Rabu, 31 Juli 2019

Perkataan Muawiyah Radhiallahu Anhu tentang suami dan istri

SUAMI YANG BAIK BANYAK NGALAHNYA…

Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata :
Mu'aawiyah (radhiallahu 'anhu) berkata : "Mereka para wanita mengalahkan para suami yang mulia, dan mereka dikuasai oleh para suami yang buruk" (Fathul Baari 9/265)

Sungguh wanita adalah makhluk yang lembut dan sangat butuh dengan kelembutan. Hatinya bisa tertawan dengan kelembutan….bukan dengan kekerasan seorang suami.
Seorang wanita yang bertekuk lutut dihadapan seorang suami karena kerasnya sang suami bukan berarti menunjukan sang suami hebat dan berakhlak mulia…. Karena kalau menundukan dengan kekerasan maka orang jalanan, preman, dan petinjupun mampu melakukannya.

Akan tetapi suami yang bisa menawan hati istrinya dengan kelembutan meskipun sering mengalah dan bersabar dengan sikap-sikap istrinya, itulah suami yang hebat dan mulia…

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik diantara kalian ialah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR.Tirmidzi)

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya” (HR. Ibnu Majah)

Dan bergaullah dengan mereka (isteri) secara baik. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka maka bersabarlah, karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisaa’: 19)

Imam Al-Ghozali rahimahullah berkata ;
"Ketahuilah bukanlah akhlak yang baik terhadap istri dengan (hanya) menahan diri untuk tdk menyakitinya, akan tetapi akhlak yg mulia terhadap istri adalah bersabar terhadap gangguan istri, bijak dalam menghadapi ketidakstabilan dan kemarahan istri, dengan meneladani Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Sungguh istri-istri beliau pernah membantah perkataan beliau, bahkan salah seorang istri beliau menghajr (ngambek dan tdk mengajak bicara) Nabi sehari semalam".(Al-ihyaa 4/720)

Perhatikan gurumu

#Perhatikanlah_Gurumu
#Adakah_tiga_sifat_ini_padanya

Berkata As Syaikh Al Faqih Ibnu Utsaimin rahimahullah :

"Diantara sifat seorang alim yang berhak diambil ilmunya adalah
1. Aqidahnya shahih
2. Tujuannya benar
3. Manhajnya lurus
Karena sebagian ulama aqidahnya shahih dan tujuannya benar tapi manhajnya buruk, membicarakan keburukan ulama (yang lain), membicarakan keburukan para pemimpin dan penguasa".

(-ringkasan- majmu' fatawa 26/157)
Ustadz Alif al qibty

Menjaga waktu

MENJAGA WAKTU

As-Syaikh Prof DR Abdurrozak Al-Badr hafidhohullahu Ta'ala.

Alhamdulillah, was sholaatu was salaamu ala Rosulillah, wa ba'du :

Sesungguhnya waktu bagi manusia yang berwujud umurnya, merupakan pokok dasar bagi kehidupan yang kekal abadi yang membawa kebahagiaan selama nya atau kesengsaraan selamanya, dan waktu tersebut bergerak dengan cepat, siang malam berganti tanpa terasa, menggerogoti umur umur manusia, waktu menjadi berdekatan, hampir hampir masa kita segera menyusul umat zaman dahulu dari Nuh, A'ad, Tsamud dan generasi setelah mereka, yang pada akhirnya semua akan menghadap Allah Ta'ala, dan mereka akan mempertanggungjawabkan amalnya, dan siang malam senantiasa bergulir menanti generasi generasi setelah mereka.

Allah Ta'ala berfirman,

وَهُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ أَرَادَ أَن يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا

" Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur." (Q.S.25 Al Furqon :62)

Sepantasnya bagi setiap muslim agar menjaga waktu mereka, terlebih di bulan ramadan yang penuh berkah ini yang penuh kesucian, agar tidak berlalu waktu dengan begitu saja, akan tetapi hendaknya dapat mengambil pelajaran dan ibroh dari setiap waktunya, betapa banyak berkali kali kita menjumpai bulan ramadan dan berpisah dengan begitu cepat nya, siang malam menjadikan sesuatu yang baru menjadi lusuh, sesuatu yang berjauhan menjadi dekat, menggerus umur, merubah anak kecil menjadi tua beruban, orang yang tua tinggal menjadi kenangan, ini semua mengingatkan kita bahwasanya dunia ini fana tidak kekal dan akan segera berganti dengan kehidupan akhirat yang kekal abadi.

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu berkata,

ارْتَحَلَتْ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً وَارْتَحَلَتْ الْآخِرَةُ مُقْبِلَةً وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ ؛ فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابَ وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلٌ

" Dunia akan segera pergi meninggalkan dan akhirat segera datang mengunjungi, dan dari keduanya terdapat penghuni - penghuninya, maka jadilah kalian para penghuni akhirat, dan jangan menjadi penghuni dunia, ketahuilah bahwasanya sekarang adalah waktu beramal bukan waktu pembalasan, sedangkan kelak adalah waktu pembalasan dan bukan waktu untuk beramal ".

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata,

إِنَّ الدُّنْيَا لَيْسَتْ بِدَارِ قَرَارِكُم ، دَارٌ كَتَبَ اللهُ عَلَيْهَا الْفَنَاءَ ، وَكَتَبَ عَلَى أَهْلِهَا مِنْهَا الظَّعن - أي الارتحال - ، فَكَمْ عَامِر موثق عَمَّا قَلِيلٍ يَخْرَبُ ، وَكَمْ مُقِيمٍ مُغْتَبطٍ عَمَّا قَلِيلٍ يَظْعَن ، فَأَحْسِنُوا رَحِمَكُمُ اللهُ مِنْهَا الرِّحْلَةَ بَأَحْسَنِ مَا بِحَضْرَتِكُمْ مِنَ النُّقْلَةِ ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

" Sesungguhnya dunia bukanlah tempat tinggal kalian yang kekal, akan tetapi dunia hanyalah sesuatu yang akan fana dan telah dituliskan bagi penghuninya untuk segera berpindah, betapa banyak yang tadinya kokoh berubah menjadi hancur, betapa banyak yang bertempat tinggal kemudian pergi, maka perjalanan kehidupan ini hendaknya ditempuh dengan sebaik-baik nya dan berbekallah, karena sebaik-baik bekal adalah dengan ketakwaan  ".

Sesungguhnya manusia  senantiasa akan berkurang umurnya, semenjak ia dilahirkan dari perut ibunya, sebagaimana dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basry rahimahullah,

أيام مجموعة ؛ فكلما ذهب يوم ذهب بعض الإنسان وجزء منه، اليوم منه يهدم الشهر، والشهر يهدم السنة، والسنة تهدم العمر، وكل ساعة تمضي من العبد فهي مُدْنِيَةٌ له من الأجل

" Hari hari yang terkumpul, tatkala berjalan waktu siang dan malam maka semakin berkurang umur manusia, hari demi hari akan mengurangi jangka satu bulan, bulan demi bulan akan mengurangi kurun waktu satu tahun, satu tahun demi tahun akan mengurangi umur manusia, dan setiap sesaat waktu terlewatkan akan mendekatkan manusia kepada kematian  " .

Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu anhu berkata,

" ما ندمتُ على شيء ندمي على يوم غربت شمسه نقص فيه أجلي ولم يزدد فيه عملي "

" Tiada yang lebih aku sesali terhadap sesuatu yang melebihi dari penyesalanku kepada terbenamnya matahari yang semakin mendekatkan kepada kematian sedangkan amalan ku tidak bertambah ".

Al-Hasan Al-Basry rahimahullah berkata,

"أدركت أقواماً كانوا على أوقاتهم أشد منكم حرصاً على دراهمكم ودنانيركم " .
" Aku menjumpai suatu kaum ( para sahabat radhiyallahu anhum ) yang mereka sangat menjaga waktu waktu mereka melebihi penjagaan kalian terhadap uang dinar dan dirham kalian ".

Dengan demikian, barangsiapa yang menghabiskan waktu luang nya untuk sesuatu yang tidak bermanfaat dan sia-sia, tidak untuk menunaikan kewajiban yang dibebankan kepada dirinya, atau perbuatan mulia yang ia tunaikan, atau kedermawanan yang ia tebarkan, atau ilmu yang ia raih, atau kebajikan yang ia lakukan, sungguh ia telah berbuat aniaya untuk dirinya dan waktunya.

Sesungguhnya siang dan malam merupakan modal utama bagi manusia, jika ia beruntung maka mendapatkan surga dan jika merugi mendapatkan neraka, kehidupan satu tahun ibarat suatu pohon, satu bulan ibarat dahan dan satu hari ibarat ranting nya dan jam jam yang berputar ibarat daun nya dan tarikan tarikan nafas merupakan hasil dan buahnya, dan jika hembusan nafas nya berupa suatu ketaatan maka buah dari pohon tersebut adalah buah yang baik dan barokah, dan sebaliknya jika hembusan nafas nya dipenuhi maksiat maka dapat diketahui buah nya buruk dan pahit.

Telah banyak dalil yang menunjukkan tentang pejalan pentingnya menjaga waktu dan tahdzir serta ancaman bagi mereka yang melewatkan waktu-waktu untuk keburukan.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هِرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

" Gunakan lima kesempatan sebelum berganti dengan lima lainnya, masa mudamu sebelum datang masa tua mu, masa sehatmu sebelum berganti masa sakitmu, masa kaya mu, sebelum datangnya masa fakir mu, masa longgar mu sebelum datang masa sibuk mu, masa hidup mu sebelum datang kematian mu ".

Dari sahabat Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ ، وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ

" Tidaklah akan bergerak kaki setiap anak cucu Adam pada hari kiamat dihadapan Allah Ta'ala hingga ditanyakan tentang lima perkara, tentang umur nya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya, dari mana ia dapatkan dan untuk apa digunakan, dan tentang ilmunya sejauh mana ia amalkan ".

Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

" Dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu dengan nya, yaitu masa sehat dan waktu luang ".

Para ahli ilmu berkata, " Jika masa sehat dan waktu luang digunakan untuk berbuat ketaatan, maka sungguh ia beruntung, dan jika digunakan untuk kemaksiyatan, maka sungguh ia tertipu dan merugi, karena waktu longgar akan berubah menjadi sibuk dan masa sehat akan berganti dengan sakit ".

Sebagian salaf berkata, " Alamat kemurkaan dan kesengsaraan adalah tidak memanfaatkan waktu ".

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, " menelantarkan waktu lebih buruk dari datang nya kematian, dikarenakan menelantarkan waktu hakikat nya adalah memutuskan hubungan antara dirinya dengan Allah Ta'ala dan negri akhirat, sedangkan kematian hanyalah memisahkan dirinya dengan dunia dan penghuninya ".

والواجب على المسلم أن لا يغتر بالدنيا فإنَّ صحيحها يسقم , وجديدها يبلى , ونعيمها يفنى , وشبابها يهرم ، وهو فيها في سيْرٍ إلى الدار الآخرة ؛ لأن الآجال منقوصة , والأعمال محفوظة والموت يأتي بغتة , فمن زرع خيراً فيوشك أن يحصد ثوابه وأجره , ومن زرع شراً فيوشك أن يحصد ندامةً وحسرة , ولكل زارعٍ ما زرع .

Kewajiban bagi setiap muslim hendaknya ia tidak tertipu dengan kehidupan dunia, dikarenakan orang yang sehat akan segera berubah menjadi sakit, sesuatu yang baru akan berubah menjadi hancur, kenikmatan-kenikmatannya akan fana, orang-orang yang muda segera berubah menjadi tua, dan segera menuju perjalanan akhirat, umur senantiasa berkurang, sedangkan amalan akan tercatat tidak terkurangi, sedangkan kematian menjemput secara mendadak, maka barangsiapa yang menanam kebajikan pasti ia akan memetik hasilnya dan pahala nya, dan barangsiapa yang menanam keburukan pasti akan mendapatkan hasilnya yaitu penyesalan dan kerugian, dan setiap orang yang menanam akan mendapatkan apa yang ia tanam .

Proses pekerjaan yg sempurna dan tidak terburu buru

PROSES

Rasulullah ‎ﷺ‎  bersabda :
إن الله يحب إذا عمل أحدكم عملا أن يتقنه

"sesungguhnya Allah mencintai jika seorang dari kalian mengerjakan suatu pekerjaan, lalu dia memantapkannya" HR Thobroni.

Allah mencintai sebuah pekerjaan yang teliti, rapi, bagus, dan profesional.

Rasulullah ‎ﷺ‎  tidak buru-buru dalam berdakwah dan bahkan di tegur oleh Allah dalam surat Abasa.

Rasulullah ‎ﷺ‎  di tegur oleh Allah ketika beliau ingin segera menghafalkan Al Qur'an sebelum selesai dibacakan oleh malaikat Jibril, sebagaimana dalam surat Al Qiyamah.

Amr bin Al Ash' berkata: senantiasa orang yang tergesa-gesa akan menuai penyesalan.

Diriwayatkan dalam hadis yang dinyatakan lemah oleh sebagian ulama, bahwa :

"ketelitian datangnya dari Allah dan ketergesa-gesaan datangnya dari Syaithon" HR Tirmidzi.

Al Imam Malik bin Anas menulis kitab Al Muwattha selama 40 tahun dan beliau revisi setiap tahunnya.

Berkata Al Qadhi 'Iyadh:

Berkata Shofwan bin Umar bin Abdul Wahid: kami mempelajari kitab Al Muwattha' dari Imam Malik selama 40 hari, lantas beliau berkata: "kitab ini aku tulis selama 40 tahun dan kalian pelajari hanya dalam 40 hari, alangkah sedikit pemahaman yang kalian dapatkan darinya" Muqaddimah Al Muwattha' Tahqiq Al A'dzami.

Ibnu Abdil Barr, Hafidz nya Andalus menulis Syarah Al Muwattha' yang beliau namakan "At Tamhid" selama kurang lebih 30 tahun.

Al Imam As Syafii yang merupakan  keturunan Quraish belajar bahasa Arab selama 20 tahun, sebagaimana di ceritakan  oleh cucu beliau dan di nukilkan oleh Al Fakhr Ar Razi dalam manaqib beliau hal 145.

Al Imam Ahmad menghabiskan seumur hidup beliau untuk menulis kitab Al Musnad.

Al Imam Al Bukhari menulis kitab Shahih beliau dalam waktu 18 tahun.

Al Imam Ibnu Hajar menulis Fathul Bari dalam 25 tahun dan menulis muqaddimah nya (Al Hadyu as Saari) selama 8 tahun. (faidah dari Syekh Hamid Akram.)

Dan semua kitab ulama yang sampai kepada kita telah melalui proses kematangan dan penelitian sedemikian rupa hingga dapat kita nikmati.

Tentunya semua itu datang setelah ikhlas kepada Allah dan pertolongan - Nya.

Berdasarkan fakta sejarah tersebut, mari kita profesional dan teliti dalam semua pekerjaan kita.

Semoga Allah terima amal ibadah kita dan menjadikan nya langgeng bermanfaat bagi kita dan kaum muslimin hingga waktu yang Allah kehendaki.

Wallahu a'lam.

Achmad Handika
Alumnus syariah lipia

Taqrib Al baiquniyah 15 seputar syarat-syarat pengamalan hadist dhaif

📚 Taqrib Al-Baiquniyah (15) 📚

👉🏻 "Seputar Syarat-Syarat Pengamalan Hadis Dha'if"

✍🏻 Secara umum, para Ahli Hadis mutaqaddimin dan mutakhirin hampir seluruhnya menyatakan bahwa Hadis Dha'if tidak bisa diamalkan dalam persoalan Akidah dan Halal Haram. Mereka hanya berbeda pendapat terkait pengamalannya dalam persoalan Fadilah Amal atau Targib dan Tarhib. Di antara mereka ada yang melarangnya secara mutlak, dan di antara mereka ada yang membolehkannya dengan syarat-syarat yang super ketat.

✍🏻 Tentunya pandangan yang menyatakan bahwa Hadis Dha'if tertolak dalam seluruh bidang agama termasuk Fadilah Amal adalah pandangan yang sangat hati-hati, karena Hadis Dha'if itu adalah prasangka yang kurang kuat (Dzhann Marjuuh), sehingga tidak bisa dinisbahkan kepada Nabi shallallahu'alaihi wasallam secara tegas, tapi disebutkan harus dengan isyarat bahwa hadis itu dha'if. Pandangan ini dinisbahkan kepada banyak imam ahli hadis seperti Ibnu Ma'in, Bukhari, Abu Hatim, Abu Zur'ah dan Muslim.

✍🏻 Adapun pendapat banyak para ulama bahwa Hadis Dha'if bisa diamalkan dalam persoalan Fadilah Amal, maka tidak bisa disalahkan juga sepenuhnya, bila syarat-syarat yang mereka tetapkan dipenuhi secara baik dan tepat. Pandangan ini dinisbahkan kepada beberapa ulama seperti Imam Ats-Tsauri, Ahmad, dan kebanyakan ulama mutakhirin.

✍🏻 Nah, syarat-syarat pengamalan Hadis Dha'if dalam Fadilah Amal yang disebutkan oleh para ulama yang berpandangan demikian adalah: 

⚡1- Hadis itu kadar daifnya tidak parah (bukan Dha'if Jiddan). Artinya kadar daifnya cuma ringan. Adapun kalau sudah "dha'if jiddan", atau "syadz/munkar", atau "matruk"; maka tidak bisa diterima. Dalam Al-Qaul Al-Badi' (255), As-Sakhawiy menukil dari Al-'Alaa`iy bahwa para ulama yang mengamalkan Hadis Dhaif dalam Fadilah Amal sepakat menetapkan syarat pertama ini.

⚡2- Tidak meyakini 100% akan kebenarannya. Tapi, cukup meyakini hal itu sebagai fadilah yang bisa benar dan bisa tidak benar, agar tidak menisbahkan pada Nabi shallallahu'alaihi wasallam suatu hadis yang sangat diragukan kebenarannya bersumber dari beliau. Hanya saja ia diambil sebagai ihtiyath atau sebagai harapan agar bisa mendapatkannya bila ia fadilah (Targib), dan terjauhkan darinya bila ia ancaman (Tarhib).

⚡3- Fadilah yang ada dalam hadis itu adalah sebuah fadilah untuk amalan yang sudah ditunjukkan dalil umum. Bukan untuk amalan yang tidak ada dalilnya. Ini ditegaskan oleh banyak ulama termasuk As-Sakhawiy dalam Al-Qaul Al-Badi' (255) dan As-Suyuthiy dalam At-Tadrib (1/351).

⚡4- Karena ia adalah Hadis Dha'if, maka ketika kita menyampaikannya kepada orang lain, kita harus menjelaskan bahwa ia Hadis Dha'if, serta dengan nukilan yang tidak secara tegas menisbahkannya pada Nabi shallallahu'alaihi wasallam. Tapi, cukup dikatakan "disebutkan dalam hadis begini dan begini" atau "diriwayatkan dari Nabi bahwa beliau bersabda begini dan begini." Ini tentunya bertujuan agar Hadis Dha'if ini tidak dianggap sebagai Hadis Shahih, apalagi kalau yang menyampaikannya ulama, ustaz atau kyai. (Dari Syuruh Al-Baiquniyyah dan berbagai sumber)

✍🏻 Dengan syarat-syarat ketat ini, hendaknya seseorang tidak sembarangan menyebarkan dan mengamalkan Hadis Dha'if  dalam Fadilah Amal kecuali setelah yakin syarat-syarat tersebut di atas telah dipenuhi. Juga, tidak boleh mentaklid para ulama yang bermudah-mudahan dalam menyebarkan Hadis Dha'if Jiddan, Munkar atau Palsu dalam Fadilah Amal ini, seperti yang banyak terdapat dalam Kitab Ihya' Ulumuddin dan Kitab Fadhail-A'mal. Tapi, sebelum menyebarkannya hendaknya memperhatikan syarat-syarat di atas.

✍🏻 Kehati-hatian untuk tidak menerima Hadis Dha'if dalam Fadilah Amal, atau menyebutkannya dengan menjelaskan kedaifannya adalah sebuah tuntutan dan kehati-hatian, karena betapa banyak sikap bermudah-mudahan mengamalkan Hadis Dha'if dalam Fadilah Amal ini membuka pintu lebar-lebar penyebaran hadis palsu atau Maudhu' dan Hadis Munkar.  Allaahu a'lam.

🌹Semoga bermanfaat!

🖌 Chanel "Fawaid Ilmu Hadis"

[ https://t.me/maulanaeda ]

Sabar tanpa batas

SABAR ITU TANPA BATAS

Banyak beranggapan kesabaran ada batasnya, sesungguhnya ucapan ini adalah ucapan yang tidak benar. Semakin sesorang bersabar maka pahalanya akan dibalas tanpa batas dan memperoleh keutamaan-keutamaan sabar lainnya.
Engkau juga akan mendapatkan bahwa Allah memuji orang-orang yang sabar dan menyanjung mereka. Firman-Nya.

وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

“Dan, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”. [Al-Baqarah : 177]

Engkau juga akan tahu bahwa orang yang sabar adalah orang-orang yang dicintai Allah, sebagaimana firman-Nya.

وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Dan, Allah mencintai orang-orang yang sabar”. [Ali Imran : 146]

Engkau juga akan mendapatkan bahwa Allah memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan balasan yang lebih baik daripada amalnya dan melipat gandakannya tanpa terhitung. Firman-Nya.

وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan, sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan”. [An-Nahl : 96]

نَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. [Az-Zumar : 10]

Murjiah vs khawarij

[MURJIAH VS KHAWARIJ]

Banyak para Salaf menyatakan bahwa bid'ah murji'ah lebih berbahaya akibatnya daripada Bid'ah khawarij seperti Imam An Nakha'i dan yang lain-lain...
Beliau menyatakan:
الخوارج اعذر عندي من المرجئة
"Khawarij lebih ringan bagiku dari murji'ah."

Beliau juga menyatakan:
لفتنة المرحئة على هذه الأمة أخوف عندي من فتنة الأزارقة
"Sungguh fitnah murji'ah terhadap umat ini lebih aku khawatirkan dari pada fitnah Azariqoh (khawarij)."

Mereka adalah orang-orang yang beragamanya hanya mengikuti selera penguasa.

Al Ma'mun pernah bertanya kepada An Nadr bin Syumail:
ما الإرجاء؟ فقلت: دين يوافق الملوك يصيبون به من دنياهم وينقصون به من دينهم. قال: صدقت.

Tahukah Engkau Apa itu murji'ah? Maka aku (An Nadr bin Syumail) menjawab: agama yang hanya mencocoki selera penguasa yang tujuannya hanya untuk meraih dunia mereka dan mengesampingkan perkara agama mereka Maka Al Ma'mun berkata engkau benar.

Selanjutnya silahkan baca kitab Al Khurasaniyah👇

Ustadz abu ya'la Hizbul Madjid