Senin, 01 Mei 2023

Bab Mencium Seseorang

"Bab Mencium Seseorang"

Ketika kami datang di Madinah, kami bersegera turun dari kendaraan kami. 
Lalu kami mencium tangan nabi shallallahu alaihi wasallam, dan kaki beliau. 
Adapun al Mundzir al asyaj (المُنْذِرُ الأَشَجُّ) menunggu,  tidak terburu-buru ingin menemui Nabi. 
Dia menuju tempat penyimpanan bajunya. 
Lalu dia mengenakan dua bajunya yang bagus. 
Kemudian mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Lalu Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Sungguh dirimu ada dua perangai, yang dicintai Allah, yaitu berakal disertai sabar dan perlahan serta meneliti perkara."
Al Mundzir (المُنْذِرُ الأَشَجُّ) radhiyallahu anhu berkata: "Wahai Rasulullah,  apakah ini dari tabiat yang aku usahakan atau Allah menciptakannya pada diriku?"
   
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Allah yang menciptakanmu mempunyai perangai itu"

Al mundzir menjawab: "Segala puji bagi Allah,  yang menciptakanku dengan dua perangai yang dicintai Allah dan RasulNya."

 Penjelasan:

Para sahabat Nabi mencintai Nabi shallallahu alaihi wasallam dan mengagungkan beliau. 
Mereka mencari kesempatan menyentuh tangan Nabi, atau kulit beliau. 
Diantaranya adalah delegasi, utusan atau duta Abdul Qaisy,  ketika mereka datang memeluk Islam. 
Mereka mencium tangan Nabi, dan kaki beliau shallallahu alaihi wasallam. 

Dan di antara mereka adalah periwayat hadits ini, Zari' bin Amir bin Abdil Qaisy.  Dia berkata: "Ketika kami datang ke Madinah sebagai muslim, dan sampai kepada Nabi. kami bersegera cepat-cepat turun dari kendaraan kami, dari unta dan lainnya. Untuk saling mendahului di antara kami. 
Lalu kami mencium tangan dan kaki Nabi shallallahu alaihi wasallam. 
Yaitu Nabi tidak mengingkari hal ini,  dan beliau menetapkan,  memberi pengakuan perbuatan mereka. 

Zari' bin Amir berkata: "Adapun al mundzir menanti", yaitu tidak cepat-cepat seperti mereka yang bersegera menemui Nabi. 
Sabar dan perlahan,  memakai baju lalu bertemu dengan Nabi. 

لما قدمنا المدينةَ، فجعلْنا نتبادرُ من رواحِلنا، فنقبِّل يدَ النبيِّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ ورجلَه، وانتظر المنذر الأشج حتى أتى عيبته فلبس ثوبيه ثم أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال له إن فيك خلتين يحبهما الله الحلم والأناة . قال : يا رسول اللهِ ! أنا أتخلق بهما أم الله جبلني عليهما ؟ قال : بل الله جبلك عليهما . قال : الحمد لله الذي جبلني على خلتين يحبهما الله ورسوله.

الراوي : زارع بن عامر بن عبدالقيس العبدي | المحدث : الألباني | المصدر : صحيح أبي داود
الصفحة أو الرقم: 5225 | خلاصة حكم المحدث : حسن دون ذكر الرجلين

https://dorar.net/hadith/sharh/85310

صحيح سنن أبي داود
https://drive.google.com/file/d/1A0TDFuJJyXT98S3QDZFdkZUMFiWXyKbu/view?usp=drivesdk
Ustadz abu hasan ariefs

Dalam gambar yg ditandai warna hijau adalah letak dari Sumur milik sahabat yang bernama sumur ( Ha) sumur ini salah satu sumur yang pling di kenal dizaman nabi

••• Dalam gambar yg ditandai warna hijau adalah letak dari Sumur milik sahabat yang bernama sumur ( Ha) sumur ini salah satu sumur yang pling di kenal dizaman nabi karena airnya yg jernih dan segar, hampir semua sahabat banyak mengambil manfaat dari sumur tersebut. Setelah perluasan kemudian ditutup tapi masih diberi tanda dengan marmer bulat terletak di sebelah kiri pintu king Fahd kadang kadang tertutup oleh karpet•••
Ustadz agus andriyanto 

Berkata Syaikh Al-Albani, rahimahullah,: "kadang seseorang adalah salafi dalam keyakinannya, tetapi dia bukanlah salafi dalam perilaku dan dalam cara asuhannya."

Kebutuhan urgent adab dan ilmu tarbiyyah para salafiyin..

قال الألباني رحمه الله تعالى : "قد كان الشخص سلفيا في عقيدته ولم يكن سلفيا في سلوكه وفي تربيته"

وقال أيضا : "نجحنا في التصفية ولم ننجح في التربية"

 وقال الإمام عبد الله بن المبارك رحمه الله تعالى : "طلبت الأدب ثلاثين سنة، وطلبت العلم عشرين سنة، وكانوا يطلبون الأدب قبل العلم"

Berkata Syaikh Al-Albani, rahimahullah,: "kadang seseorang adalah salafi dalam keyakinannya, tetapi dia bukanlah salafi dalam perilaku dan dalam cara asuhannya."

Dia juga berkata: “Kami berhasil dalam pemurnian (manhaj dan aqidah), tetapi kami tidak berhasil dalam cara-cara pendidikan.”

Imam Abdullah bin Mubarak, berkata: "Saya belajar adab selama tiga puluh tahun, dan saya mencari ilmu selama dua puluh tahun, dan mereka belajar adab sebelum pengetahuan."

--

Sungguh adab² yg buruk di kalangan salafiyin banyak kita jumpai saat ini, siapa kemarin yg merendahkan Ust Nuzul.. Mencela ust Dr. Arifin, Dr. Addariny.. dll..

Allahul musta'an, padahal akhlak dan adab yg mulia adalah tujuan utama Nabi shallallahu alaihi wasallam diutus Allah..

Bukankah telah nyata para mantan salafiyin yg saat ini tersesat awalnya disebabkan buruknya adab..

Sungguh semua ini adalah ibrah nyata bagi orang-orang yg punya pandangan..

Kun salafiyyan 'alal jaaddah..

Mbs~

HUKUM MEMBACA SHODAQALLAHUL 'ADZIM

HUKUM MEMBACA SHODAQALLAHUL 'ADZIM

مَسْأَلَةٌ  : اعْتَادَ النَّاسُ أَنْ يَنْهَوْا تِلَاوَتَهُمْ بِقَوْلِ : صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ. فَهَلْ عَلَى هَذَا دَلِيْلٌ صَحِيْحٌ؟

Soal : Manusia terbiasa membaca : Shadaqallahul ‘Adzim (Maha benar Allah dengan segala firman-Nya) Apakah ini ada dalilnya? 

الْجَوَابُ : لَا دَلِيْلَ عَلَى قَوْلِ {صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ} عِنْدَ الْاِنْتَهَاءِ مِنَ التِّلَاوَةِ، وَإِنْ كَانَ هَذَا عَمَلُ الْأَكْثَرِيْنَ، وَعَمَلُ الْكَثْرَةِ لَيْسَ دَلِيْلاً عَلَى إِصَابَةِ الْحَقِّ، قَالَ تَعَالَى : {وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ} .

Jawab : tidak ada dalil ketika selesai membaca Al Qur an mengucapkan : Shadaqallahul ‘adzim. Sekalipun ini adalah perbuatan kebanyakan orang saat ini. Dan amalan orang banyak bukanlah hujjah untuk menetapkan sebuah kebenaran. Allah ﷻ  berfirman, “Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya.”  (QS Yusuf : 103)

وَمِنْ لَطِيْفِ قَوْلِ الْفُضَيْلِ بْنِ عِيَاضٍ رَحِمَهُ اللهُ : لَا تَسْتَوْحِشْ طُرُقَ الْهُدَى لِقِلَّةِ أَهْلِهَا، وَلَا تَغْتَرَّ بِكَثْرَةِ الْهَالِكِينَ. بَلْ إِنَّ الدَّلِيْلَ مَعَ مَنْ مَنَعَ خَتْمَ التِّلَاوَةِ بِهَذَا الْقَوْلِ. 

Dan ada sebuah hikmah dari ungkapan Fudhail bin Iyadh rahimahullah “Janganlah bersedih hati terhadap jalan kebenaran karena sedikit yang penempuhnya. Dan janganlah tertipu dengan banyaknya orang yang menempuh jalan kebinasaan."  Bahkan sebaliknya, dalil berpihak ke pada orang yang melarang membaca : Shadaqallahul ‘Adzim bila selesai membaca Al-Quran.

فَقَدْ رَوَى الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ وَغَيْرُهُمَا مِنْ حَدِيْثِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ أَنَّهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اقْرَأْ عَلَيَّ» قَالَ : قُلْتُ : أَقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ قَالَ: «إِنِّي أَشْتَهِي أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي» 

Imam Al-Bukhari dan Muslim dan yang lainnya meriwayatkan, dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu , dia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, 'Bacalah Al-Quran di hadapanku! Aku bertanya, “Apakah aku membacanya di hadapan engkau sedangkan Al-Qur'an ini diturunkan kepadamu?" Rasul berkata, "Aku suka kalau aku mendengarnya dari selainku.'

قَالَ : فَقَرَأْتُ النِّسَاءَ حَتَّى إِذَا بَلَغْتُ : {فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ، وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا}  قَالَ لِي: «كُفَّ أَوْ أَمْسِكْ» فَرَأَيْتُ عَيْنَيْهِ تَذْرِفَانِ 

Maka aku membaca surat AnNisa', hingga aku sampai pada ayat, "Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). (QS An Nissa : 41) Rasulullah ﷺ berkata, “Cukuplah sampai di sini.' Aku melihat kedua mata Rasulullah ﷺ  berderai air mata.” (HR Al Bukhari : 5055 dan Muslim : 800)

 فَلَمْ يَقُلْ لَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْ : صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ، وَلَمْ يَثْبُتْ ذَلِكَ عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ولَمْ يَعْهَدْ عَنِ الصَّدْرِ الْأَوَّلِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوْا يَتَلَفَّظُونَ بِذَلِكَ عِنْدَ الْاِنْتِهَاءِ مِنْ  تِلَاوَتِهِمْ، 

Dan Rasulullah ﷺ  tidak memerintahkan Ibnu Mas'ud untuk membaca : Shadqallahul ‘adzim. Dan tidak ada hadits shahih dari Nabi ﷺ, juga amalan tersebut tidak dikenal pada masa para shahabat Radhiyallahu Anhum bahwasanya mereka membaca lafazh ini ketika selesai membaca Al Qur an.

لَمْ يُعْرَفْ ذَلِكَ عِنْدَ السَّلَفِ الصَّالِحِ مِنْ بَعْدِ الصَّحَابَةِ. إِذًا مَا بَقِيَ أَنْ نَقُوْلَ إِلَّا أَنَّهُ مُحْدَثٌ وَلَيْسَ فِيْهِ سُنَّةٌ تَجُوْزُ هَذَا الذِّكْرَ  .

Juga tidak dikenal pada para salafushshalih setelah zaman para shahabat. Kalau begitu tinggallah kita katakan bahwa hal itu adalah sesuatu yang baru, dan tidak ada sunnah yang membolehkan menyebut lafazh ini.

قَالَتِ اللَّجْنَةُ الدَّائِمَةُ : قولُ القَائِلِ {صَدَقَ اللَّهُ الْعَظِيْمُ} في نَفْسِهَا حَقٌ، وَلَكِنْ ذِكْرُهَا بَعْدَ نِهَايَةِ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ بِاسْتِمْرَارِ بِدْعَةٌ، لِأَنَّهُا لَمْ تَحْصُلْ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا مِنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ فِيْمَا نَعْلَمُ مَعَ كَثْرَةِ قِرَاءَتِهِمُ الْقُرْآنَ، 

Al-Lajnah Ad-Daimah berkata, “Bacaan shadqallahul ‘Adzim esensinya adalah benar. Akan tetapi, selalu mengucapkannya setelah selesai membaca Al-Qur'an itu bid'ah. Karena hal demikian tidak dilakukan oleh Nabi ﷺ  juga tidak dilakukan oleh para Khalifah Ar-Rasyidin, sepengetahuan kami meskipun mereka banyak membaca Al-Qur'an.

وَقَدْ ثَبَتَ عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لِيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ وفي رواية : مَنْ أَحْدَثَ في أَمْرِنَا هَذَا، مَا لَيْسَ مِنْهُ، فَهُوَ رَدٌّ 

Dan sungguh itu telah tetap bahwasanya Rasulullah ﷺ  bersabda, “Siapa yang melakukan sebuah amalan yang tidak ada perintah (agama) dari kami, maka itu tertolak ” Dan pada sebuah riwayat:  “Siapa yang mengada-adakan pada urusan (agama) kami yang tidak ada perintahnya, maka itu tertolak.” (Fatwa Lajnah Ad Daimah 4/118 no 4310) [Dinukil dari kitabul Adab , Fuad As Syalhub)
ustadz abu ghozie 

Diantara sebab mendatangkan rezeki adalah menyuruh keluarga untuk sholat, mengingatkan mereka tentang sholat, menegur ketika mereka lalai dari sholat, saling menjadi pengingat tentang pentingnya sholat dan bersabar dengannya.

Diantara sebab mendatangkan rezeki adalah menyuruh keluarga untuk sholat, mengingatkan mereka tentang sholat, menegur ketika mereka lalai dari sholat, saling menjadi pengingat tentang pentingnya sholat dan bersabar dengannya.

Dalam Ilmu Munasabat (salah satu cabang ilmu tafsir), ini terlihat dari letak ayat. Dimana Allah menjelaskan tentang rezeki setelah sebelumnya menyuruh kita untuk memerintahkan keluarga untuk sholat.

#tafsir
t.me/abdurrahmaanzahier

Kitab Yang Merubah Saya

Kitab Yang Merubah Saya 

Sebagian orang belum mengetahui bahwasanya dahulu saya sempat menjadi orang yang keras (Mutasyadid) dalam segala aspek khususnya dalam masalah yang bersifat ijtihad dan menganggapnya sebagai perkara ijma atau qathi', padahal agama ini adalah agama yang mudah sebagaimana Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dari sahabat Sayyidina Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu,

إن الدين يسر ولن يشاد أحد إلا غلبه فسددوا وقاربوا وأبشروا واستعينوا بالغدوة والروحة وشيء من الدلجة 

"Sesungguhnya agama ini adalah agama yang mudah, tidak ada seorangpun yang berusaha mempersulit kecuali akan kalah. Maka bersikap lurus, mendekatlah kepada kebenaran, berbahagialah dan manfaatkanlah waktu pagi, petang dan sebagian waktu malam."

Bahkan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam mengabarkan bahwasanya orang yang terdahulu binasa karena berlebihan dalam agama dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dan Imam Ahmad dari sahabat Sayyidina Abdullah Bin Abbas Radhiyallahu Anhuma,

إياكم والغلوَ، فإنما أهلك الذين من قبلكم الغلو

"Jauhilah ghuluw (Berlebih-lebihan dalam beragama), karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena ghuluw."

Dan orang yang berlebihan akan celaka sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Sayyidina Abdullah Bin Mas'ud Radhiyallahu Anhu,

هلك المتنطعون قالها ثلاثا 

"Celakalah orang-orang yang melampaui batas." Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam mengatakan sebanyak tiga kali."

Salah satu contoh ghuluw dalam beragama adalah mudah sekali mentahzir dan membid'ahkan secara serampangan, dahulu saya termasuk orang yang mudah mentahzir dan membid'ahkan secara serampangan, tetapi setelah membaca kitab ini saya berusaha bersikap inshaf (Adil) sebisa mungkin dengan siapapun meskipun demikian ada sebagian orang yang menganggap saya keluar dari Ahlussunnah Wal Jama'ah, manhaj saya tidak kokoh dan tidak sejati, karena ridho manusia adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa dicapai.

Judul kitab ini adalah "Al Jamiyah Fil Mizan", sebuah kitab yang ditulis oleh Syaikh Dr. Misyari Bin Sa'id Al Mathrafi, seorang dosen dan peneliti dibidang aqidah dan pemikiran Islam di Universitas Kuwait, kitab ini dicetak oleh Maktabah Nurul Mubin Yordania dan dijual juga di Maktabah Nurul Mubin cabang Mesir.

Alhamdulillah saya sudah membacanya sampai tuntas dan kitab ini berisi pembahasan sebagai berikut: 

1) Apa itu Al Jamiyah dan sejarah munculnya? Saya akan paparkan secara singkat apa yang ditulis oleh penulis dalam kitab ini, kelompok ini muncul pada tahun 90-an ketika meletus Perang Teluk antara Kuwait dan Irak.

Ketika itu Arab Saudi memutuskan untuk meminta bantuan Amerika dan Inggris untuk membebaskan Kuwait dari serangan Irak, para ulama berbeda pendapat apakah boleh atau tidak? Sebagian membolehkan dan sebagian tidak membolehkan.

Lalu muncul Syaikh Muhammad Aman Al Jami, beliau menyatakan siapapun yang mengatakan tidak boleh mendatangkan bantuan dari Inggris dan Amerika dan menentang kebijakan Arab Saudi karena mendatangkan bantuan dari Inggris dan Amerika maka telah menyimpang, kemudian setelah beliau wafat, muncul Syaikh Rabi Al Madkhali yang mendukung pendapatnya Syaikh Muhammad Aman Al Jami, dan fenomena tahzir mentahzir dan membid'ahkan secara serampangan berlanjut sampai sekarang.

2) Nama lain di Al Jamiyah, seperti Ghulatu Tajrih, Al Madakhilah dll.

3) Tokoh-tokoh dari mereka yang terkenal dan memberi pengaruh pada mereka. Perlu diketahui, sebagian pemikiran tokoh-tokoh mereka juga memberikan banyak pengaruh di Indonesia. Penulis menyebutkan tokoh-tokoh mereka di Arab Saudi, Kuwait, UAE, Bahrain, Yordania, Yaman, Mesir, Maroko dan Lebanon.

4) Nama-nama ulama yang tidak selamat dari gangguan mereka seperti Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad, Syaikh Abdurrahman As Sudais, Syaikh Sa'ud Asy Syuraim, Syaikh Misyari Al Afasi, Syaikh Mustofa Al Adawi, Syaikh Alawi As Saqqaf (Pendiri dan pengelola website Ad Durarus Saniyyah) dll.

5) Fenomena tahzir antar sesama.

6) Perkataan para ulama tentang kelompok ini. Penulis menyebutkan perkataan para ulama tentang kelompok ini meskipun sebagian nama yang dicantumkan oleh penulis sudah menyimpang dari jalan yang lurus.

Salah satunya penulis mencantumkan nama Syaikh Basyir Bin Hasan At Tunisi, menurut kawan-kawan saya asal Perancis dan Tunisia beliau adalah lulusan Ma'had Al Haram Mekkah, setelah lulus beliau menjadi salah satu dai Salafi yang terkenal di Tunisia, beliau dikenal sering mematahkan argumen orang-orang liberal, sekuler, pluralis, feminis, atheis dan musuh-musuh Islam lainnya.

Beliau juga banyak berbicara tentang kelompok yang mudah mentahzir dan membid'ahkan secara serampangan, karena kelompok-kelompok ini tersebar luas di Tunisia. Sebelum beliau menyimpang, saya termasuk senang mendengar ceramah beliau di Facebook dan Youtube, terlebih lagi beliau mampu berdakwah dan mengajar berbagai fan ilmu tidak hanya dengan Bahasa Arab, tetapi dengan Bahasa Perancis juga.

Tetapi beliau mulai menyimpang karena tekanan dari liberal, sekuler, pluralis, feminis, atheis dan musuh-musuh Islam lainnya, dan saat ini akun Facebook dan Youtube beliau sudah ditutup.

7) Pandangan Ahlussunnah Wal Jama'ah ketika ada seorang ulama atau penuntut ilmu yang berbuat kesalahan atau tergelincir.

8) Bantahan terhadap kaedah yang mereka buat seperti:

1) Siapapun yang terjatuh dalam bid'ah maka otomatis dia menjadi pelaku bid'ah.

2) Siapapun yang memuji siapapun yang mereka anggap pelaku bid'ah maka dia menjadi pelaku bid'ah seperti yang dipuji.

3) Siapapun yang duduk dengan siapapun yang mereka anggap pelaku bid'ah maka dia menjadi pelaku bid'ah juga.

4) Tidak boleh mengucapkan salam kepada orang atau menjawab salam orang yang mereka anggap pelaku bid'ah.

5) Tidak boleh mengunjungi mereka yang dianggap pelaku bid'ah ketika sakit.

6) Tidak boleh memohon ampunan atau memohon rahmat (Tarahum) kepada orang yang mereka anggap pelaku bid'ah meninggal.

7) Wajib memboikot orang yang menyelisihi mereka.

8) Menguji aqidah dan manhaj orang.

9) Mengkotak-kotakan para ulama dan dai.

10) Wasa'il Dakwah itu sifatnya tauqifiyah.

11) Siapapun yang bergabung dalam suatu yayasan atau organisasi maka dia adalah pelaku bid'ah atau hizbi.

12) Siapapun yang tidak bersama kami atau mendukung kami maka dia menentang kami.

Dan masih banyak kaedah yang mereka buat yang sebenarnya menyelisihi syariat.

Inilah sekilas tentang kitab ini dan apa yang beliau paparkan memang nyata dan menjadi bukti bahwa fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi terjadi juga di Timur Tengah khususnya di Mesir dan saya termasuk orang yang pernah terpengaruh pemikiran mereka sehingga menjadi keras bahkan sering terjadi konflik dengan kawan sebaya.

Dan ada beberapa karya beliau yang saya rekomendasikan untuk dibaca seperti "At Tahdzir Minal Ghuluw Fi Tabdi'", "At Tahzir Minal Ghuluw Fi Takfir." dan "Al Ghuluw Fi Din." agar tidak mudah mentahzir, membid'ahkan, mengkafirkan orang yang menyelisihi kita terlebih lagi pada perkara yang masih diperselisihkan dan agar tidak ghuluw (Berlebih-lebihan) dalam agama.

Allahu A'lam
Ustadz naufal 

Aliran² seputar nama dan sifat Tuhan:

Aliran² seputar nama dan sifat Tuhan:

1. Jahmiyah: menolak semua nama dan sifat Allah.
2. Mu'tazilah: menolak semua sifat Allah, dan menetapkan nama² Allah, nmun hnya sebatas nama yg kosong dari sifat. Allah aliim tanpa Ilmu,  Allah Qadir bila Qudrah.
3. Asy'ariyah: menetapkan sebagian sifat namun mentakwil sebagian sifat. 
4. Ahlus sunnah Atsariyah: menetapkan semua nama dan sifat Allah sebagaimana yg terdapat dalam al kitab dan as-sunnah , dan memperlakukannya apa adanya sebagaimana datangnya.
Ustadz Dr fadlan fahamsyah