[ Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan oleh Imam Tarawih ]
(Catatan ringan untuk para imam muda yang semangat ingin mengkhatamkan al quran dalam sholat)
Tulisan ini saya sampaikan kembali di Ramadan ini sebagai pengingat, khususnya bagi para imam tarawih muda dan para penghafal Al-Qur’an pemula yang hafalannya sudah lancar, tetapi mungkin belum sepenuhnya mendalami makna ayat-ayat yang dibaca.
Fenomena yang cukup sering terjadi adalah ketika jadi Imam tarawih adanya penetapan dari DKM atau pengurus masjid target bacaan setiap malam satu juz, setengah juz, target tentu baik. Namun bagaimana melaksanakannya?
Terkadang yang dikejar adalah “selesai 1 atau 1/2 juz”, bukan “selesai tema”. Akhirnya yang penting pindah halaman, atau dapat 1 juz bukan pindah pembahasan. 😄
Seorang imam seyogianya memulai bacaan dari awal surah atau dari awal satu rangkaian tema yang utuh dalam Al-Qur’an, serta tidak menghentikan bacaan kecuali pada akhir tema tersebut. Karena tidak semua awal juz atau hizb menandakan awal pembahasan yang berdiri sendiri.
Bahkan Imam An Nawawi mengatakan dalam At Tibyan: Membaca suroh pendek sampai tuntas lebih baik dari pada membaca suroh panjang tapi tidak tuntas.
Kalau sekadar patokan halaman, bisa jadi makmumnya yang paham bahasa arab dan tafsir bingung dalam hati, “Ini ayat sedang bicara apa, kok langsung nyemplung ke tengah pembahasan?” 😅
Al-Imam Imam An-Nawawi dalam kitabnya At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur'an membuat pembahasan khusus tentang pentingnya memperhatikan makna ayat ketika memulai dan menghentikan bacaan Al-Qur’an. Beliau memberikan sejumlah contoh awal juz yang tidak tepat dijadikan titik awal bacaan karena masih berkaitan erat dengan ayat sebelumnya, di antaranya:
Awal Juz 5: وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ
Awal Juz 13: وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي
Awal Juz 20: فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ
Awal Juz 22: وَمَن يَقْنُتْ مِنكُنَّ لِلَّهِ
Awal Juz 23: وَمَا أَنزَلْنَا عَلَىٰ قَوْمِهِ
Awal Juz 25: إِلَيْهِ يُرَدُّ عِلْمُ السَّاعَةِ
Demikian pula pada beberapa awal hizb, seperti:
Awal Hizb 4: وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ
Awal Hizb 6: قُلْ أَؤُنَبِّئُكُم بِخَيْرٍ مِّن ذَٰلِكُمْ
Ayat-ayat tersebut secara struktur bahasa dan makna masih sangat terikat dengan ayat sebelumnya. Maka kurang tepat jika dijadikan permulaan bacaan, walaupun secara teknis sudah terpisah juz atau hizb.
Karena itu, para imam tarawih hendaknya tidak menjadikan pembagian juz, hizb, atau halaman mushaf semata sebagai patokan teknis. Jangan sampai kita lebih fokus pada “kejar target” daripada “kejar makna”.
Shalat tarawih bukan lomba estafet halaman mushaf, bukan juga adu gengsi siapa yang paling banyak bisa ‘murojaah hafalan’ dalam sholat.
Ia adalah ibadah yang menghadirkan Kalamullah dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab untuk ditadabburi maknanya agar menjadi obat bagi hati dan jiwa yang kering, serta petunjuk ke jalan yang lurus.
Lebih dari itu, para imam sholat dari kalangan penghafal Al-Qur’an seyogianya berusaha memahami ayat-ayat yang mereka baca, mempelajari ‘Ulumul Qur’an dan cabang-cabang ilmunya, serta mendalami tafsir dan kandungan maknanya. Agar Al-Qur’an benar-benar menjadi petunjuk dan penyejuk hati bukan sekadar hafalan yang dilantunkan, tetapi tidak direnungkan.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk ahlul Qur’an yang tidak hanya fasih lisannya, tetapi juga hidup hatinya bersama makna ayat-ayat-Nya.
✍️ Ayahnya Muallim
( Mahasiswa S3 Pascasarjana Universitas PTIQ Jakarta, Jurusan Ilmu Al Quran dan Tafsir )