secara medis atau penelitian yang valid bahwa metode pengobatan tersebut bermanfaat. Jika tidak termasuk dalam salah satu dari dua cara di atas, maka itu metode pengobatan yang batil yang harus dijauhi.
Di antara bentuk metode pengobatan yang batil adalah dengan menggunakan jimat. Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ عَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ
“Barang siapa yang memakai tamimah (jimat), ia telah berbuat syirik” (HR. Ahmad no. 17422, disahihkan Al-Albani dalam Silsilah Shahihah no. 492).
Syaikh Abdul Aziz Ar-Rajihi menjelaskan: “Memakai jimat, menggunakan pelet, tathayyur, semua ini adalah bentuk syirik asghar. Jika diyakini hal-hal tersebut sekedar wasilah (perantara) yang memberikan manfaat jika memakainya. Sebagaimana diyakini kebanyakan para pemakainya. Mereka masih meyakini bahwa yang menentukan adalah Allah ta’ala. Namun jika pemakainya meyakini bahwa jimat kalung atau jimat gelang atau jimat yang digantung, ini semua memiliki kuasa dengan sendirinya, bisa memberikan manfaat dan menghindarkan mudarat dengan sendirinya, maka ini syirik akbar” (Durusun fil Aqidah, 11/6).
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan:
Menggunakan jimat yang demikian termasuk kesyirikan. Karena termasuk menetapkan sebab yang tidak Allah jadikan sebagai sebab syar’i atau sebab qodari. Maka pelaku perbuatan ini seolah menjadikan dirinya sebagai partner bagi Allah dalam menetapkan sebab.
Sebagai contoh, membaca surat Al-Fatihah adalah sebab syar’i untuk mendapatkan kesembuhan. Mengonsumsi obat pencahar adalah sebab qodari untuk melancarkan metabolisme di perut. Karena ini telah diketahui berdasarkan penelitian.
Manusia dalam masalah sebab, terbagi menjadi tiga golongan. Dua golongan ekstrem, satu golongan pertengahan:
Pertama: golongan orang-orang yang mengingkari sebab. Yaitu orang-orang yang tidak meyakini bahwa perbuatan Allah didasari di atas hikmah. Mereka adalah Jabariyah dan Asy’ariyah.
Kedua: golongan orang-orang yang ghuluw (berlebihan) dalam menetapkan sebab. Sampai-sampai mereka menjadikan sesuatu yang bukan sebab sebagai sebab. Mereka adalah mayoritas ahli khurafat, dari kalangan Sufiyah dan yang semisal mereka.
Ketiga: golongan orang-orang yang mengimani adanya sebab dan adanya pengaruh dari sebab, namun mereka tidak menetapkan sebab kecuali sebab yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya baik secara syar’i maupun kauni (qodari). Tidak ragu lagi bahwa golongan inilah yang beriman kepada Allah dengan iman yang hakiki. Dan mereka mengimani bahwa perbuatan Allah didasari atas hikmah. Karena mereka mengorelasikan sebab dengan musababnya dan illah dengan ma’lulah-nya. Ini adalah bentuk penetapan hikmah.
...
(Al-Qaulul Mufid, hal. 164 – 165).
Selengkapnya: https://konsultasisyariah.com/42094-hukum-memakai-gelang-atau-kalung-kesehatan.html
Join juga channel telegram @fawaid_kangaswad
Selasa, 02 Mei 2023
Maksud Ayat “Sembahlah Allah Sampai Datang Yakin”
Maksud Ayat “Sembahlah Allah Sampai Datang Yakin”
Pertanyaan:
Apa yang dimaksud dalam ayat yang berbunyi “Sembahlah Allah sampai datang yakin?”. Apakah berarti jika sudah yakin maka tidak perlu lagi beribadah? Mohon pencerahannya.
Jawaban:
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wasshahbihi ajma’in, amma ba’du.
Allah ta’ala berfirman:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin” (QS. Al-Hijr: 99).
Ayat ini tidak bermakna bahwa jika seseorang sudah yakin, maka tidak perlu lagi beribadah, sebagaimana pemahaman sebagian orang sufi.
Al-yaqin dalam ayat ini maknanya adalah al-maut (kematian). Karena kematian adalah suatu hal yang pasti akan datang, sehingga disebut al yaqin. Ini ditafsirkan sendiri oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits dari Ummul ‘Ala, bibi dari Hizam bin Hakim, radhiyallahu’anhuma, ia berkata:
طَارَ لَنَا عُثْمَانُ بنُ مَظْعُونٍ في السُّكْنَى، حِينَ اقْتَرَعَتِ الأنْصَارُ علَى سُكْنَى المُهَاجِرِينَ، فَاشْتَكَى فَمَرَّضْنَاهُ حتَّى تُوُفِّيَ، ثُمَّ جَعَلْنَاهُ في أثْوَابِهِ، فَدَخَلَ عَلَيْنَا رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَقُلتُ: رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْكَ أبَا السَّائِبِ، فَشَهَادَتي عَلَيْكَ لقَدْ أكْرَمَكَ اللَّهُ، قالَ: وما يُدْرِيكِ قُلتُ: لا أدْرِي واللَّهِ، قالَ: أمَّا هو فقَدْ جَاءَهُ اليَقِينُ، إنِّي لَأَرْجُو له الخَيْرَ مِنَ اللَّهِ
“Utsman bin Mazh’un pernah mendatangi kami dalam sebuah hunian ketika orang Anshar sedang membagikan pembagian ghanimah untuk kaum Muhajirin. Ia (Utsman) mengeluhkan tentang sakitnya, lalu kami merawatnya hingga akhirnya ia meninggal. Kemudian kami mengkafaninya dengan kain-kainnya. Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menemui kami. Dan aku (Ummul ‘Ala) berkata (kepada jenazah Utsman): “Semoga Allah merahmati engkau wahai Abu Sa`ib, aku bersaksi atas kebaikanmu, sungguh Allah telah memuliakanmu (dengan kehadiran Rasulullah)”. Nabi bertanya: “Dari mana engkau tahu Allah telah memuliakan Utsman?” Aku jawab: “Demi Allah saya tidak tahu wahai Rasulullah”. Nabi lalu bersabda: “Sungguh telah datang kepadanya al-yaqin (kematian), dan aku berharap ia mendapatkan kebaikan dari Allah” (HR. Al-Bukhari no. 7018).
Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menyebutkan kematian dengan al-yaqin.
Dan tafsiran ini juga kesepakatan seluruh ahli tafsir. Mereka semua sepakat bahwa al-yaqin maknanya adalah kematian. Al-Qurthubi menjelaskan:
قوله تعالى : واعبد ربك حتى يأتيك اليقين فيه مسألة واحدة : وهو أن اليقين الموت
“Firman Allah ta’ala [Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin] dalam hal ini hanya ada satu pendapat. Yaitu bahwa al yaqin maknanya adalah kematian” (Tafsir Al-Qurthubi, 13/264).
Selengkapnya: https://konsultasisyariah.com/42029-maksud-ayat-sembahlah-allah-sampai-datang-yakin.html
====
Akun Medsos Fawaid Kangaswad
Facebook: https://web.facebook.com/fawaid.kangaswad
Twitter: https://twitter.com/kangaswad
Instagram: https://www.instagram.com/kangaswad
Telegram: https://t.me/fawaid_kangaswad
Youtube: https://www.youtube.com/yulianpurnama
Clubhouse: https://www.clubhouse.com/@kangaswad
Tulisan-tulisan kami bisa dibaca di:
https://muslim.or.id
https://muslimah.or.id
https://konsultasisyariah.com
https://kangaswad.wordpress.com
https://kipmi.or.id
Mendengar musik semakin menguatkan pengaruh sihir dan ketempelan jin.
Mendengar musik semakin menguatkan pengaruh sihir dan ketempelan jin.
____
Ibnu Taimiyah, Majmu al-Fatawa 11/259.
Ustadz yani fahriansyah
Allah menyebut hilal sbg pnanda waktu (nash bkn dhohir)Di dalam al quran yg mutawatir secara sanad + qothiy scr dilalah Ada perintah rukyah yg merupakan perintah menggunakan indera shg merupakan sumber pengetahuan yg bersifat qoth'iy bkn dhonny.
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ ۗ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَن تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِن ظُهُورِهَا وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾
[ سورة البقرة: 189]
Mereka bertanya tentang Hilal. Katakan dia adalah penanda waktu dan haji.
Allah menyebut hilal sbg pnanda waktu (nash bkn dhohir)
Di dalam al quran yg mutawatir secara sanad + qothiy scr dilalah
Ada perintah rukyah yg merupakan perintah menggunakan indera shg merupakan sumber pengetahuan yg bersifat qoth'iy bkn dhonny.
Adakah istidlal yg lebih kuat dari ini?
Istidlal sekuat ini masih mau digeser dg tafsir tanpa landasan dalil, dg penafsiran yg tidak diketahui salaf baik secara lughoh/bahasa tdk pula scr 'urf/adat, sungguh hal itu bkn perkara remeh.
Hampir tdk ada khilaf.
Yg mengusung khilaf pun nukilan pendapatnya tdk spt yg dipertontontan.
Tasyri' sbgmn terjadi pada perkara yg ta'abbudy jg terjadi pada hal yg bersifat ta'aqquliy.
ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم.....
أم لهم شركاء شرعوا لهم من الدين ما لم يأذن به الله
Hukum mencakup ta'abbudy & taqquly
Ad din/agama mencakup ta'abbudy & ta'aqquly
Sungguh ini bkn masalah kecil.
وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَن تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِن ظُهُورِهَا وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾
[ سورة البقرة: 189
Beristidlal dan berargumentasilah sesuai koridor dan pintu2nya.
Hendaknya kita bertakwa/takut kpd Allah mudah2n kita beruntung.
Ustadz noor ihsan silviantoro
pembasan ilmiah tentang hisab dan rukyat syaikh ahmad syakir
https://adniku.blogspot.com/2012/07/risalah-ilmiah-syekh-ahmad-syakir.html?m=0
Bila sudah cinta atau benci, maka sulit bersikap adil dan objektif kepada orang yang dia cintai dan dia benci.
Bila sudah cinta atau benci, maka sulit bersikap adil dan objektif kepada orang yang dia cintai dan dia benci.
Di matanya, kesalahan orang yang dia sukai akan terasa ringan, sebaliknya kesalahan orang yang dia benci terasa besar.
Ustadz wira bachrun
Langganan:
Postingan (Atom)