blog ini berisikan kumpulan faedah faedah ilmu yang sangat bermanfaat kepada diri saya pribadi
Jumat, 08 Juli 2022
PUASA ARAFAH TAHUN INI HARI APA YA?
PUASA ARAFAH TAHUN INI HARI APA YA?
Puasa Arafah itu jatuh di tanggal 9 Zulhijjah, maka puasa kita orang indonesia, di hari sabtu karena itulah tanggal 9 Zulhijjah di negeri kita..
Walaupun wukuf di arafah di hari Jumat-karena 9 Zulhijjah- di sana(Saudi) hari jumat, namun tak sama dengan penaggalan kita, karena perbedaan matla’ qomar (terbit bulan) antara kita dan Saudi.
Sebagaimana waktu sholat kita tak sama dengan Saudi, karena perbedaan perjalanan matahari, dan kadang puasa kita tak sama pula dengan mereka karena perbedaan waktu terbit bulan.
Dari zaman ke zaman kaum muslimin tidak berusaha takallauf (memaksakan diri) untuk mengetahui kapan jamaah haji wukuf di arafah, tetapi mereka kan puasa Arafah di negeri masing-masing bilamana tanggal 9 Zulhijjah datang, mengapa kita di zaman ini harus ikut Saudi pula?
Namun…..
Bagi yang mau puasa ikut Penanggalan Saudi dengan dalih wukuf itu hanya ada di arafah dan hari Arafah tu, jatuh di hari Jum’at …
Silahkan, tidak kami permasalhkan karena ini adalah perkara khilafiyah yang mu’tabar, tak perlu menjadi ajang permusuhan dan perselisihan…
Batam, 7 Zulhijjah 1443/ 7 Juli 2022
Abu Fairuz My
Rabu, 06 Juli 2022
Sebagian mereka berkata
Sebagian mereka berkata
Kalau aku yaa,
Suamiku pulang wajahnya masam ga ku bukain pintu
Kalau Suamiku ngasih duit saudaranya ga ngasih tau aku, kudiemin 3 hari
Kalau aku marah yaa ngambek aja, biarin dia yang minta maaf duluan... kan kalau dia butuh pasti minta maaf
Kalau dia pergi sama temen temennya, pulangnya kamar ku kunci biar tidur luar
Kalau aku dah sebel ga masak ga mau ngapa ngapain biar dia yang masak dan ngurus anak anak hehe akhirnya dia bawa anak anak ke kantor sambil momong anak
Kalau dia terlalu baik sama orangtuanya, aku balik kerumah orangtuaku... akhirnya dia sekarang takluk sama aku
Kalau suamiku mau nikah lagi ku ancam bawa koper pulang "minggat" ke rumah orang tuaku... lalu sebagian berkata "setujuuu dengan tertawa bangga"
Kalau Suamiku ga nurutin mauku ya ga kukasih jatah... (jatah jima’ maksudnya… subhanallah)
Katanya kita mau masuk Surga
Tapi kenapa kita bangga kurang ajar pada Suami kita ??
dr ferihana
Selasa, 05 Juli 2022
Polemik puasa arofah, ikut pemerintah atau tanggal wukuf di arofah?
Polemik puasa arofah, ikut pemerintah atau tanggal wukuf di arofah?
Perselisihan ini sdh ada diantara para ulama dahulu shg bila kita mau adu hujjah dan argumen pun juga bakal saling bawa pendapat imam dan ulama masing2, sekarang yg perlu kita pikirkan adalah solusi dan jalan keluar dari perselisihan ini, krn tentunya kita ingin kebaikan dan mengikuti kebenaran yang berdasarkan alQur'an dan Sunnah:
1. Dua kubu sama2 memiliki dalil yg kuat, sehingga ini msh dlm ranah khilaf fiqh mu'tabar, bukan tafarruq dan perpecahan yg tercela, dan petunjuk dr Allah tatkala kita berselisih adalah : kembalikan kepada Allah dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam (solusi Qur'an dan Sunnah saat berselisih)
فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
2. AlQur'an dan hadits sdh dengan jelas memerintahkan kita agar mengikuti pemerintah dan jamaah kaum muslimin, masih di ayat yg sama dg ayat diatas Allah berfirman
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ
Shg hukum asal nya adalah kita taat kpd Allah, Rasulullah Dan pemerintah kaum muslimin
3. Bukan kah kita tidak boleh ikut pemerintah klo menyelisihi Qur'an dan Sunnah? Yup ana setuju dengan antum bila misal hal tersebut adalah maksiat kpd Allah
Sbg mana dlm hadits
عن عبد الله بن عمر ، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : " السمع والطاعة على المرء المسلم فيما أحب وكره ، ما لم يؤمر بمعصية ، فإذا أمر بمعصية فلا سمع ولا طاعة " .
nah sekarang apakah antm katakan yg tdk puasa arofah sesuai dg wukuf berarti dia melakukan maksiat? Apakah antm anggap bahwa ikut pemerintah adalah kemungkaran pelakunya sbg ahlu bidah? Tentu tidak, krn perselisihan ini adalah pendapat para imam2 dan ulama ahlu sunnah dan msh dlm ranah khilaf fiqh mu'tabar (Selengkapnya bisa dipelajari dlm masalah khilaf tanawwu dan tadhod)
4. Kasus yg mirip spt ini sdh pernah terjadi di jaman para sahabat, yaitu tatkala utsman menyempurnakan shalat di mina 4 rakaat, dan ini jelas2 menyelisihi Rasulullah, abu bakr, dan umar yg hanya shalat 2 rakaat secara Qashar, sahabat ibnu masud pun dengan gigih menyampaikan kpd manusia bahwa hal ini tdk sesuai dg petunjuk nabi, tapi lihat apa yg dilakukan oleh ibnu masud saat di mina, beliau shalat 4 rakaat dg sempurna di belakang utsman, tatkala beliau ditanya mengapa demikian, beliau menjawab "perselisihan adalah keburukan?", yup, menyelisihi pemerintah dan jamaah kaum muslimin adalah keburukan, dan apa yg dilakukan oleh ibnu masud adalah solusi saat terjadi perselisihan
أنَّ عثمانَ رضيَ اللهُ عنهُ صلَّى بمِنى أربعًا فقال عبدُ اللهِ بنُ مسعودٍ مُنكِرًا عليه : صليتُ مع النبيِّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ ركعتَينِ ومع أبِي بكرٍ ركعتَينِ ومع عمرَ ركعتَينِ ومع عثمانَ صدرًا من إمارتِه ثم أتمَّها ثم تفرقَتْ بكم الطرقُ فلوددتُ أنَّ لي من أربعِ ركعاتٍ ركعتَينِ مُتقبَّلتَينِ ثم إنَّ ابنَ مسعودٍ صلَّى أربعًا فقيل له : عِبتَ على عثمانَ ثم صليتَ أربعًا قال : الخلافُ شرٌّ
5. Bukan berarti segala keputusan pemerintah langsung kita ikuti dan kita dukung, tidak demikian, tp yg kita dukung dan taati adalah segala keputusan dan aturan pemerintah selama bukan kemaksiatan kpd Allah dan RasulNya
bila misal hal tsb msh dlm ranah khilaf meskipun "menurut antm tidak sesuai sunnah" maka kita harus taat dan patuh, sekali lagi patokan nya adalah: bukan kemaksiatan
وعن ابن عباس ، رضي الله عنهما ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : " من رأى من أميره شيئا فكرهه فليصبر ; فإنه ليس أحد يفارق الجماعة شبرا فيموت إلا مات ميتة جاهلية " .
Lihat lah dlm hadits ini, Rasulullah menyuruh kita sabar, yg artinya bila kita tdk sependapat dg keputusan pemerintah dan kita tdk suka, maka kita hrs SABAR (selama bkn kemaksiatan)
Klo kita g sabar, takutnya dpt ancaman walau hanya sejengkal, ancaman nya : "mati dlm keadaan jahiliyah"
Silahkan bayangkan sendiri, segimana kadar sejengkal dalam hal ini
Semoga bermanfaat
Ustadz luthfi setiawan
Ini fatwa syaikh utsaimin sesuai dg masalah puasa arofah ini :
وسئل رحمه الله من بعض موظفي سفارة بلاد الحرمين في إحدى الدول : ونحن هنا نعاني بخصوص صيام شهر رمضان المبارك وصيام يوم عرفة ، وقد انقسم الأخوة هناك إلى ثلاثة أقسام :
قسم يقول : نصوم مع المملكة ونفطر مع المملكة .
قسم يقول نصوم مع الدولة التي نحن فيها ونفطر معهم .
قسم يقول : نصوم مع الدولة التي نحن فيها رمضان ، أما يوم عرفة فمع المملكة .
وعليه آمل من فضيلتكم الإجابة الشافية والمفصلة لصيام شهر رمضان المبارك ، ويوم عرفة مع الإشارة إلى أن دولة . . . وطوال الخمس سنوات الماضية لم يحدث وأن وافقت المملكة في الصيام لا في شهر رمضان ولا في يوم عرفة ، حيث إنه يبدأ صيام شهر رمضان . بعد إعلانه في المملكة بيوم أو يومين ، وأحيانا ثلاثة أيام .
فأجاب :
اختلف العلماء رحمهم الله فيما إذا رؤي الهلال في مكان من بلاد المسلمين دون غيره ، هل يلزم جميع المسلمين العمل به ، أم لا يلزم إلا من رأوه ومن وافقهم في المطالع ، أو من رأوه ، ومن كان معهم تحت ولاية واحدة ، على أقوال متعددة ، وفيه خلاف آخر .
والراجح أنه يرجع إلى أهل المعرفة ، فإن اتفقت مطالع الهلال في البلدين صارا كالبلد الواحد ، فإذا رؤي في أحدهما ثبت حكمه في الآخر ، أما إذا اختلفت المطالع فلكل بلد حكم نفسه ، وهذا اختيار شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله تعالى وهو ظاهر الكتاب والسنة ومقتضى القياس :
أما الكتاب فقد قال الله تعالى : ( فمن شهد منكم الشهر فليصمه ومن كان مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر ولتكملوا العدة ولتكبروا الله على ما هداكم ولعلكم تشكرون ) فمفهوم الآية : أن من لم يشهده لم يلزمه الصوم .
وأما السنة فقد قال النبي صلى الله عليه وسلم ( إذا رأيتموه فصوموا ، وإذا رأيتموه فأفطروا ) مفهوم الحديث إذا لم نره لم يلزم الصوم ولا الفطر .
وأما القياس فلأن الإمساك والإفطار يعتبران في كل بلد وحده وما وافقه في المطالع والمغارب ، وهذا محل إجماع ، فترى أهل شرق آسيا يمسكون قبل أهل غربها ويفطرون قبلهم ، لأن الفجر يطلع على أولئك قبل هؤلاء ، وكذلك الشمس تغرب على أولئك قبل هؤلاء ، وإذا كان قد ثبت هذا في الإمساك والإفطار اليومي فليكن كذلك في الصوم والإفطار الشهري ولا فرق .
ولكن إذا كان البلدان تحت حكم واحد وأَمَرَ حاكمُ البلاد بالصوم ، أو الفطر وجب امتثال أمره ؛ لأن المسألة خلافية ، وحكم الحاكم يرفع الخلاف .
وبناء على هذا صوموا وأفطروا كما يصوم ويفطر أهل البلد الذي أنتم فيه سواء وافق بلدكم الأصلي أو خالفه ، وكذلك يوم عرفة اتبعوا البلد الذي أنتم فيه . " [ مجموع الفتاوى 19 ].
Bagi teman² LIPIA atau UIM yang belajar Ushul Fiqh dg kitab Rawdhah al-Nadhir karya Ibnu Quddamah, di antara syuruh yg paling zein adalah kitab ini: Fath al-Waliyy al-Naashir.
Bagi teman² LIPIA atau UIM yang belajar Ushul Fiqh dg kitab Rawdhah al-Nadhir karya Ibnu Quddamah, di antara syuruh yg paling zein adalah kitab ini: Fath al-Waliyy al-Naashir.
Bisa diunduh di sini: https://www.moswarat.com/books_view_2678.html. Faedah dari Dr. Musyaffa ad-Darini, MA
Di posting oleh ustadz fadlan fahamsyah
Minggu, 03 Juli 2022
Ulama Nahwu Menguji Ulama Fiqh
Ulama Nahwu Menguji Ulama Fiqh
Suatu waktu, Al-Kisa’i hendak menunjukkan kepada khalayak ramai akan pentingnya ilmu Nahwu yang ia kaji selama ini. Terlebih kepada Khalifah Harun Ar-Rasyid dan Grand Qadhi waktu itu, Imam Abu Yusuf.
Tibalah waktu ketika Al-Kisa’i memutuskan untuk mendatangi Sang Khalifah di istana.
“Wahai Amirul Mukminin, apakah Anda mengizinkan saya untuk menguji Abu Yusuf perilah masalah fikih?”
Khalifah tentu sangat heran dengan pertanyaan yang barusan didengarnya. Seorang ahli Nahwu berani menanyai atau menguji Grand Qadhi di bidang yang digelutinya, yaitu Fikih.
“Apakah Anda hendak menguji Abu Yusuf dalam bidang Fikih? Ini sesuatu yang aneh bagiku, bidang Anda Nahwu, sedangkan yang Anda ingin uji telah lama menggeluti bidang Fikih. Bahkan Anda pun tahu siapa Abu Yusuf ini. Beliau adalah murid terbaik dari Imam Besar Abu Hanifah. Bagaimana mungkin Anda berani seperti itu?”
“Iya, saya tahu, Tuan. Tidak menjadi masalah.”
(Di riwayat yang lain, Imam Al-Kisa’i punya keyakinan kuat: siapapun yang telah mutabahhir (berpengetahuan mendalam) di bidang Nahwu, maka ia pun akan mampu mengerti dengan sangat baik di bidang Fikih.)
“Kalau begitu, silahkan.”
Dari sinilah terjadi percakapan yang menarik antara Al-Kisa’i dan Abu Yusuf—rahimahumallah.
“Wahai Abu Yusuf, apa yang terjadi jika ada seorang laki-laki yang berkata kepada istrinya:
أنت طالق إن دخلت الدار (menggunakan in).
Dan orang yang lain mengatakan ke istrinya:
أنت طالق أن دخلت الدار (menggunakan an).
Perempuan manakah yang terkena hukum talak/cerai?”
Abu Yusuf menjawab, “Kesemuanya tertalak, baik dengan redaksi an ataupun in.”
“Anda salah, Abu Yusuf.” Abu Yusuf tertegun dengan balasan Al-Kisa’i.
Al-Kisa’i lalu menerangkan, “Istri yang kepadanya diucapkan
أنت طالق أن دخلت (menggunakan an)
inilah yang tertalak, Karena dengan menggunakan redaksi ini, si suami berarti memberikan informasi atas kejadian yang telah lewat. Yaitu kamu tertalak, karena telah masuk rumah. An di sini disebut sebagai An Masdariyyah yang bisa menasabkan fi’il mudhori’. Maka an beserta fi’il yang dimasukinya, baik madhi atau mudhori’ bisa ditakwil menjadi mashdar, dijarkan dengan lam, sehingga menjadi
انت طالق لدخولك الدار (kamu tertalak karena memasuki rumah).
Dialah yang tertalak.”
Ia melanjutkan, “Adapun yang mengucapkan
أنت طالق إن دخلت الدار (menggunakan in)
maka in di sini adalah In Syarthiyyah, dan syarat itu akan jatuh setelah kejadian, berarti perempuannya belum memasuki rumah. Maka belum tertalak.”
Kemudian Imam Al-Kisa’i melanjutkan pertanyaan yang kedua:
“Jika ada seorang bertanya kepadamu,
أنا قاتلٌ غلامَك (dengan tanwin)
dan yang lainnya bertanya,
أنا قاتلُ غلامِك (dengan idhofah)
Manakah yang musti diadili?”
Abu Yusuf dengan tegas menjawab:
“Keduanya diadili, karena membunuh orang yang dilarang untuk dibunuh.”
“Anda salah lagi, Abu Yusuf.”
Abu Yusuf semakin dibuat bingung.
“Bagaimana saya bisa salah, Al-Kisa’i?”
“Yang mengucapkan أنا قاتلُ غلامِك (dengan idhofah), berarti ia memberikan informasi kalau ia melaporkan dirinya telah membunuh seseorang. Dan inilah yang diadili. Tapi yang mengucapkan أنا قاتلٌ (dengan tanwin), ia memiliki makna mustaqbal, masa yang belum terjadi. Seperti yang difirmankan Allah dalam surat Al-Kahfi ولا تقولن لشيء إني فاعلٌ ذلك غدا (Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi). Jadi pembunuhan belum terjadi. Dan ini belum bisa diadili.”
Dari kejadian ini, Abu Yusuf benar-benar mendapatkan pelajaran yang luar biasa mengenai urgensi Ilmu Nahwu. Sejak itu, dia memutuskan diri untuk berguru kepada Imam Al-Kisa’i. Dan dari sini juga, Abu Yusuf mulai sadar, ternyata seseorang tidak akan mampu berfatwa sebelum ia benar-benar mengerti betul seluk-beluk Bahasa Arab, termasuk di dalamnya adalah Ilmu Nahwu.
Kisah ini diceritakan oleh guru kami Syekh Hasan Utsman hafidzahullah Sabtu kemarin saat Dars Kitab At-Tuhfah As-Saniyyah.
#copas
Ustadz fajar al fariz affandi
Terkait Puasa Arafah, kita juga ikut pemerintah. Alasannya:
Terkait Puasa Arafah, kita juga ikut pemerintah. Alasannya:
1. Puasa Arafah tidak selalu terkait dengan tempat wukufnya yaitu padang Arafah di Makkah, akan tetapi ia terkait waktu. Al Kharasyi mengatakan:
ولم يرد بعرفة موضع الوقوف بل أراد به زمنه وهو اليوم التاسع من ذي الحجة
"Bukanlah yang dimaksud dengan Arafah itu tempat wukufnya, tetapi yang dimaksud adalah waktunya, yaitu hari kesembilan Dzulhijjah." [Syarah Al Khalil 6/455]
Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Arafah bukan menunjuk pada tempat tapi pada hari, sebagaimana riwayat dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah bersabda:
إن الله عز وجل أخذ الميثاق من ظهر آدم عليه السلام بنعمان يوم عرفة فأخرج من صلبه كل ذرية ذرأها
"Allah mengambil perjanjian dari punggung Adam di hari Arafah, maka Allah mengeluarkan dari tulang sulbi Adam seluruh anak keturunan Adam.." [HR Ahmad 1/272 dan yang lainnya. Dishahihkan oleh Al Albani]
2. Ada yang mengatakan bahwa khusus ibadah 'Idul Adha mengikuti amir/pemimpin Makkah. Dalil mereka adalah hadist dari Husain bin Al Harits Al Jadali bahwa ia berkata:
أن أمير مكة خطب ثم قال : عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن ننسك للرؤية فإن لم نره وشهد شاهدا عدل نسكنا بشهادتهما
"Pemimpin Makkah pernah berkhutbah, lalu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berpesan kepada kami agar kami berkurban berdasarkan rukyat. Jika kami tidak melihatnya, namun dua orang saksi adil menyaksikannya, maka kami menyembelih berdasarkan persaksian mereka berdua…." [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 2338, dishahihkan oleh Al Albani]
Riwayat ini malah menunjukkan bahwa Amir Makkah tidak mengharuskan penduduk negeri lain mengikutinya, justru ia mengambil informasi dari siapa saja yang melihat hilal walaupun berada di luar Makkah.
Ibnu Taimiyyah mengatakan:
وأيضا فان هلال الحج ما زال المسلمون يتمسكون فيه برؤية الحجاج القادمين وان كان فوق مسافة القصر
"Di samping itu terkait hilal Dzulhijjah, kaum muslimin selalu berpegang pada rukyah para jamaah haji yang datang, walaupun jaraknya melebihi jarak qashar." [Majmu' Fatawa 25/105]
3. Syariat 'Idul Adha (1 Hijriyyah) lebih dahulu daripada syariat wajib Haji (8 Hijriyyah). Bagaimana bisa dikatakan penetapan ibadah terkait 'Idul Adha mengikuti ibadah haji? Tentu kedua ibadah ied tersebut sejak awal didasarkan pada hilal dan tanggal, bukan pada rangkaian kegiatan haji.
4. Mentaati ulil amri dalam masalah ini sama sekali bukan termasuk menjadikan mereka tuhan-tuhan selain Allah, karena bukan termasuk taat dalam maksiat. Justru pemerintah punya hak untuk menetapkan hilal dua hari raya. Al Hasan Al Bashri mengatakan:
م يلون من أمورنا خمسا: الجمعة، والجماعة، والعيد، والثغور، والحدود
"Mereka (pemerintah) mengatur lima urusan kita: Shalat jumat, shalat jamaah, hari raya, jihad, dan hukuman had"
Imam Ash Shabuni mengatakan:
ويرى أصحاب الحديث الجمعة والعيدين وغيرهما من الصلوات خلف كل إمام مسلم براً كان أو فاجراً
"Ashabul Hadits meyakini bahwa shalat jumat, shalat idul adha dan idul fitri, dan shalat-shalat lainnya sah dilakukan di belakang setiap penguasa muslim yang baik maupun yang jahat"
Imam Ibnu Taimiyyah pernah ditanya tentang penduduk sebuah kota dimana sebagian mereka telah melihat hilal Dzulhijjah, tetapi tidak disahkan oleh pemimpin kota tersebut. Apakah mereka berpuasa di hari yang dianggap hari ke sembilan (Arafah) sedangkan sebenarnya menurutnya itu hari kesepuluh?
Beliau menjawab:
نعم. يصومون التاسع في الظاهر المعروف عند الجماعة، وان كان في نفس الأمر يكون عاشراً، ولو قدر ثبوت تلك الرؤية. فإن في السنن عن أبي هريرة - رضي الله عنه - عن النبي - صلى الله عليه وعلى آله وسلم - إنه قال: "صومكم يوم تصومون وفطركم يوم تفطرون واضحاكم يوم تضحون" [أخرجه أبو داود وابن ماجه والترمذي وصححه
Ya, mereka berpuasa di hari yang ke sembilan yang dianggap oleh orang-orang (al-jama'ah), walaupun sebenarnya ia hari ke sepuluh, walaupun ia dengan rukyat, karena di dalam As Sunan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi -shallallahu 'alaihi wasallam- beliau bersabda :
"Berpuasa adalah hari ketika kalian semua berpuasa, Idul Fitri adalah hari ketika kalian semua berbuka, dan Idul Adha adalah hari ketika kalian semua menyembelih."
[Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah serta At Tirmidzi, shahih] [Majmu' Fatawa 25/202]
Semoga tulisan ini memantapkan kita untuk berpuasa Arafah dan juga berhari raya bersama pemerintah dan kaum muslimin.
Ustadz ristiyan ragil
Langganan:
Postingan (Atom)